Sebagian dari kita, mungkin sudah tidak asing lagi dengan yang namanya tujuh keajaiban dunia. Tujuh keajaiban dunia? Kok cuma tujuh? Apa ini artinya di dunia ini hanya ada tujuh keajaiban saja? Kalau memang cuma tujuh saja, lalu bagaimana dengan keajaiban-keajaiban yang lainnya.

Tunggu dulu. Keajaiban dunia? Apa pula sebenarnya syarat-syarat yang harus dipenuhi, agar sesuatu itu bisa masuk dalam daftar keajaiban dunia.

Ah sudahlah, sementara saya sedang tidak ingin memperbincangkan persyaratan keajaiban dunia itu. Kalau boleh, saya mohon izin untuk mengatakan, bahwa ada keajaiban lainnya. Bahkan, bagi saya ini lebih dari sekadar keajaiban dunia. Keajaiban dunia akhirat lah yaa,hehe.

Apa-apaan sih ini keajaiban dunia akhirat. Baiklah, jadi ceritanya sinau kebudayaan di Polinema seminggu yang lalu itu menyadarkan saya. Bahwa ada keajaiban yang lebih ajaib dari sekadar tujuh keajaiban dunia. Apa itu? Otak manusia.

Ya, malam itu, dokter Chris sempat menyinggung tentang struktur otak manusia. Bahwa otak manusia itu terdiri dari tiga lapisan, reptilian, limbic, dan neo-cortex.

Singkat cerita, reptilian dan limbic ini tidak hanya dimiliki manusia. Para kaum binatang pun memiliki dua bagian otak yang berperan dalam membantu pertahanan dan pengelolaan emosi ini. Akan tetapi, satu-satunya makhluk yang dianugerahi otak neo-cortex adalah manusia. Bagian otak inilah yang membedakan manusia dengan makhluk lainnya. Bagian otak ini membantu manusia untuk berpikir. Dan inilah mengapa, satu-satunya makhluk yang bisa berpikir hanyalah manusia.

Entah kenapa, tiba-tiba bayangan inipun jatuh pada apa yang disampaikan Mbah Nun malam itu. Bahwa semesta ini memang telah tercipta dalam keseimbangannya. Tapi tidak dengan manusia. Manusia dicipta dalam keadaan belum seimbang. Dan karena belum seimbang inilah, kita sebagai manusia ditugaskan untuk mencari dan mengupayakan keseimbangan itu.

Lantas, bagaimana upaya kita untuk menuju keseimbangan itu? Kita bisa apa, kok bisa-bisanya Tuhan memerintahkan kita untuk menuju keseimbangan.

Ah, apa-apaan saya ini. Mohon maafkan kalau saya sempat lupa. Bahwa Tuhan tidak pernah memberikan beban di luar batas kemampuan hamba-Nya. Jadilah jelas, di balik tugas mulia ini, Tuhan pasti telah menyiapkan sesuatu sebagai kunci dan senjata kita.

Lantas, kunci apa yang dimaksudkan itu? Kalau boleh menebak-nebak, kunci itu adalah alat berpikir yang hanya dianugerahkan kepada manusia tadi.

Kok bisa itu menjadi kunci? Mengingat fungsi otak, rasanya hampir segala apa yang keluar dari diri kita, perkataan, perbuatan, atau apapun saja, itu berasal dari perintah otak kita. Otak, akal pikiran, menjadi sesuatu yang sangat berpengaruh akan segala apa yang tampak dari laku kita. Dari sini, rasanya menjaga keseimbangan pikiran, menjadi sesuatu yang akan sangat memengaruhi keseimbangan lainnya.

Tak ayal, di Maiyah seringkali kita diajarkan untuk menata hati dan menjernihkan pikiran. Menjaga akal dan hati, di antara keajaiban Tuhan yang disematkan dalam diri. Lagi-lagi, ini hanyalah satu di antara beberapa cara untuk mengupayakan keseimbangan kita sebagai manusia. Dimulai dari keseimbangan dalam diri, keseimbangan akal dan hati, untuk perlahan sedikit demi sedikit belajar menjaga keseimbangan yang lainnya.

 

Hilwin Nisa’

LEAVE A REPLY