Berbisik tentang anak gembala, terlebih dulu kita akan menengok jendela masa silam di kesejukan udara pedesaan. Selepas istirahat sejenak sepulang sekolah, ada anak-anak yang membawa kambingnya di bentangan savana yang luas nan hijau sembari menikmati rangkaian kata dalam buku pelajaran atau buku dongeng. Ada pula yang ke sana membawa kerbaunya dengan naik di atas punggungnya sembari bermain seruling. Udara sore dengan semilir angin yang membawa kedamaian menemani mereka mengurus kebutuhan ternaknya. Dengan riang dan sabar mereka membawa ternaknya pergi pada jam makan dan kembali dengan perut kenyang. Sembari menikmati bacaan atau tiupan serulingnya, sesekali mereka melirik mengawasi ternaknya untuk memastikan keamanan. Sorak syukur menambah kebahagiaan mereka saat menyaksikan ternaknya berkembang biak dan hidup layak. Seperti tak pernah terlihat ada beban yang tak sanggup mereka atasi tanpa senyuman. Begitulah eloknya hati anak-anak desa yang penuh dengan cinta.

Kembali pada topik utama, anak gembala. Kamus Besar Bahasa Indonesia mendefinisikan kata gembala sebagai 1) penjaga atau pemiara binatang ternak, 2) penjaga keselamatan orang banyak. Sedangkan kata anak yang mendahului kata gembala yang dimaksudkan di sini adalah generasi muda atau siapapun yang berjiwa muda. Artinya, tanggung jawab menjaga keselamatan orang banyak (sebut bangsa) adalah menjadi tanggung jawab generasi muda dan semua yang berjiwa muda.

Muda Potensial

Generasi muda dengan jiwa mudanya mampu menjadi tombak sebuah bangsa untuk memperkuat pertahanan dan memperkokoh pembangunannya (Ar-Rahman, 2002: 273). Baik dari segi materi seperti perekonomian bangsa maupun non materi seperti moral dan karakter. Sebab, di masa muda kapasitas energi seseorang sangatlah tinggi, yang sangat eman jika diabaikan begitu saja tanpa dimanfaatkan dan didayagunakan dengan tepat. Fisika menyebutnya dengan energi potensial (Munasir, 2004: ix), yang diartikan sebagai energi yang tersimpan dalam benda diam dan akan sangat berkontribusi besar ketika diberikan gaya yang mengubahnya menjadi energi kinetik. Inilah yang berlaku pada generasi muda yang diupayakan pemberdayaan energinya.

Kendatipun demikian, dalam praktiknya, langkah yang diambil generasi muda tidak boleh terlepas dari peranan golongan tua. Sebab, mereka telah lebih dulu menikmati asam garam dan lebih tahu pahit getirnya kehidupan. Belajar dari pengalaman mereka akan membuat generasi muda bisa menentukan kebijakan yang lebih baik dan tidak mengulang kesalahan yang sebelumnya dilakukan oleh golongan tua. Sehingga, energi kaum muda haruslah senantiasa beriringan dengan pengalaman kaum tua, untuk membangun kualitas bangsa dan menyongsong negeri yang aman sentosa.

Frase anak gembala di sini adalah sebuah simbol untuk sosok pemimpin sejati. Anak gembala sebagaimana ilustrasi di atas, ia memiliki sifat ulet dan sangat bijak ketika menggembalakan ternaknya. Tentu saja ia boleh seorang dokter, seniman, sastrawan, kiai, jendral, atau siapapun saja yang memiliki daya gembala (Nadjib, 1999: 102).

Generasi Ayom

Begitulah, pemimpin sejati seyogyanya memiliki jiwa gembala yang sanggup ngemong, mengayomi, melindungi, dan menyejahterakan bangsa. Seberat apapun tugas yang dipikul, setinggi apapun gunung yang didaki, securam apapun jurang yang dituruni, selicin dan setajam apapun medan yang dilalui, ia harus tetap menjadi pamong bagi rakyatnya. Dengan keuletannya, ia akan dapat mengatasi permasalahan yang melanda bangsa. Dan dengan kebijakannya, ia akan dapat memilah solusi dan kebijakan yang tepat sekiranya tidak merugikan atau menyengsarakan bangsa.

Hal ini sejalan dengan strategi adaptasi untuk bertahan mengatasi seleksi alam. Pemimpin sejati seharusnya mampu beradaptasi dengan kondisi sosial masyarakat dan lingkungan sekitar. Sehingga ia tidak berlaku semaunya dan seenaknya sendiri. Di samping untuk menyelamatkan diri sendiri, ia haruslah bertekad menyelamatkan bangsanya pula. Sebut saja seleksi alam itu dengan krisis, baik material, seperti kesenjangan ekonomi, maupun nonmaterial, seperti krisis identitas diri dan kemerosotan moral bangsa.

Berkembang

Saat menggembalakan, penggembala juga menerapkan strategi pemetaan medan melalui sentuhan rangsangan yang diberikan oleh alam. Begitu pula pemimpin sejati, ia harus mampu memetakan medan yang akan menjadi target pengembangan kualitas bangsa. Menjaga dan melindungi sumber daya alam yang ada, memanfaatkan seperlunya, meremajakannya kembali sekiranya itu dapat diperbarui, seperti reboisasi hutan dan menghemat pemakaian jika itu tak dapat diperbarui, seperti pembatasan pengerukan bahan tambang, dll. Di samping itu, ia seyogyanya mengupayaan pemberdayaan sumber daya manusianya. Sebab, pemimpin lah yang memiliki kuasa dan tanggung jawab tata kelola atas apa yang dinaunginya. Sebagaimana hadis Nabi Saw berikut:

Artinya: “Kamu semua adalah pemimpin dan setiap kamu akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya.” (HR. Bukhori, 1442 H: 5).

Himatul Istiqomah, S.S

SHARE
Previous articlePusaka 3 Warna
Next articleJalan Menuju Pencipta

LEAVE A REPLY