Transformasi Reruntuhan

Bukan tanpa maksud sebuah pohon meranggas kemudian roboh dan MATI. Tiada hal abadi, kematian adalah ketika tak lagi mampu berfungsi sebagaimana mestinya, untuk selamanya. Kematian merupakan jalan peniadaan, cara baku menuju tahap yang lebih menjanjikan. Begitulah kiranya, perumpamaan yang paling menyamai tiadanya Obor Ilahi. Secara tidak langsung, ketiadaan itu menyulut sebuah ide dan mimpi baru. Ide yang didasarkan pada rindu akan kebersamaan yang pernah hilang. Mimpi untuk membentuk organisme baru bernama ReLegi, inilah yang kemudian disebut transformasi. Entah Obor Ilahi ataupun ReLegi, keduanya sama-sama mengisi Maiyah. Melingkar mengupayakan kebersamaan segitiga cinta, dan lingkaran itu akan terus memutar, tidak akan putus. Titik perbedaan di antara keduanya adalah Obor Ilahi merupakan cikal bakal ReLegi. ReLegi adalah Obor Ilahi yang baru. Keduanya adalah tubuh yang sama namun memiliki keunikan masing-masing.

Zaman itu dinamis, dan membutuhkan jawaban-jawaban yang tidak statis. Pada masanya, Obor Ilahi pernah menikmati jadi simpul penuh cahaya dengan jamaah yang termashyur, (katanya) kini seolah padam. Kelompok-kelompok sholawat Malang Raya melengkapi perjalanan kebesaran Obor Ilahi, yang sekarang (katanya) sudah tinggal puing-puingnya. Padahal fase ‘runtuh’ dan ‘mati’ yang dialami Obor Ilahi mewakili suatu kondisi alamiah, pasif dan memang harus demikian. Orang bilang memang sudah saatnya, tiba waktunya. Penyesalan dan kesedihan yang sering menyertai keadaan sesudahnya, terkadang memang agak berkepanjangan, dramatis. Proses redupnya Obor Ilahi menjadi sebuah tanya, bagi siapa saja yang sempat mengenal cahanya. Akankah berakhir pada sebuah ke-vakuman simpul-simpul di Malang? Atau malah memicu sesuatu baru yang berkelanjutan?

Seolah tidak boleh berhenti untuk menggali hikmah di tengah persoalan tentang kematian. Persis sama seperti dawuh dari si Mbah Nun, “Anda boleh miskin, anda boleh hina, anda boleh terabaikan bahkan anda boleh jomblo. Tetapi anda sama sekali tak boleh kehilangan nilai diri (sesuatu di atas harga diri). Ketika anda jatuh miskin dan bodoh, maka yang diucapkan adalah aku sengaja memiskinkan dan membodohkan diri, karena sesungguhnya kemuliaan itu TIDAK terletak pada perlombaan memunculkan diri melainkan pada keberanian menghilangkan diri atau ke-aku-an.” ungkap beliau meyakinkan. “Dan penghalang terbesar yang menutupi manusia dengan Tuhannya adalah dirinya sendiri. Maka siapapun yang bisa menghilangkan ke-aku-annya, ia akan mampu mengenali dan menemukan AKU yang Sejati,” begitu ungkapan santai yang agak serius dari Mas Noe  pada suatu ketika, melengkapi hikmah tentang kematian.

Manusia selalu punya hak untuk bisa membangun “rasa” mampu meruntuhkan, mematikan ataupun menghancurkan. Pada batas-batas tertentu, rasa itu menjadi sebuah kebanggaan diri yang bertransformasi menjadi energi besar untuk menjalani fase kehidupan selanjutnya. (Meski kebanggaan berbatas tipis dengan kesombongan).

Bergerak dalam Senyap

Perjalanan menghilangkan ke-aku-an untuk menuju yang sejati dari Obor Ilahi menuju ReLegi, dapat dianalogikan sebagaimana siklus pohon yang harus mengalami kematian untuk menumbuhkan kehidupan baru. Organisme baru berupa pohon-pohon kecil lain. Sebuah pohon sejati akan senantiasa mematikan dirinya sendiri untuk menghidupkan bibit-bibit pohon baru. Sebuah ritual yang dilakukan demi keberlangsungan masa depan. Paling tidak, si pohon mematikan diri dari bentuk kasarnya atau fisis menjadi unsur demi keberlangsungan hidup sekitarnya.

Keberadaan pohon yang meniadakan diri itu seolah bereinkarnasi menjadi bentuk baru. Entah dengan menjadi humus atau tanah yang bisa diserap oleh naluri kebutuhan sekitar. Yakni, menyatu dengan senyawa yang lebih ringan massa dan kandungannya. kemudian secara sadar membantu pohon-pohon muda tumbuh menantang dunia. Bahkan energi dan inspirasi dari pohon tua itu mengawal pohon muda tak hanya pada fase tumbuh.  Tetapi juga membersamai hingga fase berkembang, berbuah bahkan sampai tahapan berbiji kelak. Dan demikianlah pohon menerjemahkan kearifan. Si pohon sejatinya tak pernah runtuh, akan tetapi bunuh diri meruntuhkan ke-aku-annya demi mengejar kemuliaan sejati. Tatkala harga diri mulai menjadi penghalang, maka itulah saatnya bunuh diri.

