Tak sekali ini buku tebal berjudul KBBI itu keluar masuk lemari. Pun juga aplikasi KBBI di smartphone berbasis android jelly-bean, terbuka & tertutup tanpa pernah bisa memberi makna, apalagi kelegaan hati. Tak putus asa, browsing, googling menjadi harapan yang ‘pasti’ dapat diandalkan, begitu setidaknya hati meyakini saat itu. Tak sampai hitungan jam, apalagi hari atau bulan, ‘kepastian’ itu memberi jawaban. Jawabannya adalah ‘tidak pasti’..sekali lagi, semuanya hanya memberi arti, tetapi sama sekali tak memberi makna.
Begitulah perjuangan seharusnya berlaku, tak berhenti berjalan meski 1000 rintangan menghalangi, demi tercapainya tujuan yang telah direncanakan.

..ku berlari mengejarmu
Sekuatnya tenagaku
Tak hentinya ku melangkah
Mengejar makna-makna
Oh kata-kata..

Dan kaki ini pun terayun lagi sambil bersenandung lagu dari Mas Letto itu. Kali ini berusaha menemui orang-orang tua yang konon jauh lebih kaya pengalaman, bahkan sampai kenyang.
“Kalaupun tak kau temukan di onggokan-onggokan buku ilmiah hingga primbon, cobalah bertanya pada orang-orang tua tentang apa yang kau ingin pahami”. Begitu prinsip menemukan ilmu, katanya..
Berbincang sambil menatap wajah orang per orang, secara bertahap dan bergilir, itu usaha selanjutnya untuk menemukan makna. Hingga puluhan orang-orang tua ditanya, tak jua jawaban itu terkuak. Yang ada adalah kebingungan yang semakin membuncah, karena justru bertemu dengan semakin banyaknya definisi-definisi baru dari pertanyaan itu.
Ini bagaimana rencana ceritanya, koq bukannya melapangkan hati & akal, tetapi justru memperkeruh isi kepala??
Gerakan saja tungkai & lenganmu secara konstan, dengan cara melangkah…itu akan melumpuhkan sebagian besar otakmu, hingga gelombang elektromagnetikmu hanya akan terarah pada satu titik otak, & engkau akan bisa menyelami kedalaman otakmu sedalam-dalamnya, sebagaimana Bima yang menyelami samudera terdalam untuk menemukan Dewa Ruci”..demikian pesan nomor dua yang tiba-tiba melintas di akal manakala pesan pertama mengalami culdesac (jalan buntu).

Tak terasa ribuan detik telah dilalui ayunan tungkai ini, tetapi satu titik untuk menyelami kedalaman otak tak kunjung terdeteksi oleh sensor akal. Hingga sekonyong-konyong kemudian dari speaker butut mobil tua putih itu, lamat-lamat muncul suara:
..coba kau belai dia
dengan segenap rasa
rasakanlah cinta
dengan penuh makna…

Akal yang sedari tadi tampak keruh mendadak menjernih mendengarkan suara khas Mas Letto itu. Tentu bukan karena kekhasan suaranya yang memperjenih suasana akal saat itu, melainkan “jawaban” dari pertanyaan sepele yang tak kunjung terjawab sebelumnya.
Berakhir sudah pencarian selama ini bahwasannya “cinta” takkan bisa didefinisikan ataupun diartikan. Cinta “hanya” perlu dibelai dan dirasakan dengan segenap rasa untuk memahami maknanya.

Semoga Paham

Tak mudah ternyata memang mengungkapkan cinta walau dengan bahasa tubuh, apalagi mengatakan. Dan hari ini sejuta alasan yang menyeruak tiba-tiba telah membantu menjawab rasa penasaran ini, mengapa cinta tak mudah dikatakan..ia membutuhkan komitmen, ia membutuhkan pengorbanan. Ia tak bisa ditransaksikan ataupun diperjualbelikan. Ini bukanlah peristiwa take and give pada dimensi horisontal. Ini adalah peristiwa give and give di dimensi horisontal. Di dimensi vertikal, ini adalah peristiwa take and give antara manusia dengan Tuhannya.

Maka, bila hari ini tak satu kata cinta pun meluncur dari mulut cerewet ini, yakinlah itu tak berarti komitmen ini tidak untukmu. Engkau tahu kan alasannya, dari uraian panjang melebar di atas. Lalu, apakah engkau benar-benar tahu? Jangankan mau tahu, percaya dengan kata-kata itu saja aku menduga engkau juga tidak percaya. Yah begitulah kau, tak mudah percaya apalagi ditundukkan.

Lalu apakah ‘salah’ keyakinanmu itu? Tidak juga, karena kau bukan pihak pertama yang pantas mendapat komitmen ini. Mungkin dalam hatimu kau marah karena tak menjadi yang pertama. Apakah aku tidak bisa menduga isi hatimu itu? Aku sangat bisa menduganya, dan akan membiarkan kemarahan itu meliputimu. Hingga suatu ketika kau akan tahu bahwa salah satu alasan mengapa banyak orang mengandalkanmu adalah karena kau bersedia menjadi yang terakhir.

