Taken by Nafisatul W.

Akhir bulan lalu, 30 Maret 2020, tiba-tiba kami mendapat kabar kurang mengenakkan dari salah seorang saudari kita di Jerman. Melalui video call, meski tidak disampaikan secara tersurat, saya menangkap berita sedih itu. Ya, dia yang bekerja menjadi seorang perawat di salah satu Rumah Sakit Jerman, baru saja mendapati hasil positif pada tes Covid-19.

Mensedekahkan Diri

Sedih, khawatir, dan semburat optimis beradu bangga padanya bercampur jadi satu. Entah kenapa, saya yakin bahwa segala sesuatu tidak pernah berdiri sendiri-sendiri. Terjadinya sesuatu, pasti ada maksud baik Tuhan yang mengiringi. Di antara sedih dan khawatir, optimis saya masih sedikit mengungguli, bahwa dia dipilih, karena dia dinilai mampu melewati semua ini.

Sambaran berita di akhir bulan itu ternyata belum berhenti di situ. Jika sesuai anjuran kesehatan, seseorang yang positif Covid-19 harus mengisolasikan diri selama 14 hari di masa penyembuhan, rupanya ini masih belum pasti berlaku pada saudari kita itu. Sebagai seorang perawat, kemungkinan lain bisa saja terjadi padanya.

Selama masa pandemi ini, Rumah Sakit tempatnya bekerja dibagi menjadi dua, satu Rumah Sakit khusus untuk pasien Covid-19, dan satunya untuk menangani pasien non Covid-19. Jika sewaktu-waktu pasien Covid-19 terus bertambah, dan pihak Rumah Sakit kewalahan menanganinya, apa kira-kira kemungkinan yang akan terjadi?

Ya, betul. Satu-satunya yang paling rasional adalah dengan tetap meminta tolong pada para tenaga medis yang positif Covid-19 untuk tetap membantu menangani dan melayani pasien. Para tenaga medis yang positif Covid-19 membantu melayani pasien di Rumah Sakit yang khusus untuk pasien Covid-19. Ini adalah di antara solusi yang paling rasional, meski harus mengalahkan rasionalitas yang lain, yakni melindungi diri sendiri.

Ini memang pilihan yang berat, tapi di sini lah Maiyah saudari kita itu diuji. Dan rupanya memang benar, sebelum benar-benar diminta untuk menjalani kemungkinan itu, ia pun dengan suka rela sudah mengikhlaskan dirinya sendiri, ia sedekahkan dirinya sendiri untuk dunia. Sedekah, karena ini bukan kewajibannya, ta-pi ia dengan besar hati merelakannya.

Meminjam bahasa Bapak Guru, dalam situasi seperti ini, saudari kita itu mungkin memang bukanlah sosok yang pemberani. Tapi, tidak ada lagi pilihan baginya selain untuk tidak berani. Tak ada lagi ruang baginya untuk takut. Barang kali, ini pulalah yang sebaiknya kita teladani, bahwa dalam situasi seperti saat ini, mau tidak mau kita harus hadapi dengan berani. Tentu dengan tetap dibarengi kewaspadaan dan mawas diri.

Menolak, denial dengan segala aksi, abai dengan imbauan para ahli, seolah-olah kita tidak akan pernah berada di posisi seperti ini, rasanya bukanlah pilihan yang tepat untuk kita ambil saat ini. Masalah pandemi ini benar-benar terjadi, dan sudah ada di depan kita. Mau berkilah lagi, bahwa pandemi ini hanya menyerang sekelompok tertentu dan aman untuk kelompok yang lain, saat ini bukanlah waktu yang tepat untuk memperdebatkan semua itu.

Jerman Guru Kemanusiaan

Beruntung, kemungkinan terburuk yang sempat diwacanakan itu tidaklah terjadi hingga detik ini. Saudari kita itu tidak jadi bekerja di masa yang seharusnya menjadi masa isolasinya. Ia tetap diisolasi.

Di saat kami yang di sini kebingungan untuk men-support seperti apa, selain doa dan mengajaknya bercanda sembari obrolan receh tentang rencana-rencana kecil kita sepulangnya nanti ke tanah air, ternyata kita sudah kalah telak dengan perlakuan masyarakat Jerman.

Mendengar ceritanya tentang bagaimana gurunya, kepala sekolahnya, departemen kesehatan di sana memperlakukan dia di sana, rasanya kami malu sekaligus ikut bersyukur terharu.

Setiap pagi, tidak pernah absen kepala sekolahnya dan petugas dinas kesehatan sana menelponnya untuk sekadar menanyakan kabarnya. Bahkan, kepala sekolahnya melobi pihak Rumah Sakit untuk membantu menyiapkan kebutuhan makanan untuk saudari kita itu selama masa isolasi. Beliau-beliau juga sering menanyakan pada saudari kita itu, adakah keperluan lainnya yang dibutuhkan agar beliau-beliau bisa membantu menyediakan.

Dan yang tak kalah bikin malu, sosok kepala sekolah tempatnya menimba ilmu keperawatan berkenan mengantarkan makanan yang telah disiapkan pihak Rumah Sakit untuknya sampai ke depan pintu kamarnya yang berada di lantai 10. Bahkan, ketika hari Jumat Agung kemarin, sang kepala sekolah masih sempat menanyakan padanya, adakah teman yang bisa mengambilkan makanan untuknya, agar ia tak sampai keluar kamar, kalau tidak ada, sang kepala sekolah pun bersedia untuk datang dan mengambilkan makanan untuknya. Padahal, jarak rumah kepala sekolah dengan asrama tempat ia tinggal cukup jauh, sudah berbeda kota.

