“Ketika menempuh perjalanan di malam hari, apalagi kalau bukan lentera yang dibutuhkan? Bukan karena apa-apa, hanya saja tanpa cahaya kemungkinan untuk menabrak dan tersesat akan jauh lebih besar.

 

Sebuah Pertemuan

Pada awalnya, aku merasa kesulitan dalam memahami makna kehidupan? Mengapa manusia diciptakan? Serta apa yang seharusnya dilakukan manusia sebagai khalifah? Namun satu-persatu dari pertanyaan itu mulai terjawab, ketika aku bertemu dengan orang-orang yang berkumpul untuk mendekat kepada Yang Maha Akbar.

Perjalanan ini diawali dengan pertemuan antara aku dan seorang gadis, pada sebuah masjid di kota Malang. Gadis itu sedang tertidur pulas sambil membawa buku. Selang beberapa menit kemudian gadis itu terbangun. Rasa ingin tahu yang tinggi membuatku bertanya buku apa yang sedang dibawa. Ternyata itu merupakan buku karangan Emha Aninun Nadjib. Tak hanya menanyakan buku, tetapi hati ingin jua berkenalan dengan gadis itu. Gadis yang baru kutahu kemudian bahwa ia bernama Nafis.

Selepas berkenalan, aku meminjam untuk coba membaca beberapa halaman buku tersebut. Alangkah terkejut, karena buku tersebut sama sekali tidak bisa aku pahami, tak sedikitpun. Sejenak aku berpikir bagaimana mungkin gadis muda ini mampu menelaahnya? Pertemuan memang berakhir, namun hasrat ingin mengetahui lebih jauh tentang buku itu tak juga surut.

Seolah berjodoh, ternyata Nafis adalah teman dekat dari teman sekamarku. Rupanya mereka cukup akrab. Hal ini mempermudahku untuk terus berkomunikasi dan berteman baik dengannya, Nafis. Aku melanjutkan investigasi tentang buku tersebut, Nafis menjawab bahwa sebenarnya buku ini berisi tentang pedoman hidup. Dia juga menambahkan bahwa untuk memahaminya harus dengan pemikiran berlipat. Pada buku itu, ada banyak hal yang diungkap secara konotasi. Seiring berjalannya waktu, sedikit demi sedikit mulai mampu ku pahami pesan-pesan dari buku sakti tersebut. Sembari mengkaji buku, terjalin pula diskusi antara aku, Nafis ditambah dengan dua orang teman lainnya, sebut saja Hilwin Nisa’ dan Yeni Latifah. Tak hanya diskusi, kebersamaan membawa kami akrab satu sama lain. Pada saat itu, kami hanyalah mahasiswa semester akhir di kota Malang. Dalam rangka semakin mendekatiNya, di lain kesempatan kami seringkali bersilaturahim dengan banyak orang untuk sinau bareng, sebuah perkumpulan yang biasa disebut maiyah.

 

Maiyahan, Duduk Melingkar

Majelis Maiyah bukanlah sebuah komunitas yang struktural ataupun dilembagakan. Di sini siapa aja bisa datang dan tidak dipungut biaya se-peser pun. Setiap orang tidak perlu merasa sungkan antara satu sama lain, karena kita merupakan mahluk egaliter yang tidak berhak menilai ataupun merendahkan. Tujuan kami datang hanyalah untuk mengobati kerinduan kepadaNya dan terus mencari kebenaran. Dengan pengarahan langsung dari si mbah guru “Emha Ainun Nadjib”, dimana jamaah Maiyah dapat bertanya dan memberikan feedback dari materi yang didiskusikan. Pada saat masih di Malang, majelis ini menjadi perekat diantara kami, terkadang terlontar senda gurau dengan menamai diri sebagai Maiyahwati, mengingat kami terdiri dari empat gadis.

Dari perjalanan dan pengalaman yang bersama kami lalui, mulai terbentuk kesadaran bahwa hidup adalah perjalanan singkat. Yang mengharuskan kita untuk kembali ke kampung halaman, kampung surga. Sehingga berproses agar semakin bijak, lebih dewasa dan sukarela berbagi adalah sikap yang lambat laun mulai jadi landasan. Bermetamorfosis menjadi pribadi yang bijaksana melalui penghayatan nilai-nilai kehidupan. Nilai yang seolah menjadi sebuah watak yang harus dijaga. Berbagi dimaknai sebagai kegiatan menabung kesucian, mengingat sifat manusia yang tidak pernah lepas dari kemungkinan tersesat dan lupa. Pun definisi manusia sebagai khalifah mulai terbentuk juga, yaitu mahluk yang memanggul amanah untuk menjaga dan memperindah alam ini, supaya degradasi menuju pola destruktif bisa dihambat.

 

Perjalanan Membawa Lentera

Aku juga diperkenalkan dengan bapak guru dr. Christiadji. Sosok yang kita ta’dzimi bersama. Dimana beliau menerapkan manunggaling dalam mengarahkan Nafis dan teman-teman lainnya. Prinsip belajar untuk meniadakan diri, bukan pencitraan. Bahwa kita harus mampu menandai episode hidup mana yang membuat selalu terhubung denganNya. Sehingga dapat mengarahkan hidup kita kepada kehendakNya. Teori yang begitu berat, di tengah jaman yang melakukan sesuatu karena ada apanya. Objektivitas cenderung tidak terjaga dan bahkan hampir mengalami kepunahan. Namun, hukum ini tidak berlaku di padhepokan manunggaling karena semua di sini belajar untuk selalu memurnikan hati dan pikiran.

Jiwa-ijwa yang awalnya mendekat kini harus berjauhan karena dipisahkan oleh jarak dan waktu. Dengan bekal yang diperoleh berapa bulan dan pertemanan yang seolah sudah terjalin begitu lama, kita mulai meninggalkan kota Malang yang penuh kenangan. Melanjutkan amanah di persinggahan masing-masing. Menjelma sebagai Gadis-gadis yang mengambil lentera dari kota ini, untuk dibawa menjelajahi hutan belantara yang mungkin gelap dan teramat luas. Dengan harapan lenteranya tidak akan mati karena tetap dijaga baranya. Lentera yang dapat menerangi setiap langkah dan menghangatkan, bukan hanya bagi yang membawa namun bagi siapa saja yang ingin menikmatinya.

 

Penulis : Firza Dwi Hasanah

LEAVE A REPLY