Tuhan Tega!

Tak berhenti di sini, kekonyolan berjalan terus. Sebuah keputusan bertindak, yang sekilas sepertinya didasarkan pada pertimbangan orang kurang akal.

Bayangkan…!

Dua orang gadis ini terlambat satu menit datang ke stasiun tatkala kereta itu sudah bergerak di atas rel ke arah barat. Tanpa berakal panjang mereka berdua mengejar kereta itu dengan ojek. Sebuah ‘rezeki’ bagi para pengojek. Mumpung ada orang ‘gupuh‘ (panik) bolehlah ditarif tinggi. Ojek-ojek ini ‘tahu’ dua gadis ini lagi butuh banget. Dan ojek-ojek ini bisa jadi tahu bahwa dua gadis ini sedang melakukan tindakan ‘tidak mungkin’ alias konyol.

Ini kekonyolannya, dengan kondisi jalan raya yang semakin sesak dengan mobil dan motor. Apalagi di jam-jam sibuk pagi menjelang siang, pada jarak tempuh 30 km, berapa persen kemungkinan moda transportasi jalan raya bisa mengalahkan kecepatan kereta api yang menggelinding mulus di rel tanpa hambatan? Nyaris tak ada kemungkinan, KECUALI terjadi mukjizat.

Tetapi dua gadis ini sudah berketetapan hati untuk mengejarnya, maka pengejaran konyol itu tetap terjadi. Jangan-jangan dua gadis ini berpikir, mungkinkah Tuhan tega tidak mencipratkan sedikit mukjizatNya pada mereka yang ‘telah’ berjuang maksimal sepenuh jiwa raga guna mencapai tujuan mulia?

Setengah jam kemudian terkabullah mukjizat yang diharapkan. Ya, Tuhan baru saja memberi ‘mukjizat’, pengetahuan baru yakni Tuhan benar-benar TEGA! Kereta itu tetap melenggang mengikuti kaidahnya, disiplin pada diri sendiri, ‘tak peduli’ pada nasib penumpang yang terlambat.

Satu pertanyaan yang teramat mengganjal. Apa sebenarnya yang tengah dikejar dua gadis ini hingga mereka mengerahkan seluruh energi dan biaya mengejar kereta? Apakah mereka orang-orang kaya hingga rela keluar duit berapapun untuk mengejar kereta? Apakah mereka sedang mengejar cintanya yang terbawa kereta? Apakah mereka dibutuhkan segera oleh orang tuanya saat itu?

TIDAK. jawabannya tidak semuanya. Mereka mati-matian mengejar kereta hanya supaya bisa pergi ke kota Budaya yang berjarak 300-an km. Mereka berencana sowan ke suatu tempat untuk membaca buku yang sama sekali tak ada urgensi buat hidup, kuliah maupun kehidupan pribadinya. Mereka ‘hanya’ memanfaatkan tiket promo kereta yang itu mengindikasikan mereka bukanlah orang yang amat kaya.

Singkatnya, mereka rela mengerahkan seluruh energi dan potensi serta duitnya hanya untuk tujuan yang sangat amat tidak urgen, sama sekali tidak penting saat itu. Perjalanan itu bisa kapan saja.

Sampai pada akhirnya mereka memutuskan berkonsultasi pada seorang tua apa langkah selanjutnya yang harus diambil. Dengan pengalaman dan ‘kearifannya’, orang tua itu pun tegas memerintahkan kepada dua gadis untuk pulang, membatalkan perjalanan dengan tujuan yang teramat tidak penting itu. Orang tua itu pun juga meyakinkan dengan segala logika cerdasnya kepada kedua gadis itu. Toh di Kota itu sudah ada dua sahabatnya yang bisa mengambilkan buku untuknya. Toh mereka telah berjuang maksimal.

Hingga 1 jam berikutnya, orang tua itu hanya bisa menunggu, menunggu kabar keputusan dua gadis. Menunggu dua gadis yang tak pernah datang di hari itu. Kemudian kabar datang tidak lama berselang. Dua gadis itu telah berada di atas bus menuju kota Budaya…

Kekonyolan optimal!

Mulut orang tua ini bergumam, meski dalam hatinya bersyukur. Tanpa sadar, orang tua ini ikut-ikutan kehilangan akalnya dan menjadi konyol.

3 hari berlalu. Hari ini adalah jadwal kepulangan si dua gadis bersama dua sahabatnya dari kota Budaya, masih dengan kendaraan sama, kereta.

Pagi cerah menyambut mentari, orang tua itu juga bersiap menyambut kedatangan dua gadis itu yang terjadwal pulang menaiki kereta di malam sebelumnya. Kekhawatiran yang amat dalam terhadap nasib dua gadis dirantau, menyebabkan orang tua ini sengaja tak berkomunikasi sama sekali dengan dua gadis itu. Hingga kepulangannya pun tak ditanya kabar. Orang tua ini sepertinya sedang tak memiliki kesanggupan hati untuk mendengar kabar konyol lagi. Orang tua ini memilih berdoa dan menyerahkan segala urusan kepada-Nya.

