Ants

Tak jarang sesuatu yang sederhana luput begitu saja dari pandangan mata. Seolah yang rumit lebih asyik dan lebih menggoda. Yang kelihatan lebih asyik memang paling jago mengalihkan yang sederhana. Hingga terkadang yang sederhana pun dianggap tiada. Masalah titik, misalnya. Mungkin masih banyak di antara kita yang kurang perhatian dengan sosok yang bernamakan titik. Saat mata memandang gambar-gambar yang begitu indah, atau membaca kurva-kurva yang njlimet pasti sangat sedikit yang masih ‘ingat’ dengan sosok titik. Atau mungkin malah tak ada. Padahal, yang njlimet dan katanya lebih menawan itu pun berasal dari yang sederhana. Ya, bukankah setiap kita akan menggambar sesuatu, akan menulis sesuatu, selalu diawali dengan sebuah titik? Titik-titik sederhana itulah yang sejurus kemudian saling bersinergi mengupayakan gambar yang indah dan bait-bait aksara yang lebih bermakna.

Titik Pencari Makna

Tak asing memang, jika berbincang masalah titik. Karena hampir di segala penjuru, kita pun masih bisa menemukan titik. Jika kita telaten mengurai, hampir dari ke semua yang ada selalu berawal dari sebuah titik. Kue brownies cokelat yang manis abis itu pun juga berasal dari titik-titik yang saling bersinergi. Ya, titik tepung yang saling bersinergi dan menyulap dirinya menjadi kue ayu yang siap disantap. Tapi, nasib titik pun juga tak selalu baik. Titik-titik tepung tadi misalnya. Ia bisa saja menurunkan daya adhesinya (daya lekat zat jenis) dan kemudian bercerai berai memisahkan diri dari kerumunan komunitasnya yang serumpun. Terserak entah ke mana, yang kemudian diterpa angin dan terbawa ke suatu tempat antah berantah tanpa sempat mencari makna.

Bayangkan, apa yang akan terjadi jika dua buah titik lebih memilih bersatu. Titik yang notabene-nya elemen dari dimensi satu itu pun akan membentuk sebuah dimensi baru, jika ia mau menurunkan ego untuk berbaur dengan yang lainnya. Ya, dua titik yang saling terhubung itu pun akan membentuk sebuah garis. Yang tak lain adalah sesuatu yang berada di dalam dimensi dua. Bukankah dengan menjelma menjadi sebuah garis, titik-titik itu pun akan terlihat lebih bermakna? Begitu juga jika garis-garis itu masih mau berjuang untuk bersinergi dengan garis-garis lainnya, bahkan dengan garis yang berada pada sumbu berbeda, mereka akan menjelma menjadi sebuah ruang. Yang tak lain adalah sesuatu yang berada dalam dimensi tiga. Begitu seterusnya. Semakin bertambah level dimensi tersebut, tentu akan semakin kompleks, tapi manfaatnya pun juga akan semakin beraneka. Karena complexity suatu dimensi berbanding lurus dengan kegunaan yang disuguhkan juga.

Katakanlah sebuah tatanan multidimensi tersebut menggambarkan sebuah peradaban yang tinggi. Tentu keduanya, baik tatanan multidimensi ataupun peradaban yang tinggi tersebut tidak serta merta tiba-tiba ada. Semua butuh proses dan ketelatenan untuk membangunnya. Jika sebuah tatanan multidimensi tersebut berawal dari titik-titik yang saling bersinergi, maka untuk membangun sebuah peradaban yang tinggi, titik-titik tersebut tak ubahnya sosok pemuda yang juga saling bersinergi. Ya, pemuda nusantara yang berkarakter garuda. Pemuda lah yang sedikit banyak berperan untuk menentukan nasib peradaban suatu bangsa. Apakah ia akan memperindah peradaban ataukah justru akan memperkeruhnya.

Layaknya sebuah titik, pemuda pun tak selalu bernasib baik. Bisa saja pemuda-pemuda tersebut terpisah dan terdampar di suatu tempat yang sama sekali tak dinyana dan dicita-citakannya. Entah ia mau terserak musnah begitu saja, atau menjadi awal mula peradaban baru, semua tergantung marwahnya, tergantung nilai dirinya. Pada titik-titik yang begitu kuat marwahnya, meski ia terserak ke segala arah, ke Malang, Blitar, Pasuruan, Kediri, Probolinggo, atau hingga ke Jerman sekalipun, ia tak akan tergerus arus, apalagi sampai mampus. Titik-titik itu terserak bukan untuk musnah, melainkan menempati koordinat-koordinat-Nya untuk membentuk dimensi baru.

