Bismillah… “Segala sesuatu baiknya diniatkan, karena niat akan sampai pada tujuan.”!!

Galau batin beberapa hari tak tersembuhkan. Bukan karena menderita, bukan pula karena sakit, apalagi karena lapar di bulan puasa. Ramadhan yang katanya “bulan penuh rahmat” harusnya membawa diri lebih giat untuk beribadah, mungkin karena berada di rumah. Benar kiranya, kenyamanan lebih banyak membawa diri pada kelenaan alias ke-enak-an.

Bicara tentang puasa. Suatu syariat yang Tuhan menyuruh langsung agar manusia bertakwa. Sarana dimana manusia dapat menafikkan kebiasaan dan hal-hal yang bersifat keduniawian. Maka puasa adalah ibadah khusus yang diperintahkan Tuhan.

Mencuplik lagu populer Raja Dangdut pada masanya, Rhoma Irama tentang Darah Muda.

Darah muda darahnya para remaja
Yang selalu merasa gagah
Tak pernah mau mengalah
Masa muda masa yang berapi-api
Yang maunya menang sendiri
Walau salah tak perduli
Darah muda

Biasanya para remaja
Berpikirnya sekali saja
Tanpa menghiraukan akibatnya
Wahai kawan para remaja
Waspadalah dalam melangkah
Agar tidak menyesal akhirnya

Darah muda darahnya para remaja
Yang selalu merasa gagah
Tak pernah mau mengalah
Darah muda

 


Siapa yang kiranya tak pernah mendengar lagu darah muda? Lagu yang berisikan kritikan kepada kaum remaja atau pada “para pemuda” selain enak didengarkan dan dinyanyikan lagu ini juga memiliki arti yang mendalam.

Bang Rhoma (sapaan akrabnya) mampu menyihir banyak orang dengan suara dan lagu-lagunya yang khas. Tentu bukan perkara mudah apalagi enteng untuk memberi pengaruh banyak orang hanya dengan bersenjatakan sebuah lagu.

Hanya lagu berisi dan serasi antara bait dengan melodi yang enak didengarkan. Tak hanya terdiri dari komposisi melodi yang pas melainkan juga kata-kata bermakna yang sarat akan nasihat dan makna kehidupan, itulah mungkin mengapa sampai era modern seperti sekarang ini pun lagu Bang Rhoma itu masih saja digemari banyak orang.

Bicara tentang lagu, syair yang dibawakan bersama dendang musik telah mendapat bagian tersendiri di hidup siapa saja. Mulai dari anak-anak,  remaja, orang dewasa, sampai orang tua pun berdendang, bahkan sesekali berjoget jika mendengarkan irama lagu.

Lagu biasanya berisikan dengan bait-bait kalimat. Bila dipecah kembali, kalimat-kalimat tersebut terdiri dari beberapa kata. Dan Tiap-tiap kata mengandung suku kata. Dan satuan terkecil penyusun kata adalah HURUF. Huruf sendiri merupakan simbol  perwujudan betapa tingginya peradapan dan kompleksitas akal manusia. Hingga huruf-huruf tersebut bilamana dikumpulkan menjadi kata lagi-lagi dapat pula menunjukkan representasi dari bahasa manusia.

Terdiri dari 26 huruf abjad, yang berbeda satu sama lain. Tiap huruf memiliki karakter dan bunyi masing-masing. Terdapat Huruf vokal (a-i-u-e-o) dan non vokal (selain huruf vokal). Perpaduan antara kedua jenis huruf itulah yang menjadikan kata dapat dilafadzkan, diucapkan, disusun menjadi kalimat indah dan didendangkan untuk dinikmati setiap telinga.

P-E-M-U-D-A

Seperti halnya lagu Bang Rhoma, Masa Remaja atau Pemuda ialah masa di mana pencarian jati diri bagi anak manusia. Pemuda ialah fase rentan dimana anak manusia mengalami banyak perubahan menuju kematangan. Tak heran bila masa muda penuh dengan ambisi, tantangan, dan rasa keingintahuan. Berada pada puncaknya kondisi prima fase manusia (baca: Pemuda), maka pada fase inilah manusia kebanyakan akan mendapati banyak godaan dan cobaan.

Layaknya mata pisau, menguntungkan sekaligus rentan menghujam, begitulah masa muda bila tak digunakan dengan baik. Mengapa? Di samping pertumbuhan keingintahuan yang besar, struktur fisik yang mencapai puncak, kematangan emosi dan mental yang hampir utuh sangatlah mendukung para pemuda untuk melakukan apa saja. Maka di sinilah pemuda harusnya perbanyak berpuasa. Menahan dari setiap keinginan dan pilihan di luar batas mereka.

Bila ditarik jauh seperti layaknya huruf, pemuda satu sama lain pun tak kalah unik. Perbedaaan yang kompleks, dapat membuat para pemuda menjadi sebuah kekuatan besar bila berhimpun. Samalah seperti Huruf yang menyusun suatu kata, takkan berbunyi bila huruf-huruf tak bersatu, takkan menjadi kalimat indah bila kata dengan kata lain tidak berpadu.

Untuk berbaur pun tidak se-sepele menyatukan huruf. Perlu hati yang legowo dari setiap pemuda berkarakter huruf H, E, B, A, dan T yang mau bergabung saling belajar dan melengkapi hingga akhirnya mereka disebut sebagai sekelompok pemuda HEBAT. Sekali lagi, tidak sepele yang dimaksud salah satunya adalah penyatuan personalitas. Perlu adanya pemahaman akan personalitas atau karakter diri dari masing-masing pemuda untuk mengetahui dimanakah letak posisi dirinya. Apakah ia huruf vokal atau non vokal? Apakah ia berada di urutan pertama atau urutan terakhir di dalam susunan kata.

Namun perlu di garis bawahi bahwa bukan berarti dengan nguri-nguri personalitas mendukung setiap pemuda untuk menjadi idealis tur individualis. Justru sebaliknya, kata seorang bijak keanekaragaman personalitas justru diperlukan guna saling mengenal dan memperkuat personalitas diri sendiri. Yang mana hal tersebut akhirnya akan membawa pada kebermanfaat dalam hidup di masa mendatang.

Di samping itu, membedakan diri menjadi karakter huruf A, N, X, atau W pun bukan berarti huruf satu sama lain bertingkat (lebih baik), akan tetapi tiap-tiap huruf memiliki kedudukan sama, sama-sama unik! Begitu juga dengan pemuda. Keunikan dan personalitas yang beragam bila satu sama lain perlu dikumpulkan untuk menjadi kekuatan yang besar.  Seperti kata yang takkan terbaca bila tak ada huruf, seperti kalimat yang takkan bermakna bila tak berpadu dengan kata lainnya, para pemuda yang berhimpun diharapkan nantinya mampu membentuk struktur masyarakat yang harmoni lagi berbekal personalitas diri sejati.

 

Penulis : Nadya Fadillah

SHARE
Previous articleDataran Lantai yang Landai
Next articleMasterpiece

LEAVE A REPLY