Konon, jika ingin mengetahui bagaimana karakter asli seseorang, lihat lah saat di masa-masa kritis. Dan Jerman mengajarkan bagaimana sangat beradabnya mereka. Di saat masa-masa genting seperti saat ini, nyatanya kemanusiaan tetaplah segalanya. Bahwa di atas agama, ras, suku, bangsa, negara, masih ada kemanusiaan yang menyatukan kita semua. Dan sudah sepatutnya kita belajar bagaimana menjunjung nilai kemanusiaan pada mereka.

Berkiblat ke Mana Kita?

“Sebenarnya kan itu adalah nilai-nilai yang diajarkan oleh agama kita.” Kurang lebih begitulah yang disampaikan Ustadz Fuad Minggu malam kemarin dalam suatu kesempatan silaturahim virtual.

Kemudian Ustadz Fuad juga menceritakan bahwa ada seorang mahasiswa dari Jerman yang akhirnya memeluk agama Islam karena terkesan dengan sosok Salahudin Al Ayyubi. Panglima perang itu bahkan pernah menyamar sebagai dokter untuk mengobati raja yang menjadi musuhnya dalam suatu peperangan. Sungguh, betapa mulianya akhlak beliau.

Keagungan akhlak sosok Singa Padang Pasir itu telah diidolakan banyak pemuda Jerman. Sampai-sampai, ada yang pada akhirnya memeluk agama Islam lantaran beliau. Dari sini dapat dilihat bahwa tidak sedikit pemuda Jerman yang ingin meneladani kemuliaan akhlak beliau. Lantas, apa kabar kita sebagai orang-orang yang telah terlahir dan dibesarkan di lingkungan yang mayoritas muslim? Apakah kita sudah bergerak belajar meneladani mulianya akhlak beliau? Tidak perlu dijawab, cukup jadi perenungan dan muhasabah masing-masing kita saja. Semoga kita sama-sama bisa belajar menjadi agen penerus yang meneladani nilai-nilai mulia, seperti yang telah dicontohkan oleh para pendahulu kita.

Pada malam silaturahim bertajuk Landungsari Menyapa itu Ustadz Fuad sedikit bercerita tentang bagaimana pemerintah Saudi menyikapi pandemi ini. Berdasarkan cerita Ustadz Fuad, pemerintah Saudi cukup tegas dalam menangani masalah ini. Pembatasan wilayah benar-benar dilakukan. Tentu keputusan ini bukan tanpa resiko. Setiap keputusan pastilah ada resikonya, hanya keputusan mana saja yang bisa minim resiko. Pemerintah Saudi hanya ingin pandemi ini segera berakhir, dan segera bisa beraktivitas normal kembali.

Pada malam itu, bergabung juga dr. Christyaji. “Di sana ada larangan mengubur jenazah juga mboten, Ustadz?” Tanya beliau pada Ustadz Fuad saat bercerita tentang pemerintah Saudi. Sontak kami tertawa. Sindiran yang halus pada masyarakat kita.

“Sebenarnya Indonesia ini berkiblat ke mana, Ustadz?” Lagi-lagi pertanyaan yang tampak sederhana dari dr. Chris ini kembali menyentil kesadaran kami. Dunia bagian Timur dan Barat berperilaku sama. Di mana-mana, hampir semua negara cukup tegas dan serius menangani pandemi ini. Dan kemanusiaan mereka juga masih tetap terjaga rapi. Belum pernah beredar kabar penolakan jenazah Covid-19 yang ditolak dimakamkan selain di Indonesia, apalagi jenazah tersebut adalah tenaga medis semasa hidupnya.

Padahal, menurut penjelasan dr. Chris, penyakit Covid-19 bukanlah penyakit yang menular lewat cairan tubuh. Penyakit ini menular lewat cairan yang keluar dari saluran pernapasan. Jadi, kita seseorang sudah meninggal, dengan melalui prosedur pemandian dan pengurusan jenazah yang sesuai anjuran agama juga sudah tidak akan menularkan lagi penyakitnya. Karena virus yang bersamayam dalam tubuhnya juga ikut mati mengikuti inangnya.

Pada banyak potret yang beredar, di negara-negara lain, pasien Covid-19 juga tidak dikucilkan. Justru mereka mendapat support yang luar biasa dari keluarga dan orang-orang di sekitarnya. Menjadi pasien Covid-19 itu bukan aib. Ini adalah masalah kita bersama, mari kita hadapi bersama-sama. Saling menguatkan satu dengan yang lainnya. Semoga semua ini lekas mereda dan kembali normal seperti sedia kala.

“Masalahnya sekarang, kita tidak belajar secara benar, dan memutuskan sesuatu berdasarkan rumor.” Kurang lebih itulah sedikit poin yang saya tangkap dari sinau bareng virtual malam itu. Atas semua kejadian ini, tak ada salahnya jika kita sedikit meletakkan keegoan kita masing-masing, dan kembali belajar pada yang lebih paham, bagaimana sebaiknya kita menghadapi dan menyikapi masa-masa ini. Agar tak sampai salah lagi dalam bersikap, hanya berdasarkan rumor yang kita pun tak tahu siapa yang akan bertanggung jawab.

Dan bila suatu saat kita bertemu dengan saudari kita yang di Jerman itu, kita bisa menyapanya dengan Nafisatul Wakhidah.

 

Jakarta, 14 April 2020, 22.53 WIB

Hilwin Nisa’

LEAVE A REPLY