Perjalanan layaknya sebuah kehidupan. Berawal dari suatu titik, kemudian bergerak, lalu berhenti di titik akhir. Ya, sebuah titik yang akan menjadi titik pemberhentian kita, titik langkah terakhir kita. Dalam perjalanan, tentu akan ada banyak hal yang bisa kita temui. Inilah yang menjadi satu dari sekian alasan kaki ini masih setia dalam langkah. Karena selalu ada hal baru yang bisa menjadi pencerah. Setidaknya, hal-hal baru itu bisa menjadi lentera yang akan menerangi langkah yang semula gelap dirasa.

Kali ini, jemari-jemari ini akan menari sembari menorehkan untaian kata tentang sepenggal cerita. Sepenggal cerita sederhana yang pernah tertangkap oleh mata. Ini adalah sepenggal cerita tentang mencapai tujuan. Dan adalah untuk menyambung tali silaturahim, di antara sekian tujuan yang telah direncanakan.

Kesampingkan Keangkuhan

Singkat cerita, siang itu berangkatlah segerombolan manusia untuk menuju ke suatu tempat yang telah direncanakannya. Tempat yang masih teramat asing untuk sebagian orang dari mereka. Di antara ke tujuh insan yang bernyawa itu, hanya ada dua orang yang pernah ke sana. Dan itu pun sudah teramat lama. Satu tahun lebih ke dua gadis itu tak lagi menginjakkan kakinya di belahan bumi sana. Entah bisikan dari mana, yang memaksa ke dua gadis itu lebih memilih untuk tetap bungkam, tak mau bertanya kepada sang tuan rumah tentang arah jalan menujunya. Meski ke duanya sadar sepenuhnya, bahwa di antara mereka adalah termasuk golongan orang-orang yang agak mudah lupa. Walhasil, bisa ditebak. Segerombolan anak manusia itu sempat kehilangan arah, dan tersesat di daerah yang antah-berantah.

Begitulah hidup. Sekali lagi, jika hidup adalah tentang innalillahi wainna ilaihi roji’un, maka Yang Sejati lah, yang menjadi hulu sekaligus hilir perjalanan hidup. Sebelum dilahirkan di dunia, kita berasal dari Cinta, rumah sejati kita. Lalu ketika dilahirkan di dunia, tak ubahnya dilepaskan di hutan belantara. Kita hanya dibekali ‘kompas’ dan ‘peta’, sebagai petunjuk arah agar tak tersesat dalam perjalanan pulang. Dan di sinilah letak ujian ketangguhan. Apakah kita akan bisa kembali ke rumah yang sejati dengan selamat ataukah tidak. Jika ‘iya’ adalah jawabannya, maka kita telah meraih kemenangan yang sejati itu. Dan jika tidak, maka sungguh tergolong orang yang sangat merugi.

Tak mudah memang membaca ‘kompas’ dan ‘peta’ tersebut. Karenanya, jauh sebelumnya Tuhan telah mengingatkan segenap manusia untuk terus membaca. Ya, belajar membaca ‘kompas’ dan ‘peta’ yang telah dibentangkan di jagad raya ini, sebagai petunjuk arah jalan. Selain itu, karena keterbatasan dan kejahiliyahan kita, terus meminta petunjuk kepada Sang Tuan rumah pun menjadi bagian dari usaha yang tak terelakkan lagi. Karena bagaimanapun, hanya Dia, Sang Tuan rumah lah yang paling mengetahui medan menuju rumah-Nya. Dan jika kita lebih memilih untuk angkuh dan enggan bertanya pada-Nya, maka bersiaplah untuk tersesat di tengah-tengah perjalanan.

Melangkah dengan Berjamaah

Sejenak kembali berkaca pada perjalanan yang ditempuh oleh segerombolan anak manusia tadi. Beruntung, perjalanan itu tak mereka tempuh seorang diri. Mereka berjalan bersama. Hingga ketika berada dalam keadaan paling terpuruk pun mereka masih bisa segera bangkit. Saling menguatkan dan mengisi peran satu sama lain. Bayangkan, jika perjalanan itu ditempuh sendiri. Semua ‘pekerjaan’ dilakukan seorang diri. Bukankah itu akan membutuhkan energi yang jauh lebih ekstra lagi? Mungkin akan sedikit tertolong jika pribadi tadi dikaruniai tenaga yang cukup untuk menghadapi semuanya. Tapi, bagaimana jika ternyata tenaganya tak sebanding dengan medan juang yang dihadapinya?

