Malam………

Malam hari ini, langit terlihat sedang bersolek, mencoba menampakkan pesonanya. Bagi siapapun yang mulanya hanya ingin sekadar menoleh, dapat dipastikan akan takjub dan berlama-lama memandangnya. Cantik, benar-benar cantik. Bagaimana tidak, malam hari ini sungguh sangat cerah, bulan dan bintang gemintang pun juga seolah-olah sedang bersaing menghadirkan keteduhan sinarnya, menunjukkan pada seluruh makhluk bumi siapa yang sesungguhnya paling terang diantara keduanya.

Ternyata benar, jika ada yang mengatakan bahwa malam akan selalu mampu menampakkan pesonanya. Walaupun malam identik dengan kegelapan, gelap yang tidak disukai oleh kebanyakan orang. Namun di balik gelap pekatnya, malam masih mampu mempesonakan sebagian orang dengan kekhasannya, dengan caranya sendiri. Tidak semua orang mampu memahami keindahan yang disuguhkan malam, hanya orang-orang tertentu. Orang itu adalah mereka yang punya penglihatan bukan hanya sebatas estetika, melainkan juga dari esensi.

Kesunyian……..

Sunyi. Mungkin sunyipun juga bernasib sama dengan gelap, tidak banyak yang suka akan kehadirannya. Bahkan, kehadirannya tidak diharapkan oleh kebanyakan manusia. Namun, jika  saja, jika saja kita sebagai anak manusia mampu mengenali sunyi dengan hakiki, tentu manusia akan mampu merasa dan mengerti bahwa banyak sekali hal yang disimpan dalam kesunyian. Ditabung, dianugerahkan bagi siapapun yang mampu menemukan.

Saat dalam kesunyian, coba rasakan dengan hati yang bersih, di situ kita bisa merasakan kasih sayang Tuhan yang sungguh sangat luar biasa. Tuhanpun turut mengasihi para umatNya dalam kesunyian. Tuhan tidak perlu mengatakan dengan suara lantang, tak perlu jua dengan memperlihatkan kepada semua makhluk betapa besar rasa sayang yang dimilikiNya. Cukup kasih sayangnya yang sampai, sementara diriNya terus bersembunyi. Semua diberikanNya dengan rasa tak pernah mengharapkan apapun. Dan saat tersakiti, Tuhan masih mau memberikan kasih sayangNya yang maha luas. Memilih tetap membalas dengan kasih.

 

Manusia Sang Khalifah

Sangat ironi, saat ini apa yang sedang terjadi di hadapan kita. Manusia seolah-olah melupakan kodrat sebagai khalifah. Khalifah penjaga bumi. Kita, masing-masing justru lebih sibuk untuk merusak bumi, merusak dari semua sisi. Sayangnya, tak ada yang sadar bahwa manusia adalah pelaku utama, rupanya manusia lebih senang menyalahkan dibanding berkaca melalui kedalaman hati.

Sumber Daya Alam yang ada, tak hanya sebatas hanya dimanfaatkan namun sudah dieksploitasi, membangun kerajaan bisnis, menumpuk kekayaan harta. Manusia pun semakin kehilangan rasa mengasihi. Semua sibuk bersaing, menjadi yang terbaik, kemudian lupa tentang makna manusia. Tak lagi segan saling menyakiti, tak keberatan saling membunuh, hanya demi terpenuhinya suatu kebutuhan.  Apakah memang sebatas itu yang kita kehendaki?

Saat sedang mengalami peristiwa Alastu atau peristiwa dimana manusia sedang  berjanji di hadapan Tuhan, saat sebelum Tuhan meniupkan roh ke dalam jasad kita. Bukankah kita sudah berjanji kepada Tuhan bahwa kita akan menjadi khalifah, khalifa yang akan menjaga keberlangsungan kehidupan di bumi. Mungkin memang benar, manusia tidak mengingat terjadinya peristiwa itu.

Namun, bagi manusia yang berpikir, hanya manusia yang diberi kelengkapan fisik dan akal yang sempurna. Manusia diberi kemampuan untuk menjaga keberlangsungan kehidupan sekaligus kemampuan untuk merusaknya, maka dari sini saja dari sekian makhlukNya memang manusia terbukti memiliki kistimewaan dan pantas menjadi khalifah.

Jika kita sedikit mau berbenah, membermanfaatkan diri, mungkin keberadaan manusia di bumi akan sedikit lebih bermanfaat. Saat manusia mau sedikit saja mempergunakan akal pikirannya untuk memunculkan rasa bertanggungjwab terhadap keberlangsungan kehidupan di bumi. Maka, sungguh bukan hal mustahil jika kehidupan di bumi ini akan menjadi lebih baik, tidak seperti apa yang terjadi saat ini, tidak seperti sekarang, tidak serusak seperti yang ada di sekitar kita.

Niat baik tidak akan pernah keliru

Suatu hari si Mbah pernah berpesan kepada cucu-cucunya, pesan si mbah ini begitu terkenang sampai saat ini bagi kami cucu-cucunya. Simbah selalu berpesan bahwa apapun hal baik yang kita lakukan jaganlah diperlihatkan pada banyak orang, cukup kamu simpan untuk dirimu sendiri dan cukuplah tuhan yang mengetahuinya. Walaupun tidak banyak yang tahu atau bahkan tidak ada orang yang tahu, kamu tidak akan rugi sama sekali karena Tuhan sudah mencatat semuanya bahkan saat semuanya masih hanya ada di dalam batinmu.

Memang benar, manusia sejatinya membutuhkan yang namanya pengakuan, pengakuan akan seberapa besar yang kita lakukan, pengakuan akan apa-apa yang sudah kita lakukan. Mungkin saat ini kita sudah diakui oleh sesama manusia kita akan merasa puasa, namun apakah benar itu yang sebenarnya kita cari ???

saya rasa tidak

bagi kaum yang berfikir, Jika jauh kita mampu melogika pastinya kita tidak hanya puas sampai di situ saja. Hal apapun sebenarnya yang kita lakukan bukanlah untuk pengakuan atau rasa kepuasan saja namun lebih dari itu yaitu untuk membuatNya jatuh cinta kepada kita sehingga kita bisa semakin dekat dengannya dan menjadi manusia yang benar-benar manusia.

Bukankah sudah jelas fitrah kita manusia di bumi ini adalah sebgai khalifa atau penjaga. Jadi sudah selayaknya kita manusia memperlakukan  dan mejaga bumi ini sebagaimana mestinya.

La wong kita hidupnya di dunia, trus trus buat apa kita mengejar urusan dunia.

Nyuhani Prasasti

LEAVE A REPLY