Kosong. Seolah ada, padahal tiada. Dari kejauhan semua terlihat begitu indah menawan. Akan tetapi, semua menjadi berbeda saat kita mulai semakin mendekat dan mencoba berbaur dengannya. Laksana patung yang indah menawan, akan tetapi tak bertuan. Ya, mungkin seperti itulah lukisan dari negeri ‘sepenggal tanah surga’ itu, yang katanya adalah Indonesia.

‘Sepinya hati garuda.

Dijunjung tanpa jiwa.

Menjadi hiasan maya.

Oleh hati yang hampa.’

Begitulah bait lagu Garuda Sepi yang dibawakan oleh Ibu Novia Kolopaking. Seolah beliau mencoba membangunkan kita sebagai penghuni ‘sepenggal tanah surga’ dari mimpi buruk tidur panjang kita. Bahkan kita pun mungkin sudah tak lagi mampu mengingat sejak kapan mata ini mulai terpejam dan hanyut dalam rayuan mimpi buruk itu.

Mimpi-mimpi indah yang dulu telah diikrarkan sebagi cita-cita bersama dari bahtera Indonesia kita, telah lama terdiam dan tak ada yang menjamah. Garuda yang menjadi simbol keperkasaan Indonesia, seolah hanya menjadi hiasan yang entah mengapa belum banyak dari kita yang mampu meneladani kegagahan sang garuda. Bahkan, tak banyak pula yang sudah  mulai asing atau bahkan tak kenal dengan sosok ‘garuda’ tersebut. Dan lewat bait lagunya, Ibu Novia mengajak kita sebagai bagian dari ‘sepenggal tanah surga’ untuk kembali berkenalan dengan sosok garuda dan bersama merangkulnya erat-erat.

Garuda melukiskan sosok yang berani, mandiri, dan penuh wibawa. Jika meminjam istilah yang digunakan oleh Cak Nun, garuda menggambarkan sosok yang telah dewasa. Sosok yang telah selesai dengan hatinya. Jika garuda adalah cita-cita bersama penghuni ‘sepenggal tanah surga’, maka hati garuda adalah segala yang ada dalam ‘sepenggal tanah surga’ itu sendiri.

Mencoba berkenalan lebih dekat dengan hati garuda. Melihat dengan mata suci yang tanpa ada alih-alih tunggangan kepentingan apa pun. Menerima sepenuh hati setiap kekurangan dan kelebihan yang ada. Dan menjadikannya sebagai senjata yang ampuh untuk bersegera bangkit dari mimpi buruk tidur yang sudah berkepanjangan ini.

Lihatlah, bumi mana yang lebih indah dari bumi Indonesia. Udara yang begitu sejuk. Air bersih yang melimpah ruah. Hamparan tanah hijau yang menggambarkan betapa suburnya bumi ini. Bahkan dalam rahim bumi Indonesia ini telah terkandung jutaan kekayaan alam yang tak jarang menghadirkan iri di hati para tetangga bumi kita, Indonesia. Akan tetapi, sudah berdamaikah kita dengan keadaan yang ada ini? Sudah bersyukurkah kita akan ‘cipratan’ surga ini? Bersyukurkah itu, jika kita masih merasa begitu kerdil nan hina di hadapan para tetangga dengan apa yang telah dianugerahkan pada kita? Selalu merasa kurang dan selalu ingin mempunyai apa yang telah dimiliki para tetangga. Intan permata di rumah sendiri dianggap batu, sementara kerikil di rumah orang nampak seperti intan yang begitu berkilauan. Memang bagus, selalu bersikap rendah hati. Tapi bukan berarti harus rendah diri. Menghambakan pada para tetangga, menyerahkan segala yang kita punya, emas, intan, permata, dan semuanya hanya demi kerikil tetangga yang di mata kita itulah harta yang paling berharga. Betapa lucunya kita. Para tetangga kita nampak begitu bersyukur dengan segenggam kerikil mereka. Mereka nampak begitu bahagia nan sejahtera. Hingga keinginan menjadi seperti mereka pun tak terbantahkan. Walhasil, kita rela menggadaikan intan, emas, permata, dan seluruh harta pusaka yang kita miliki hanya untuk ‘kerikil’ yang mampu membuat mereka seolah bahagia. Ah, memang. Rumput di halaman tetangga selalu nampak lebih hijau dibanding rumput di halaman sendiri. Padahal belum tentu yang baik untuk mereka baik pula untuk kita. Jangan sampai penyesalan kembali berulang, saat pusaka berharga yang kita miliki mulai berpindah tangan kepada para tetangga kita. Dan kita baru mulai menyadari betapa pentingnya ‘harta’ kita di saat semua sudah tak lagi bersama kita. Kalau sudah begitu, tinggallah penyesalan yang tersisa. Kenapa tidak sedari dulu kita menjaga dan merawat ‘harta’ kita.

