Dunia ini memang selalu berproses. Berproses untuk selalu menemukan puncak-puncak kerinduannya. Dunia ini pun memang selalu bergerak. Bergerak untuk mencari jalan-jalan kembali pada Sang Tunggal. Dunia ini memang selalu berubah. Berubah memenuhi kebutuhan dan meninggalkan segala keinginan.

            Ketika dunia sudah berproses, bergerak, dan berubah, kitalah manusia yang akan menerima dampaknya. Dampak yang berupa serpihan-serpihan kebaikan atau keburukan. Beruntung saja ketika kita mendapatkan serpihan kebaikan, karena serpihan itu akan melengkapi segala kekurangan kita sebagai manusia. Lantas, bagaimana jika serpihan keburukan yang kita terima. Apakah kita akan siap menambah segala keburukan yang telah melekat pada diri kita dengan serpihan keburukan dunia ini.

            Sebenarnya ada sebuah konsep yang sangat sederhana ketika kita ingin mendapatkan serpihan kebaikan. Yaitu konsep timbal balik, di mana konsep ini menjelaskan ketika kita melempar kebaikan, kita pun akan mendapatkan kebaikan pula. Sebaliknya, ketika kita melempar keburukan, ya kita akan mendapatkan keburukan. Ya inilah sebenarnya juga konsep dari menanam. Karena ketika seorang menanam buah apel tidak mungkin akan tumbuh buah jambu atau yang lainnya. La terus, kenapa kita harus menanam untuk mendapatkan serpihan kebaikan? Pada siapa kita belajar menanam?

            Secara sederhana ketika ada pertanyaan “kenapa kita harus menanam untuk mendapatkan serpihan kebaikan?” ya mungkin jawaban yang pas seperti ini. “Lha wong uripe niku mboten mesti, nopo ingkang ten ngajeng kalean sedanten enggeh mboten ngertos”. Ya mungkin seperti itu, hidup itu tidak ada yang tahu, dan yang tahu hanyalah Sang Maha Tahu. Dan Sang Maha Tahu, tidak mungkin menempatkan seseorang tanpa suatu alasan. Untuk itu, ketika kita ingin ditempatkan di dalam kondisi, situasi, dan lingkungan yang penuh dengan serpihan kebaikan, setidaknya ada suatu alasan kita untuk ditempatkan di tempat tersebut.

            Ya kalau saya sih belajar menanam tidak selamanya dengan petani. Petani yang menunggu padi, jagung atau tebu dari awal penanaman sampai pada waktunya untuk dipanen. Untuk saat ini, saya ingin mencoba keluar dari comfrot zone. Saya ingin mencoba belajar menanam pada pedagang. Lah kenapa kok pedagang?

  1. Si Penjaga Pesan

Ya, memang pedagang bagi saya adalah si penjaga pesan. Ketika dilihat dari sistem kerja kebutuhan masyarakat, pedagang mungkin berada dalam posisi kedua atau ketiga. Karena di posisi-posisi sebelumnya dapat diisi oleh pengolah atau penyalur. Pedagang selalu menyalurkan pesan kepada pembeli bahwa harga ini tidak begitu saja ditentukan olehnya. Tetapi juga ditentukan oleh pengirim harga sebelumnya. Namun yang tak kalah penting, bahwa pedagang adalah profesi yang disarankan dan dianjurkan oleh Sang Pemberi Syafaat.

  1. Si penjaga waktu

Beberapa waktu lalu, saya tinggal di kota kecil yang dikelilingi dengan bukit. Kota ini pun dikarunia kebudayaan reog, bahkan kebudayaan reog ini sangat tersohor di dunia Internasional. Di kota ini saya tinggal di rumah teman saya, yang orangtuanya berprofesi sebagai pedangang makanan. Memang tidak begitu beragam makanan yang dijual dari orangtua teman saya ini. Tapi di sini saya melihat bagaimana beliau harus menjaga waktu kegiatan beliau. Dimulai dari sebelum adzan Subuh, beliau bangun kemudian melakukan sholat subuh, kemudian harus berangkat ke pasar untuk mempersiapkan segala kebutuhan untuk dijual kembali. Di sini saya sangat terheran-heran bagaimana beliau harus memeriksa secara detail kegiatan-kegiatannya. Bahkan beliau sudah tak memerlukan catatan kegiatan layaknya mahasiswa agar tepat waktu dalam setiap kegiatannya.

  1. Si berjalan terus

Inilah keindahan lagi dari seorang pedagang. Bahwa pedagang harus selalu bekerja dan bekerja. Dalam hidupnya yang dapat menjaminnya hanya dirinya dan Pemilik dirinya. Untuk itu, pedangang tidak begitu saja akan mampu dikalahkan oleh kesakitan, kebosanan, kemalasan bahkan kesombongan sekalipun. Pedagang akan selalu berdagang, meskipun tikar harus digulung berkali-kali.

Pedagang, memang akan selalu menjadi salah satu pelindung kita, ketika kita ingin sanantiasa menjaga kemanusiaan kita. Karena ketika kita mengetahui bagaimana yang sebenarnya pedagang bawa bukan hanya sekedar barang-barang untuk dijual. Tetapi juga segala pesan dari Pemberi Syafaat. Pedagang pun salah satu pengingat kita, bahwa waktu yang ada di dunia ini harus selalu senantiasa dijaga. Dijaga kegunaannya, fungsinya, dan ketepatannya. Pedagang pun juga membuka pandangan untuk setiap orang yang mau mendalaminya. Bahwa kita harus senantiasa menanam, harus selalu menanam. Meskipun kesakitan, kebosanan, kemalasan bahkan kesombongan sedang melekat ditubuh kita.

LEAVE A REPLY