Hari menjelang sore, kecemasan semakin erat menyergap orang tua ini. Tak ada kabar dari dua gadis itu.

Dan akhirnya ketika malam tiba, kabar itu baru saja sampai. Dua gadis itu akhirnya sampai di ‘rumah’. Pertanyaan pun menggelayut di benak orang tua ini. Kenapa kepulangannya terlambat 12 jam?

Dengan sangat hati-hati dan cermat orang tua itu mengamati wajah para gadis saat menjemputnya di terminal. Selayang pandang, tampak wajah lelah berusaha bersembunyi dibelakang senyum bahagia sarat makna kemenangan.

LEGA!!

Orang tua itu tampak lega mengetahui para gadis itu tak kurang apapun.

Pelan-pelan orang tua itu mulai bertanya menyelidik kenapa terlambat 12 jam?

Ketinggalan kereta lagi?

Mengulangi kekonyolan lagi?

Tak juga kapok dengan kekonyolan 3 hari lalu, meski berakhir dengan senyum bahagia? Para gadis itu tampak berhati-hati berusaha menjawab pertanyaan itu, agar tak menyebabkan syok ataupun serangan jantung pada orang tua itu. Senyap…hanya terdengar detak detik jam. Semenit kemudian jawaban yang ditunggu itu akhirnya terlepas dari bibir yang tersenyum itu..

“Kami tidak ketinggalan kereta pak, ..

Kali ini, kami yang meninggalkan kereta..”

Apaaaaa???

Orang tua itu setengah menahan teriak bertanya. Sebuah kekonyolan yang benar-benar di luar frame algoritma berpikirnya. Konyol..konyol..konyol optimaaaall…!!! Kira-kira begitu teriak hati orang tua itu..

Bibir itupun melanjutkan jawabannya tanpa diminta si orang tua yang tengah mengalami lethologica, ingin mencecar pertanyaan lanjutan tapi tersangkut diujung lidah yang kelu.

“2 jam sebelum kami ke stasiun, kami berhadapan dengan 2 pilihan, pulang dengan kereta ataukah mengikuti tadabbur berusaha menambah ilmu. Kami tahu bahwa tadabburan ini bisa diikuti online via streaming, tadabburan ini bukan hal langka, dan apa yang ditadabburi mungkin bukan hal baru. Tapi akal, kaki kami tetap melangkah kesana mengikuti nurani. Dan kami tak punya alasan rasional untuk itu. Akhirnya kami memutuskan ikut tadabbur.”

Seolah terkesiap darah ke otak, hingga orang tua itu seperti sekejap lepas dari kesadaran.

Ingatannya melayang kepada sosok Baginda Sulaiman saat diberi 3 tawaran oleh malaikat.

Beliau diminta memilih salah satu dari Harta, Tahta dan Ilmu. Dan dengan kecerdasan dan penuh kehati-hatiaan beliau memilih ilmu. Hanya ilmu yang jika dibagi, seberapa banyakpun itu, takkan pernah habis. Ilmu jua yang akan meninggikan derajatnya. Ilmu juga yang berpotensi mendinginkan api neraka. Bahkan harta & tahta kelak akan mengikuti ilmu.

Pilihan cerdas, elegan bagi seorang Baginda Sulaiman. Bagi para gadis ini??

Niat baik takkan pernah tidak tercapai.

Gadis yang minim pengalaman hidup dan masih dangkalnya ilmu dan kearifan. Mereka mampu menjawab bahkan menjalani seperti apa yang Baginda Sulaiman lakukan. Tak cukup syarat kalau itu disebut kecerdasan. Mungkin akan lebih tepat itu disebut elegan. Ya, elegansi kekonyolan, keelokan yang muncul dari kulminasi, puncak tertinggi kekonyolan-kekonyolan sebelumnya.

Pada akhirnya, ini tak bisa lagi disebut sekadar kekonyolan. Ini lebih pada sebuah metode manakala Tuhan ingin bercengkerama mesra dengan hamba-hambaNya. Tentu dengan cara yang tak biasa. Lalu, ketika seorang hamba menerima sesuatu ‘langsung’ dari Tuhannya, apalagi sebutan yang tepat selain Mukjizat.

Para gadis ini dengan gagah berani mencampakkan dunia. Bukan kesedihan ataupun penyesalan ketika ditinggalkan kereta. Mereka memilih menjawab dengan kekuatan mental dan bahkan ketika bertemu dengan momen yang sama. Ditinggal kereta Ga patheken!, mereka malah balas dendam ganti mencampakkan kereta.

Para gadis itu berniat mengejar mukjizat hingga naik ojek berpacu dengan kereta.  Mukjizat itu adalah elegansi kekonyolan. Keelokan tidak pada tercapainya tujuan, tetapi pada kesungguhan dan ketetapan hati menjalani proses langkah demi langkah. Hingga menemukan jawaban bahwa mukjizat masih belum ada tanda-tanda berhenti menghujani bumi. Itu juga berarti Sang pembawa mukjizat, Maula Jabarala belum pensiun!

Prasangkaku.

Peenulis : Christyaji I

LEAVE A REPLY