Bagi para jamaah Maiyah, tentu kata Maiyah sudah tidak asing lagi untuk diperdengarkan. Meskipun tak menutup kemungkinan jika Maiyah punya arti tersendiri bagi setiap jamaah. Secara umum, bisa dibilang jamaah Maiyah merupakan suatu jamaah yang secara rutin berkumpul dalam forum bersama Emha Ainun Nadjib (Cak Nun). Bisa dibilang juga Maiyah merupakan suatu pengajian. Akan tetapi pengajian Maiyah tidak seperti pengajian pada umumnya. Bagi saya pribadi, Maiyah merupakan bagian dari anugerah terindah yang telah dihadiahkan oleh-Nya. Maiyah telah menjadi bagian dari jawaban tentang banyak do’a dan temuan atas sebuah pencarian.

Di kehidupan masa lalu. Jauh sebelum telinga akrab dengan kata Maiyah. Sempat punya pengalaman yang cukup ‘mengesankan’ dengan ‘para penegak tiang agama’ yang menurut saya bersertifikat high quality dalam hal beribadah kepada-Nya. Risikonya, kaum abangan seperti saya ini pun akhirnya mendapatkan rapor yang ‘ya begitulah’ dari beliau. Seketika hanya berujar dalam hati. Berharap agar dipertemukan dengan orang-orang yang terlihat ‘biasa-biasa’ saja, akan tetapi sebenarnya sangat ‘luar biasa’. Orang-orang yang akan memeluk, merangkul, dan meluruskan jika memang laku ini masih dirasa belum lurus. Bukan malah ‘distempel’ yang rasanya justru menjadi sekat. Begitu do’a spontan yang terucap sekitar lima atau enam tahun yang lalu. Saat masih akrab dengan seragam putih abu-abu.

Dan ternyata empat atau lima tahun setelah itu, Tuhan telah menggiring diri ini untuk turut bisa belajar di Universitas Maiyah melalui perantara seorang gadis. Banyak hal yang saya temukan dalam Maiyah, yang belum tentu akan saya dapatkan di luar sana. Saya sangat bersyukur telah dipertemukan dengan mereka, para jamaah Maiyah yang sangat rendah hati juga luar biasa dalam pandangan kaca mata saya. Melalui mereka, Tuhan telah menunjukkanku kekuatan dari sebuah ketulusan. Melalui mereka pula, seolah Tuhan telah mendongengiku cerita-cerita ‘gila’ dari ‘orang-orang gila’.

Entah kegilaan apa yang bisa mendorong para Maiyahwati itu untuk lebih memilih keluar dari zona nyaman dan ‘kelayapan’ tengah malam guna turut ngangsu kaweruh bersama para jamaah Maiyah yang lainnya. Entah apa pula yang bisa sampai mendorong mereka untuk berani menyusuri jalanan malam kota Malang tanpa ditemani sosok laki-laki. Di saat yang lain lebih memilih duduk tenang dalam kos, berkencan dengan laptop, skripsi, dan segala tetek bengeknya, mereka justru lebih memilih ngemper di serambi masjid sampai tengah malam. Dilanjut dengan manthengi laptop berkutat dengan skripsi di warung kopi sampai pagi. Karena besok harinya masih harus menepati janji untuk konsultasi skripsi.

Belum lagi tentang kegilaan para mahasiswa itu. Di saat mayoritas seluruh pemuda dunia lebih memilih pikinik, jalan-jalan dan senang-senang atau bahkan mencari uang, para pemuda itu justru lebih memilih menepi di daerah terpencil pulau Madura, Sapudi. Membantu menghadirkan listrik, menjadi perantara sedikit cahaya yang belum banyak dinikmati saudara sebangsanya di pucuk pulau yang tak terjamah welas asih pemerintah. Menyedekahkan pikir, tenaga, waktu dan segala kesenangan lain. Tanpa ada iming-iming. Perih, perih sekali saat menyaksikan peradaban kota bergelimang cahaya kelap-kelipnya sampai ke pelosok cafe, karaoke hingga diskotik, namun melupakan banyak wilayah yang masih memanfaatkan cahaya ublik. Mata ini pun tak hanya berkaca-kaca, memang sepantasya kita harus kembali berkaca. Atas segala syukur, tentang sebuah nikmat yang tak semua manusia dititipi kesenangan yang sama.

Ada lagi cerita gila dari seorang gadis yang cantik paras dan pemikirannya. Belum habis pikir, bagaimana bisa di saat sudah diterima di Universitas ternama Australia, gadis itu justru lebih memilih untuk tetap tinggal di Indonesia. Merelakan apa yang dia punya, baik materi maupun non materi untuk kebaikan Maiyah. Hanya ingin berjuang dan mengabdi bersama Maiyah.

