Memperkenalkan Jati Diri Pada Diri Sendiri

Mengupas tentang jati diri. Tak kan pernah lepas tentang pembahasan mengenai identitas dan personalitas. Kawan, aku ingin bercerita, tentang pemikiran dari sudut pandang kaca mataku. Semua akan jelas terlihat jika kita sama-sama menggunakan mata yang sama. Cerita ini menyoal jati diri, jati diri sejati.

Sebagai manusia yang lahir dan berkembang di era 90-an, tentu bukan hal baru jika kerapkali disuguhkan film India. Ada banyak hal menarik yang dipersembahkan industri perfilman Bollywood itu.  Mari coba kita perhatikan dengan saksama, apa yang menjadi nilai unik film India? Aha! Tepat! Disetiap pementasannya, film India selalu menampilkan adegan musikal yang diiringi dengan tarian berkoreografi tingkat wahid. Entah tarian itu klasik, tradisional ataupun kontemporer, sebatas yang ku tahu tidak pernah ada film India tanpa tarian dan lagu. Meski terkesan aneh ketika melihat orang yang mulanya tak saling kenal namun tiba-tiba bisa berjoget bersama dengan gerakan yang begitu harmoni. Namun keanehan itu tidak menghilangkan esensi bahwa film ingin menyampaikan rasa lewat musik. Terbukti bukan, seringkali pesan-pesan lagunya begitu mengena meski sama sekali tak mengerti satu per satu apa makna per katanya. Musik memang bahasa universal. Unik!

Tuntutlahlah Ilmu Walau Sampai Ke Negeri India

Industri Bollywood seringkali disejajarkan dengan industri terbesar setelah Hollywood. Dan asiknya adalah tak ada film lain yang memiliki ciri khas tersebut, bahkan untuk soal koreografi, bisa dibilang perfilman India jauh lebih dulu dibanding tren boyband/girlband ala Korean. Satu poin plus untuk Bollywood.

Film-film India selalu menyertakan tradisi Hindustan dalam setiap tayangannya. Sari, manisan, pemujaan terhadap Tuhan, aksesoris serta produk budaya selalu tak pernah sekalipun ketinggalan. Meski lokasi shooting berada di Australia, Eropa, Amerika maupun Singapura, tradisi nenek moyangnya selalu dibawa. Untuk sebuah negara bekas persemakmuran UK, India tetap memiliki rasa India meski memiliki kandungan rempah-rempah Inggris. Film India tetap menggunakan bahasa daerah, disertai bumbu English di beberapa conversation tentunya. Bahkan lagu-lagunya pun menggunakan bahasa Tamil, Punjab dsb. Sebuah transfer nilai lewat film. Dengan begitu seluruh dunia akan tahu, “Inilah tanah Hindustan dengan segala khas dan kebudayaannya.”

Steve Jobs pernah menemukan dirinya di pintu bumi dan dipelukan langit India. Dalam masa pencarian jati diri semasa hidup, ia menyerahkan dirinya pada Buddha. Steve sempat singgah di tanah Hindustan untuk belajar makna ketenangan dan keseimbangan. Dan pemahaman tentang ketenangan itu begitu berarti ketika ia bimbang karena terusir dari perusahaan yang ia besarkan, Apple Inc. Kondisi India dengan Indonesiapun di beberapa bagian hampir identik. Suku, keberagaman agama, populasi besar dan juga masih negara berkembang. Namun sekarang, perlahan tapi pasti India mulai muncul sebagai kekuatan baru Asia.

Lalu dalam pencariannya, kenapa Steve memilih India? Dibanding Amerika, tentu India lebih sarat akan keunikan. Kondisi masyarakat yang multikultural serta tanah yang memiliki keragaman agama tentu tak banyak ditemui di pemukiman Amerika. Di India agama Hindu, Buddha, Kristen dan Islam tumbuh subur. Dan agama memiliki fungsi yang sama yakni menentramkan hati. Singkat cerita, di tanah India Steve menemukan apa yang tak ia dapatkan di kampung halaman. Di tanah Hindu, om Steve malah mencoba menemukan Budhha.

 

Belajar Kembali Besar

Kebesaran film India pun bukan barang baru. Coba tengok berapa banyak fans Shahrukh Khan seorang, lebih besar dari pendukung Setya Novanto tentunya, halah hehehe. Meski aku tak tahu pasti kawan berapa jumlahnya, tapi pastinya SRK pernah dinobatkan ke dalam daftar jajaran manusia paling berpengaruh di dunia versi Newsweek Magazine. Tak lupa ku informasikan juga bahwa pada 2014, SRK adalah aktor paling kaya kedua di dunia mengalahkan aktor Hollywood sekaliber Tom Cruise dan Johnny Depp. Beberapa waktu lalu pun SRK pernah mengguncang Amerika dengan filmnya yang berjudul “My Name is Khan”. Sebuah film yang bercerita tentang bagaimana diskriminasi terhadap Islam selepas tragedi gedung yang katanya ditabrak pesawat itu, gedung kembar WTC (World Trade Center). Film itu juga meraih sukses di mata Internasional dan menjadi kampanye positif bahwa Islam bukan teroris dan Islam itu cintai damai.

Kabar terbaru, film PK karya Aamir Khan yang bercerita tentang agama juga mendulang sukses. Film bergenre sindiran itu menjadi inspirasi bagi banyak orang untuk mengoreksi kembali dimana posisi Tuhan dalam hidup manusia. Pesan yang dapat diambil adalah bahwa orang India masih begitu memegang olah pikir budaya dan peradabannya. Mereka menjaga kearifan lokal dan tradisi sebagai bagian dari warisan yang patut untuk dibanggakan.

Sedang yang ku rasa, mungkin ini juga kau rasakan kawan! Negara kita masih kalah untuk urusan bangga akan budaya dan peradaban bangsa. Kita merasa seperti anak hilang yang baru lahir di tahun 1945. Sama sekali tak mengenal asal usul. Menganggap bahwa budaya itu kuno dan ketinggalan jaman. Ndak gaul nggak uye. Semua yang berbau tradisi mentah-mentah ditolak tanpa sedikitpun ada niatan untuk menelusuri maksud yang dikandung. Coba kita berkaca sekilas pada bangsa China, dimanapun berada semua keturunannya tetap memiliki nama China. Fasih menggunakan bahasa Mandarin dan menerima Feng Shui dengan lapang sukacita. Salut!

Sementara saudara kita yang lain begitu gandrung akan boyband, drama Korea dan juga cosplay-cosplayan. Ada trend ini jadi begini, trend nya begitu ikut begituan, kurang memiliki kekhasan dan krisis identitas. Mari merenung kembali mencari kesejatian diri. India adalah sebuah pembelajaran bagi kita bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu ngruwat warisan nenek moyang. Nusantara adalah bangsa agung. Bangsa yang pernah begitu arif dan disegani. Maka sebagai keturunan bangsa besar, sudah sepantasnya kita harus mampu membawa dan memposisikan diri. Mensyukuri setiap warisan budaya sebagai hasil riset peradaban yang seyogyanya terus dikaji dan dimanfaatkan. Bukan untuk dibully dan dilecehkan. Budaya Nusantara memang ndeso, tapi bukankah desa adalah tempat yang paling bisa menentramkan hati?

Ifa Alif – Relegi Malang
Jurusan Teknik Informatika Universitas Maiyah Nusantara & Co-founder di www.kwikku.com

LEAVE A REPLY