Garuda Sejati

Bukankah Tuhan telah menciptakan segala sesuatu berpasang-pasangan? Bumi kita ya memang seperti ini pasangannya. Hamparan hijau tanah pedesaan, air melimpah, gunung-gunung yang saling berjejeran, dan kekayaan alam lainnya yang masih tersembunyikan. Ya, itulah jodohnya Indonesia. Tak perlulah kita sibuk memikirkan cara dan menghabiskan waktu kita untuk memikirkan bagaimana caranya menukarkan jodoh kita dengan jodoh orang lain. Karena pada dasarnya, kita akan mampu berdamai dengan sebenar-benarnya damai ketika kita tetap dengan jodoh kita sendiri. Berdamai dengan diri sendiri, untuk menyelesaikan hati menuju garuda yang sejati.

Jika kita sudah mulai berdamai dengan hati kita sendiri, maka langkah selanjutnya yang perlu kita lakukan adalah memenuhi segala kebutuhan hidup bersama. Alangkah indahnya hidup, jika masing-masing dari kita mulai belajar untuk menanggalkan bisikan ego dan meleburkannya dengan cita-cita bersama. Cita-cita yang telah diikrarkan bersama saat akan mulai mengarungi bahtera Indonesia. Ibaratkan jamaah shalat, setelah menghadap kiblat yang sama, kita mulai merapatkan dan merapikan saf jamaah. Hingga akhirnya, terciptalah harmoni antar jamaah yang terasa begitu mesra nan indah. Jika sudah sebegitu intim hubungan antar jamaah, rasanya masalah yang begitu besar akan mampu diselesaikan dengan lebih mudah. Bukankah lidi akan mampu menyapu jika dia tak sendiri?

Setelah mampu berdamai dengan diri sendiri, solusi selanjutnya yang dirasa tepat adalah dengan berhimpun bersama mencipta dan memperbaiki teknologi yang telah ada guna memenuhi kepentingan bersama. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, teknologi mempunyai arti keseluruhan sarana untuk menyediakan barang-barang yang diperlukan bagi kelangsungan dan kenyamanan hidup manusia.

Dengan kata lain, kehadiran teknologi akan membantu kita untuk dapat menyelesaikan setiap pekerjaan dengan lebih mudah. Yang perlu digarisbawahi, teknologi tidaklah melulu menyoal alat-alat elektronik. Teknologi meliputi seluruh lini kehidupan. Mulai dari perihal medis, pendidikan, perindustrian, dan sektor-sektor kehidupan yang lainnya. Dalam dunia medis misalnya, teknologi berperan untuk membantu menemukan penyebab penyakit serta membantu pengobatannya dengan menggunakan peralatan serta prosedur tertentu. Pun dalam dunia pendidikan yang juga memerlukan peran teknologi guna menciptakan atmosfer pendidikan yang lebih efektif. Teknologi mempunyai peran yang sangat penting dalam keberlangsungan hidup masyarakat. Sehingga tidak dapat dipungkiri, bahwa untuk menuju garuda yang sejati, untuk menjadi bangsa yang lebih mandiri, dibutuhkan perbaikan dan perkembangan dari teknologi itu sendiri.

Berdasarkan pengertian teknologi di atas, dapat diketahui bahwa perbaikan dan perkembangan teknologi bukan hanya tanggung jawab mereka yang terjun langsung di dunia ‘tehnik’. Akan tetapi, karena teknologi mencangkup semua sektor kehidupan, maka setiap dari kita mempunyai andil untuk turut memperbaiki dan mengembangkan teknologi yang sudah ada. Paling tidak, kita turut andil untuk merawat teknologi yang sesuai dengan bidang yang telah kita geluti. Misalkan kita adalah seorang guru, paling tidak kita terus berusaha untuk memperbaiki sistem dan metode pengajaran kita. Dan akan lebih bermakna, jika apa yang telah kita lakukan juga dibagikan kepada orang lain. Agar orang lain mampu belajar dari kesalahan kita, dan tak akan lagi ada yang mengulangi kesalahan yang sama. Barangkali akan ada seseorang yang juga berkenan untuk melanjutkan percobaan dari apa yang telah kita lakukan. Sehingga, muncullah improvisasi-improvisasi dari teknologi yang sebelumnya. Semua saling bekerja sama untuk mencapai hasil yang lebih baik lagi.

Semua akan terasa sempurna jika telah berjalan secara seimbang. Baik urusan batin maupun lahir sama-sama berjalan berdampingan. Jika kita hanya terlalu sibuk dengan urusan batin, dalam artian memperbaiki mental menuju mental garuda yang sejati, akan tetapi kita lupa tidak berbuat secara ‘fisik’, maka kemandirian suatu bangsa tidak akan kita capai. Pun sebaliknya, jika kita sibuk memperbaiki dan mengembangkan teknologi, akan tetapi tidak pernah mencoba untuk berdamai dengan diri kita sendiri, maka yang ada hanyalah kemajuan teknologi yang tumbuh tanpa peradaban. Maka untuk mencapai suatu peradaban teknologi, sudah seharusnya kita berdamai dengan hati kita serta mencoba bergerak untuk memperbaiki dan mengembangkan teknologi. Belajar lebih mengenal dan menerima jati diri bangsa serta tetap berkarya untuk Indonesia.

Didedikasikan oleh Hilwin Nisa
Alumni Matematika UIN Malang

 

LEAVE A REPLY