Sementara itu, di seberang sana ada seorang dokter yang juga tak kalah ‘gila’. Entah kegilaan seperti apa yang telah mendorong ia untuk lebih memilih ngaji  di Padhang mBulan tiap bulan sekeluarga. Rombongan keluarga kecilnya rutin PP Malang-Jombang selepas maghrib sampai menjelang subuh. Padahal pagi harinya, beliau masih harus menjalani aktivitasnya di RSUD dan juga mengajar di salah satu Universitas Negeri yang berada di Malang. Lelah itu pasti, membuka mata sampai larut ditambah harus menyetir seorang diri disaat seisi mobil terlelap. Ia membebani diri untuk tetap terjaga dan memaksa tubuh pura-pura bertenaga. Melindungi, mengayomi hingga penumpangnya tak kekurangan suatu hal apapun sampai Malang. Begitu saja berulang tiap bulan.

Di tengah kesibukannya, ia juga masih menyempatkan badan mendampingi beberapa mahasiswa pencari cahaya. Tak lupa terus mendorong untuk turut belajar memancarkan cahaya yang berhasil dihimpun. Sangat total, menjalani profesi sembari melayani. Terkadang juga dimanfaatkan jadi pelayan, oleh orang-orang yang gemar pada dunia. Pak dokter sepertinya terlalu sayang jika sesuatu yang baik didiamkan tanpa pernah dibagi. Tak jarang beliau selalu menyengajakan terjaga sampai mendekati adzan subuh dikumandangkan. Lalu tergeletak tak berdaya, bukan untuk niat membatasi kemampuan badan, hanya sejenak mengalah pada lelah. Sebab bagi dokter manapun, tubuh selalu punya hak untuk mendapat asupan istirahat.

Tentu yang beliau lakukan bukan sekedar begadang tiada guna. Akan tetapi, itu semua adalah wujud usaha memaksimalkan peran dalam melakoni profesi dan membermanfaatkan diri, memang terlihat hanya sekadar mendampingi sekelompok mahasiswa yang tengah mencari dan belajar memancarkan cahaya. Namun di belahan bumi mana lagi ada orang yang bertingkah seperti dia. Sudah jarang dan makin jarang.

Seolah tak ada lagi ruang dalam pikirannya untuk hanya sekadar memikirkan diri sendiri. Hingga tubuh mengirim early warning system, memperingatkan dengan mesra melalui rasa sakit yang hanya ia seorang mampu menjelaskan. Namun rasa sakit itu pun tak membuat berhenti apalagi jera. Masih saja memikirkan orang lain, tetap saja memantau kelompok mahasiswa itu. Di tengah rasa sakit yang seringkali menghimpit, sesak yang lebih sakit dari sekadar tersedak, ia tetap mamacu para pembawa obor kecil itu. “Menyaksikan kalian terus berproses dan mencoba memancarkan sesuai dengan jalan dan karakter kalian, sudah lebih dari cukup untuk membuatku sebahagia ini. Itu semua, sudah lebih dari cukup untuk menyembuhkan duka lara.” itulah kiranya yang ingin ia sampaikan pada mereka, sekelompok mahasiswa itu, tanpa sedikit pun ingin membagi rasa sakit yang tengah ditanggung. Ia benar-benar menghayati peran, melakoni apa yang telah dituturkan Mbah Nun. Berlaku keras pada diri sendiri dan berlemah lembut pada yang lain.

Tak kalah gila, di Blitar sana ada seorang jamaah. Entah apa yang mendorongnya untuk menghadiri pengajian Maiyah Bangbang Wetan Surabaya dengan menaiki sepeda onthel dari Blitar. Dengan segala kerendahan hatinya dia pun mengaku kalau apa yang dilakukannya itu hanya biasa saja. Karena yang dipunya hanya sepeda onthel, jadi baginya ya biasa saja kalau ke Surabaya dengan menaiki sepedanya itu. Sungguh, betapa pemuda itu sangat mensyukuri apa yang telah dianugerahkan-Nya. Tanpa ada sedikit pun protes apalagi mengeluh.

Masih banyak lagi ‘cerita-cerita gila’ dari ‘orang-orang gila’ yang saya temui di Universitas Maiyah. Mendengarkan dongeng-dongeng ‘gila’ itu, saya pun merasa sangat malu beradu decak kagum. Kekaguman akan ketulusan dan kesucian hati mereka. Malu karena diri ini masih sangat jauh untuk meneladani cara bersyukur dan ketulusan hati. Seolah dongeng-dongeng itu turut membuktikan apa yang telah dituturkan oleh Mbah Nun, bahwa kekuatan Tuhan ada dalam ketulusan dan kesucian hati seseorang. Seberapa berat pun rintangan, asal hati tulus dan ikhlas, pasti akan ada jalan dan pertolongan dari-Nya. Yang tadinya nampak tak mungkin, ternyata menjadi mungkin saja. Keajaiban Tuhan seakan terpancar, semakin nyata dalam setiap kesucian dan ketulusan. Tabung!  menabung kesucian. Panen! memanen kemudian.

Penulis : Hilwin Nisa’

LEAVE A REPLY