2 Maret 2018 dalam suatu siang perjalanan menuju Bandara Adisutjipto Yogyakarta dengan tujuan akhir München Flughafen. Ponsel saya tiba-tiba bergetar, Notif Whatsapp menunjukkan
sebuah pesan dari Dokter Arief Wibowo yang sedang berada di Belgia.

Beliau menyampaikan keinginannya untuk bisa mengucapkan terima kasih kepada Mbah Nun karena telah didoakan sewaktu apply grant yang pada saat itu bersamaan dengan datangnya Mbah Nun ke Belgia pada akhir Desember 2016 lalu. Juga dari penelitian tersebut Dokter Arief mendapatkan Prize Winning Award dari King Baudouin Foundation (Yayasan Raja Belgia).

Mengangkat penelitian berjudul Neovascularization Potential Exosomes Derived from Blood Outgrowth Edothelial Cells in Ischemic Cardiomyopathy (Potensi Terapi Exosomes pada Pasien Gagal Jantung Ischemi), sebagai salah satu hasil dari project program doctoral bertajuk Identification and Characterisation of Exosomes Derived from Blood Outgrowth Edothelial Cells in Oxidative Stress Conditions. Dokter Arief berharap dapat membantu sebanyak mungkin orang dalam penanganan penyakit jantung dengan teknik pengobatan mutakhir. Penelitian yang sudah dimulai sejak 1 Juli 2014 ini lahir dari kegelisahan sebagai seorang dokter yang menemui beragam fenomena pasien yang tidak bisa dijawab kala duduk di bangku kuliah, koassisten maupun pendidikan spesialis. Kemungkinan jawaban dari kegelisahan tersebut masuk hingga ranah yang bersifat biomolecular di level selular dan sub-selular. Hal yang bersifat supermikro dalam ukuran dan mekanisme fisiologi tubuh. Jadi tidak mungkin dilihat secara kasat mata ataupun pemeriksaan sederhana.

Dari keresahan tersebut akhirnya membuat Dokter Arief mengambil keputusan untuk mengambil program doktoral atau S3 agar bisa belajar kembali dan bereksperimen untuk bisa menemukan jawaban dari pertanyaannya selama ini, program ini ditempuh di Departemen Ilmu Kardiovaskular di Katholieke Universiteit Leuven (KUL). Disana merupakan salah satu center terdepan di Eropa dalam bidang Stem cells and translational medicine untuk Kardiovaskular.

28 Februari 2018 Kerja keras Dokter Arief pun berbalas pasalnya pada hari tersebut menjadi momen berharga. Beliau satu-satunya peneliti Indonesia yang mendapatkan penghargaan bergengsi King Baudouin Award sebagai Honorary Laureate di bidang kardiovaskular di Brussel dalam rangka peringatan Hari Penyangkit Langka.

“Arief Wibowo adalah satu-satunya orang Indonesia yang mendapatkan penghargaan pada Peringatan Rare Disease Day,” papar Ance Maylany, Sekretaris Satu Pensosbud KBRI Brussel kepada harian Antara.

Atas penelitian tersebut beliau menyabet dua Award yakni Paul Dudley White Award dari International Science Team Award America dari American Heart of Association dan King Boundwijnstichting Award dari Yayasan dibawah Kerajaan Belgia. King Baudouin Foundation memberikan dana sebesar 166.000 Euro. Rencananya dana tersebut akan dipakai untuk kolaborasi penelitian lanjutan antara Departemen Kardivaskular Fakultas Kedokteran Universitas Padjajaran/Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung dengan Rumah Sakit di Belgia tempat penelitian sebelumnya

De-Javu pada Jumpa Pertama dengan Sang Guru

Perjalanan Dokter Arief mengenal Mbah Nun sudah dimulai sekitar 12-15 tahun yang lalu kala beliau masih menjalani masa pendidikan dokter umum. Saat itu Beliau tertarik karena Mbah Nun ‘nyentrik’ dan entah mengapa Beliau juga memiliki feeling akan bertemu dengan Mbah Nun dan belajar tentang hikmah kehidupan. 23 Desember 2016 feeling itu pun kemudian nyata adanya.

“Eeh ternyata Allah memang memberikan rizki itu, Alhamdulillah. Saya seperti nostalgia kembali dengan kenangan dulu waktu saya punya firasat suatu saat bertemu dengan Beliau. Saat akhirnya bertemu dengan Beliau saya merasakan energi dan kedamaian yang sulit dijelaskan, seperti reuni dengan De Javu,” ungkap Dokter Arief.

Perihal Maiyah Dokter Arief memaparkan bawa ‘Maiyah’ itu terasa tidak asing walaupun sejujurnya saat itu Beliau belum begitu tau akan artinya. Akan tetapi setiap kali Dokter Arief mendengar nama Maiyah, serasa nama tersebut adalah salah satu tempat dimana beliau bisa pulang untuk bisa sama-sama mengadu rindu kepada Sang Khalik, tempat dimana bisa bersendau gurau tentang kebodohan diri dan kefanaan dunia sebagai pengejawantahan hawa nafsu, tempat dimana bisa bermanja ria dengan menimba ilmu kepada Sang Guru.

Selamat Dokter Arief, Berkah di Bumi dan Berkah di langit seluruh ilmunya.
2 April 2018
Nafisatul Wakhidah
Baden Württemberg, Jerman

 

IMG-20180402-WA0003

LEAVE A REPLY