Tatkala semua orang sibuk menghisap sari-sari kesenangan hingga kemudian tersisa ampas pahit kehidupan, mereka lambat laun meninggalkannya untuk mencari sari-sari kesenangan yang lain. Kau? Tidak! Itu bukan karaktermu, alih-alih mengekor orang-orang itu untuk mencari kesenangan lain, kau memilih merawat yang telah tercampakkan orang, kau memilih untuk membangun reruntuhan yang tidak kau sebabkan. Bahkan kau bersedia memuji ampas-ampas pahit kehidupan yang tak lagi diperhatikan orang.

Maka jangan terburu marah bila tak selalu menjadi yang pertama & utama. Karena begitulah seharusnya hidup. Karena yang pertama dan utama adalah Sang Raja semesta alam, pencipta dan pemelihara hukum-hukum alam agar tak saling melabrak.

Dan percayalah, mengapa manusia begitu tinggi kemuliaannya, itu karena ia tak hanya bersedia tetapi juga sanggup menjadi yang terakhir alias pengayom. Semua orang sanggup ing ngarso (di depan) apalagi seandainya tidak dituntut menjadi tuladha (teladan), pun masih banyak orang yang bersedia berada di madya (tengah-tengah), apalagi seandainya tidak ada tuntutan menjadi karsa (penghubung/mediator). Tetapi amat jarang manusia yang mau dan mampu bersabar dan ajeg (konsisten/istiqomah) berdiri tut wuri apalagi melakukan handayani (mengayomi). Kau tahu makna tut wuri? Itu berarti kau bagian membereskan kekacauan, membangun kembali reruntuhan yang bukan kau pelaku dan penyebabnya. Kemudian juga itu seolah kewajibanmu. Kemudian lagi tiba-tiba saja semua beres seperti sedia kala. Dan kemudian lagi tak satupun orang yang tahu apalagi mengingat peran dan jasamu. Dan sekedar mengeluh pun kau tak punya tempat, apalagi sampai demonstrasi. Hingga kemudian muncul kesadaran bahwa tak ada tempat terbaik untuk mengeluh dan mengadukan ini semua kecuali kepada yang Maha Kasih Sayang.

Sudah ku Bilang

Sepertinya masih akan panjang yang ingin terpancar liar dari dalam kepala ini. Entah sudah berapa hari jemari ini menari di atas laptop kesayangan ini tetapi tak jua menemukan titik akhir dari deretan huruf ini.

Sequel film itu semakin memberi alasan pemaaf mengapa ini tak juga berakhir. Bahwa seluruh urusan dunia selalu bisa dilipat menjadi 0 dan 1. Kau tahu maknanya kawan? 0 dan 1 tak lain merupakan bilangan biner, bahasa programming kata anak-anak TI. Intinya adalah semua peristiwa itu akan memunculkan karakternya, sehingga bisa ditebak kemana arah sebuah titik. Kumpulan arah antar titik yang kemudian disebut algoritma. Intinya lagi adalah semua peristiwa selalu bisa ditebak kemana arahnya, kemana titik akhirnya. Tinggal seberapa banyak data yang kau punya, semakin besar data maka algoritma itu akan semakin presisi.

Tetapi dunia memang dicipta untuk tak sempurna. Ini juga semacam algoritma juga. Ini yang menjadi alasan agar manusia tak mudah putus asa, karena selalu ada kemungkinan lain walaupun kecil diantara ‘kepastian-kepastian’ ciptaan manusia.

Begitu pula peristiwa-peristiwa dunia yang ‘nyaris’ semuanya bisa dilipat menjadi 0 dan 1, ternyata ada satu peristiwa yang hingga kini tak bisa dilipat menjadi  0 dan 1. Tahukah kau apa peristiwa itu?

CINTA!!

Itu jawabnya! Dan amatilah, ketika kata itu keluar apakah perbincangan ini akhirnya akan selesai? Nyatanya tidak! Ia malah membawa kemungkinan baru bahwa perbincangan panjang baru saja akan dimulai. Semakin mendalam mencarinya, semakin banyak muncul ketidaktahuan. Bahkan detik ini pun, akal ini tak jua menemukan jawaban apakah CINTA ini kata benda, kata sifat, kata kerja, kata keterangan ataukah kata-kata yang lain.

Lalu, apakah cinta itu dirasakan, diungkapkan dengan bahasa tubuh atau justru dengan diam, diucapkan dengan keras atau malah cukup dengan bergumam?

Silahkan bila mau dilanjut, tetapi sudah kubilang, ia tak bisa dilipat menjadi 0 dan 1. Bahkan untuk sekedar mengucap Selamat ulang tahun Cintaku, itupun tak terucap dan terungkap. Hingga waktu pun tak jua mampu memaksa untuk menyelesaikan rangkaian algoritma ini.

Sekali lagi sudah kubilang, ya beginilah caraku mencintaimu, cara tanpa kejelasan. Tapi yakinlah, kalaupun masih ada usaha membangun rasa cinta di hatiku, itu bukan usaha membangun rasa kepadamu, tetapi akan kukonsentrasikan penuh kepada Sang Maha Keindahan Cinta. Dan marilah kita berharap, usaha itu akan memercik kembali kepada kita dan keluarga kita.

Selamat ulang tahun pada khayalanku sepanjang hidup, Y. Karina R.

Christyaji Indradmojo Kepada Cintanya

LEAVE A REPLY