Dalam perjalanan hidup, tentu tidak semuanya bisa serta merta menuju pos terakhir. Dalam proses perjalanan menuju-Nya, kita akan dihadapkan dengan pos-pos sementara, tujuan-tujuan sementara, sebagai pijakan untuk melangkah menuju Pos Yang Sejati. Dan di sini, dibutuhkan pula langkah-langkah yang tepat dalam perjalanan menuju pos-pos sementara. Agar bisa selamat sampai pos terakhir.

Semua akan terasa lebih mudah, jika perjalanan ditempuh bersama dengan lingkaran-lingkaran yang bertujuan sama. Dengan energi yang sama, kita pun bisa mencapai langkah-langkah yang lebih jauh dari biasanya. Karenanya, bersatu dan merapatkan barisan dengan yang se-visi akan sangat membantu untuk mencapai kemenangan perjalanan. Lebih tepatnya, mungkin kebersamaan dengan lingkaran-lingkaran yang sefrekuensi adalah bukan tentang mudah dan tak mudah. Tapi, ini adalah tentang selamat dan tak selamat. Dengan bersama, kita bisa saling mengingatkan di saat kita mulai lengah dan goyah. Kita akan bisa saling mengingatkan di saat kita mulai kehilangan arah. Hingga peluang untuk selamat dalam setiap perjalanan pun semakin tinggi. Yang harapannya, estafet keselamatan dari setiap pos sementara kita tadi, akan mengantarkan kita pada keselamatan yang sejati. Akan mengantarkan kita pada kemenangan yang sejati.

Berkurban untuk Menang

Selain itu, dalam sebuah perjalanan untuk menuju kemenangan, tentu tak bisa kita tempuh dengan tangan kosong begitu saja. Layaknya sebuah perjalanan pada umumnya, yang membutukan alat untuk sampai padanya. Pun juga dengan perjalanan kita untuk kembali pada Rumah Sejati. Butuh ‘ongkos’ dalam setiap langkah perjalanan. Dan di sini lah letak ujian ketulusan dari pengorbanan.

Sebagaimana yang telah disampaikan oleh Cak Fuad pada suatu kesempatan yang lalu, bahwa urutan berkurban dari yang tertinggi adalah harta – jiwa (waktu dan pikiran) – nyawa. Untuk mencapai tujuan yang sejati, kita pun tak akan bisa menolak yang namanya kebutuhan akan harta. Bahwa bagaimanapun, ongkos yang berupa harta tersebut akan tetap dibutuhkan dalam setiap langkah. Dan kenyataannya, masih sedikit dari kita yang menyadari. Atau, mungkin masih enggan untuk memilih harta sebagai sesuatu yang akan dikurbankan untuk mencapai tujuan. Sebagai role mode terbaik yang pernah ada, Kang Nabi pun juga telah meneladankannya kepada kita. Betapa beliau telah mengorbankan seluruh harta, jiwa, dan nyawanya untuk kemaslahatan umatnya. Tak sedikit pun, beliau gentar memilih jalan tersebut sebagai bagian dari jalan medan perjuangannya.

Selain harta, kita pun dianjurkan untuk mengurbankan jiwa, mengurbankan waktu dan pikiran. Terus mencoba mencari siasat terbaik untuk menghadapi medan juang. Agar langkah kita pun tak hanya sekedar langkah biasa. Lebih dari itu, dengan tak mengenal putus asa mencari langkah dan siasat terbaik, kita pun bisa lebih mempresisikan langkah kita untuk bisa selamat sampai tujuan. Dan sebisa mungkin menghindari langkah-langkah yang justru akan menyeret kita pada lubang-lubang kehancuran.

Hingga pada akhirnya, untuk memperoleh kemenangan yang sejati dari perjalanan panjang, nyatanya kita pun perlu untuk mengenyampingkan keangkuhan kita. Tak pernah bosan mendekat pada Yang Sejati. Terus meminta petunjuk-Nya akan jalan kebenaran untuk bisa selamat berpulang menuju-Nya. Juga mengesampingkan keangkuhan untuk rela berkawan dengan yang satu tujuan. Meredam ego, merapatkan barisan dalam langkah kebersamaan. Dan masih tentang mengesampingkan keangkuhan, agar kita tak terlalu menggebu pada kesenangan dan kebahagiaan seorang. Bahwa kita pun juga harus belajar rela berkurban untuk kemaslahatan lebih banyak orang. Untuk kemaslahatan dan keselamatan bersama sampai akhir tujuan. Hingga kemenangan yang sejati itu bukan lagi milik dia ataupun mereka, tapi kemengan yang sejati itu adala milik kita bersama. Ya, perjalanan ini adalah tentang perjalanan mengesampingkan keangkuhan untuk bersama mencapai kemenangan yang sebenarnya.

Hilwin Nisa’

LEAVE A REPLY