Titik Penjelmaan Garuda

Tidak hanya kisah pohon, meruntuhkan diri untuk bertransformasi menapaki kelanjutan fase hidupnya juga dapat berbentuk apapaun, termasuk ReLegi. Cara hidup Rajawali juga memiliki proses yang sama. Sang burung raksasa ini, konon tahu bagaimana merubah dirinya menjadi Rajawali Sejati. Tatkala sang Rajawali mendekati usia 40 tahun, ia tidak lagi berburu mangsa, ia tidak lagi memenuhi selera perutnya, ia tidak lagi berkumpul dengan kelompoknya untuk bersama-sama berburu mangsa dan hidup berdampingan, justru yang ia lakukan adalah terbang setinggi-tingginya mencari puncak gunung yang hanya terdiri dari bebatuan cadas. Sejurus kemudian ia akan mematuki batu-batuan cadas hingga hancur paruhnya, kemudian ia cengkeram kuat-kuat bebatuan cadas itu hingga remuk cakarnya. Ya, dengan kesadaran yang amat tinggi, bukan dalam keadaan mabuk ataupun trans. Sang Rajawali dengan sengaja menghancur remukkan senjatanya, kebanggaannya, simbol karakter kegagahannya hingga tak mampu sekadar mencari makan apalagi mempertahankan diri dari serangan musuh.

Kini yang ia punya saat ini hanyalah ketahanan, yakni ketahanan. Daya tahan untuk menahan derita sakit luar biasa dari hancur remuk paruh dan cakarnya. Maka, yang bisa ia lakukan selanjutnya hanyalah berdiam diri di dalam goa di atas gunung dalam keadaan perut yang benar-benar kosong. Di dalam goa ia berlindung dari panas dan hujan, berkawan sabar sampai batas waktu tertentu. Dan ia akan tetap seperti itu hingga tumbuhnya paruh dan cakar baru. Manakala cakar dan paruh baru telah tumbuh dan berkembang dengan baik, maka itu saatnya ia turun gunung. Tiba saatnya, ia telah benar-benar menjadi raja para burung, Rajawali sejati, GARUDA yang sebenarnya. Dan itulah saatnya menjalani hidup sesungguhnya untuk kurun waktu 30-40 tahun kedua. Maka, mengikuti perilaku Sang Rajawali yang bertapa di atas gunung tanpa berbekal apapun bahkan seolah bunuh diri, tetapi itulah syarat utama untuk menjadi Garuda sejati.

Mengilhami proses perubahan Rajawali di tahun 40 an, memiliki kesamaan dengan diangkatnya nabi Muhammad S.A.W menjadi Rasul. Sudut pandang psikologis mengamini bahwa pada usia 40 tahun tidak akan ada lagi perubahan karakter. Selain itu, rentang usia 40-an tahun, secara psikologis manusia telah mencapai eksistensi dirinya atau dengan kata lain telah selesai dengan urusan kehidupannya. Maka sudah saatnya mencari pemaknaan lain dari perjalanan hidup, makna tentang kesejatian. Turun gunung, diidentikan dengan memancarkan diri, bermanfaat bagi sesama.

Menjaga Cahaya Ilahi

Nyala cahaya api yang selalu mengarah ke atas adalah simbol menuju Ilahi, ia sesungguhnya tak pernah runtuh ataupun mati. Kalaupun ia nampak hilang dan tak lagi menerangi masa-masa sekarang, hal itu adalah pertanda ia tengah memasuki fase meniadakan diri. Nyala kecil lilin yang ada saat ini, meski tak seterang obor, tetaplah ia menuju ke atas menjaga kesadaran bahwa hidup harus selalu ditujukan pada Maha Sejati, Sang Ilahi. Nyala lilin kecil bernama ReLegi ini, akan berada pada persimpangan suatu ketika nanti. Tetap berada pada nyalanya di tengah kesunyian ataukah bermetamorfosis menjadi obor kembali di tengah keriuhan.

Melangkah di keremangan jalan sunyi ditemani nyala lilin. Sambil terus menerus nguri-nguri sangkan paran sebagai pegangan mengkreasi masa depan, merupakan cita-cita yang telah dicicil untuk diwujudkan. Senantiasa berusaha bermanfaat sebesar-besarnya bagi lainnya (manusia lain, binatang, tumbuhan, air, angin, tanah, api, iblis, malaikat) merupakan tabungan kesucian yang dibutuhkan seorang manusia untuk mencapai, mengenal, memahami dan bergabung pada Yang Sejati.

4 tahun adalah waktu teramat singkat dari ribuan tahun yang dibutuhkan untuk mewujudkan cita-cita sejati. Jelas membutuhkan stamina yang prima.

Perjuangan baru saja dimulai Kawan..
Mungkin akan dibutuhkan bunuh diri, runtuh jatuh berkali-kali hingga menemukan Yang Sejati..
Selama terselubung niat baik, cita-cita indah takkan mungkin tak tercapai, bahkan dapat dipastikan Tuhan tak pernah enggan memfasilitasi..

Selama terjaga pada kesadaran level tertinggi, kematian takkan menjemput sekalipun engkau bunuh diri berkali-kali.

Jagalah cahaya Ilahi, nurani yang ada di dalam diri. Meski nyalanya hanya berasal dari nyala kecil api sekalipun. Semoga selalu membangunkan kesadaran kepada Yang Sejati serta menerangi niat baik yang mengikat setiap langkah…

LEAVE A REPLY