Sekali lagi, untuk membangun sebuah peradaban tinggi yang menggambarkan kemajuan lahiriah maupun batiniah suatu bangsa, dibutuhkan peran para pemuda yang saling bersinergi. Saling mengisi kekosongan satu sama lain. Karena sudah pasti pemuda-pemuda tersebut berada dalam koordinat yang tak sama, koordinat yang berbeda.

Berhimpun Meski Tak Sama

Mencoba memahami maksud dan tujuan Sang Pengatur kehidupan dibalik ditempatkannya kita di suatu koordinat tertentu, dirasa menjadi pilihan yang tepat untuk mengawali membentuk dimensi baru, membentuk peradaban baru. Agar kita tak salah langkah dalam berlaku. Dengan demikian, kita pun mampu merumuskan langkah kita dengan tepat. Meskipun belum mampu seratus persen tepat, setidaknya lebih terarah dan bisa mengurangi tingkat ke-eror-an langkah kita. Karena dengan memahami koordinat-koordinat-Nya yang telah dipilihkan untuk kita, kita akan mampu meneruskan cita-cita-Nya di balik skenario-Nya itu. Memaksimalkan potensi yang telah dititipkan-Nya pada kita, hingga kebermanfaatan untuk sesama pun akan tetap terjaga. Ya, pahami untuk bergerak agar lebih bermanfaat bagi yang lainnya.

Lagi-lagi kita memang harus belajar dari apa pun dan dari siapa pun. Tak terkecuali pada tatanan multidimensi tadi. Lihatlah, sebuah tatanan multidimensi yang sudah sempat disinggung di awal tadi. Ia adalah gabungan dari dimensi-dimensi yang berhimpun dalam satu ruang dan waktu hingga membentuk sebuah tatanan baru, sebuah dimensi baru. Bayangkan apa yang akan terjadi, jika setiap kita mampu memahami koordinat-koordinat kita. Dan dengan lapang mau menerima, memaksimalkan yang sudah ada. Berhimpun dalam satu ruang dan waktu, lalu saling mengisi kekosongan satu sama lainnya. Tak ada iri dan tak ada niat saling menjatuhkan satu sama lainnya. Karena semua saling menyadari, bahwa kita memang tercipta dalam beda. Lalu mencoba mencari hikmah agar berkah itu mampu dirasa bersama. Kalau sudah begitu, tentu sebuah tatanan multidimensi pun akan mampu dicipta juga. Ya, tatanan multidimensi, sebuah peradaban yang tinggi.

Sebuah peradaban yang tinggi, sebuah peradaban yang agung dan indah tiada terperi. Sebuah peradaban tinggi akan terjadi jika setiap ‘titik’, setiap yang berdimensi satu berkeyakinan bahwa ia adalah penyusun sebuah tatanan multidimensi. Pun jika sudah sampai pada tatanan multidimensi, ia tak akan semena-mena. Karena masih tetap ingat bahwa ia berasal dari yang satu dimensi juga. Ya, saling memahami dan memaklumi perbedaan dan memaksimalkan peran yang telah disuguhkan. Berjalan sesuai koordinat-koordinat-Nya dengan tetap mengupayakan kebermanfaatan untuk sesama. Dengan demikian, yang ada adalah keindahan paseduluran di mana pun dimensinya berada.

Pada akhirnya, keindahan tak terletak pada berbagai jenis benda ataupun warna-warninya. Melainkan pada kebersihan dan kerapian. Kebersihan hati yang terpancar pada kerapian tingkah lakunya. Lebih tepatnya, ketika semua terletak pada koordinatnya, pada ruang dan waktu yang tepat, maka keindahan lah yang akan dirasakan. Dengan rasa damai dan nyaman sebagai output-nya. Sekali lagi, keindahan bukan tentang dimensi satu, dimensi dua, tiga, ataupun dimensi-dimensi yang lainnya. Tapi, keindahan adalah tentang dimensi satu, dua, tiga, atau dimensi-dimensi yang lainnya ketika berada pada wilayahnya masing-masing. Lalu saling bersinergi satu sama lain, menyesuaikan dengan hukum alam yang tengah berlaku.

Penulis : Hilwin Nisa’

SHARE
Previous articleDataran Lantai yang Landai
Next articleMasterpiece

LEAVE A REPLY