Bagaimana Proses Suatu Pengetahuan hingga Menjadi Perilaku?

0
180
(Foto: John Martono dari https://artspace.id/)

Secara singkat, proses pembentukan sebuah pengetahuan atau penyerapan informasi diawali dengan “stimulus-persepsi”. Apa saja yang ada di sekitar manusia, akan dimasukkan sebagai input lewat berbagai indra, kemudian mengalami proses sortir oleh atensi (fokus/perhatian) dan dikode untuk disimpan. Data yang tersimpan ini juga disebut ‘skema kognitif’ oleh psikolog kognitif.

Proses yang berlangsung tadi juga dapat disebut proses bottom up, karena mengandalkan input dari indera (bottom) dan dibawa ke otak (up). Selain bottom up, ada yang namanya proses top down. Ini semacam modifikasi skema kognitif, bisa karena adanya informasi baru yang tidak sesuai dengan data awal atau karena data-data yang tersimpan menjalin koneksi sehingga menghasilkan informasi baru.

Sebagai contoh, ketika kita menghadapi soal pengayaan matematika yang sebelumnya belum pernah diajarkan, kita berusaha mengkombinasikan berbagai rumus dasar yang telah diketahui kemudian mencoba dan menerapkannya. Ternyata berhasil! Maka kita memperoleh pengetahuan baru dari hasil pengolahan pengetahuan-pengetahuan lama.

Menurut ilmuwan-ilmuwan psikologi, belajar, proses pembentukan pengetahuan adalah proses input potensi perubahan. Mengapa disebut potensi perubahan? Karena individu dapat memilih untuk menggunakan pengetahuannya atau tidak.  Pengetahuan yang tersedia semacam berfungsi mengisi berlusin-lusin persamaan:

Jika situasinya , maka saya .

Misalnya dengan proses bottom up, individu memiliki potensi untuk berperilaku A. Dengan mengamati atau melihat  bagaimana orangtua menyendokkan  makanan,  seorang batita  tahu bahwa cara makan adalah dengan memakai sendok.

Namun pengetahuan ini dapat ia jadikan perilaku atau tidak dipengaruhi  berbagai faktor. Misalnya perkembangan. Ketika bayi belum mampu menggenggam dan mengarahkan sendok dengan benar, maka ia akan lebih mungkin tetap memakai tangannya untuk memasukkan makanan ke mulut, alih-alih memakai sendok yang disediakan.

Seiring bertambahnya pengalaman makan, batita yang sudah menjadi anak-anak bisa saja kemudian menyadari bahwa bagian pangkal sendok ternyata bisa dipakai mencongkel tutup kaleng susu dll (bottom up). Jadi, perilaku batita terhadap sendok kini beragam.

Bagaimana bisa orang punya pengetahuan tapi tidak berperilaku sesuai pengetahuan tersebut?

Pada kisah kedua  seperti ini, ilmuwan psikologi kognitif menyebutnya disonansi kognitif. Sebelumnya, kita sudah sempat mengenali bahwa pengetahuan atau proses belajar menghasilkan potensi perubahan, bisa dipakai, bisa tidak. Disonansi kognitif merujuk pada situasi yang lebih mengherankan, “Bagaimana bisa seseorang yang membaca peringatan mengenai bahaya rokok tetap merokok?”.

Para ilmuwan kognitif memandang situasi ini disebabkan hubungan antara sikap dan perilaku yang tidak selalu linier. Pengetahuan dalam pemrosesan yang lebih lanjut akan tercampur dengan kesan, emosi, bias dll, sehingga membentuk sikap positif atau negatif terhadap suatu obyek. Namun, apakah ini otomotis menghasilkan perilaku yang sejalan dengan sikap? Tidak.

Meneruskan contoh sebelumnya, seseorang telah diedukasi tentang dampak negatif dari merokok. Pengetahuan dan sikap negatif terhadap rokok telah berhasil dibentuk. Namun ternyata ia masih merokok. Mengapa?

Banyak faktor. Bisa jadi memori pengalaman positif yang ia rasakan selama merokok membuat ia ingin tetap merokok. Bisa juga karena tubuhnya merasakan sensasi yang sulit ia abaikan ketika berhenti merokok. Bisa juga karena situasi sosial: jika saya ingin luwes bergaul dengan teman, maka saya harus merokok.

Di tahap ini, orang tersebut akan merasa bersalah karena terjadi ketidak-singkronan antara sikap dan perilakunya. Lalu apa yang terjadi? Rasa bersalah ini menimbulkan ketidaknyamanan yang membuat sikap dan perilaku harus berhadapan dan bertanding. Menurut para ahli, harus ada yang dimodifikasi agar disonansi (yang menimbulkan ketidaknyamanan) berakhir. Dalam cerita ini, maka pilihannya dua, sikap negatif yang berubah positif menyesuaikan perilaku, atau perilaku positif yang berubah negatif menyesuaikan sikap.(ard)

 

Malang, 20 Maret 2019

Ardana

LEAVE A REPLY