Seperti kausa prima, Tuhan merupakan titik awal pemberangkatannya dan akan menjadi titik akhir dari tujuan serta pemberhentiannya.

Dia. Gadis kecil yang beraroma desa, di masa kecilnya memiliki satu cita-cita utama di samping cita-cita figuran lainnya. Yaaa menjadi sosok guru yang tampaknya sederhana, padahal sejatinya memiliki kompleksitas yang luar biasa. Dia terinspirasi oleh seorang guru yang mengajarinya Bahasa Inggris, Bahasa Arab, dan Matematika. Satu orang dengan ijazah terakhir tingkat SLTA mampu menyajikan pembelajaran yang menggugah selera belajar siswa.

Dia kecil terus berusaha mengikuti jejak inspiratornya. Karena seringnya Dia diminta menjadi perwakilan kelas untuk melakukan berbagai hal baik di sekolah maupun diniah, kediaman orangtuanya selalu menjadi pilihan pertama sebagai tempat untuk belajar bersama. Dia dinobatkan sebagai tutor untuk semua jenis pelajaran, oleh rekan-rekannya. Masih dengan peraga sederhana, Dia belajar menggarap semua PR-nya dan mencatat cara penggarapannya. Ketika belajar bersama, Dia meminta satu persatu temannya mempresentasikan garapan masing-masing berikut caranya. Untuk menyepakati garapan dan cara yang paling tepat, Dia menggelar diskusi bersama. Kebiasaan ini berlangsung sampai Dia lulus SLTP dan memilih meneruskan belajarnya di SLTA yang cukup jauh dari kampungnya. Untuk menghindari kebosanan, sesekali Dia memilih masjid dan musholla sebagai tempat belajar bersama. Tentunya lokasi itu yang dekat dengan kediaman salah satu anggota atau gurunya.

Di usia SLTA sesekali masih menggelar diskusi ringan di kediaman orangtuanya. Akan tetapi, usai menjadi alumni Pesantren “tiiitttt”, Dia mengisi waktu sepulang sekolah dengan menggelar kelas tambahan untuk pelajaran Sains dan Bahasa. Menurutnya, akan sangat eman jika Dia hanya sebagai siswa sepu-sepu (sekolah-pulang, sekolah-pulang), padahal modal materialnya sama setiap harinya. Berdasarkan kesepakatan anggota, Dia menjadi satu dari dua tutor terpilih untuk sekaligus menjadi koordinator keberlangsungan agenda. Skip,,,

Dia mulai merasakan kegelisahan karena ulah pemikirannya, menerka-nerka sesuatu yang belum jelas adanya. Dia nyaris melintasi ujung batasan yang pernah dibuat di masa lalunya. Dia berpikir setelah batas itu terlewati, waktu yang tersisa tidak akan seberapa lama. Dia terkurung dalam sapuan air mata. Dia berusaha meraih Tuhan dengan hatinya, menambatkan bahtera yang dideru badai kegundahan ke pelabuhan Yang Maha Kuasa. Melalui seseorang inspirator baru, Dia pun kembali diingatkan pada cita-cita utamanya, menjadi sosok guru yang luar biasa. Satu hal yang belum pernah terlintas dalam benaknya. Ternyata, zaman tidak lagi sama. Untuk mewujudkan cita-citanya Dia harus menyusup ke perguruan tinggi untuk meneruskan studinya. Dia mulai bergumul dengan keraguan yang semakin menggila. Dia pun memutuskan untuk mengajukan proposal susulan kepada Tuhan terkait rencananya. Dia bernegosiasi dengan Tuhan untuk meyakinkan dirinya, bahwa batasan yang dulu dibuatnya bukanlah akhir dari segalanya.

Alhamdulillah, Tuhan masih mengizinkannya bernafas labih lama. Dia mulai berenang mengarungi banyak hal baru di samudera perkuliahannya. Seperti ketidakmauannya menjadi siswa sepu-sepu, Dia pun tidak berkenan menjadi mahasiswa kupu-kupu dengan alasan yang masih serupa. Baginya,belajar bisa dilakukan dimana saja, kapan saja, dan bersama siapa saja. Bahkan, ketika Dia diajak belajar bersama mengenai keilmuan bidang lainnya, atau bidang yang sama sekali belum dipelajarinya, Dia masih terlihat bisa mengendalikan diri untuk menikmatinya. Dia juga berstatus sebagai mahasantri pesantren elit di samping statusnya sebagai mahasiswa. Elit yang dimaksud bukanlah yang berkonotasi material melainkan imaterial atau spiritual yang terkontinuasi dalam kesehariannya. Di antara santri baru lainnya, Dia dipilih menjadi satu dari dua pengajar muda di penghujung tahun pertamanya. Ini seperti terjadi pengulangan dari masa lalunya, Dia merupakan santri termuda yang diamanati menjadi ketua takror dikelas diniahnya. Karena belajar itu tidak memandang usia, Dia pun berusaha sebaik mungkin untuk menjadi pengajar yang komunikatif di kelasnya. Tapi, Dia tetap menghormati anak didiknya yang notabene mahasantri senior atau yang lebih tua usianya.

Pagi sudah memudarkan eloknya. Senja pun mulai membayang di atap bumi menyiapkan lentera kala gelap malam tiba. Tak terasa, empat tahunnya sudah nyaris di ambang batas menuju tenggangnya. Dia senantiasa mensyukuri nafas empat tahun yang akan genap dilaluinya. Banyak momen dan pelajaran berharga di sana. Dia pun menemukan banyak saudara dan keluarga yang mendukung langkahnya. Dia tak menyangka telah melangkah begitu jauh untuk mewujudkan satu cita-citanya.

Bagi Dia, memerdekakan diri dari kekalahan dan kelemahan masih lebih mudah daripada memerdekakan diri dari kemenangan dan kekuasaan, karena terpeleset sejengkal akan membuatnya terpeleset dalam jurang keangkuhan. Jubah Tuhan yang tidaklah pantas dikenakan oleh selainNya.

Berulang kali Dia jatuh-bangun dan sesekali nyaris berkubang dalam lumpur putus asa. Lagi-lagi, melalui sang inspirator, Tuhan membalutkan selimut kasihNya. Bukan cita-citanya yang senantiasa berdetak bersama detak jantungnya, melainkan jantungnya yang senantiasa berdetak bersama detakan cita-citanya. Seandainya di setiap saat penghabisan masa aktif proposalnya Dia sudah menyerah, maka itu bukan hanya akhir bagi cita-citanya, bahkan mungkin itu akan menjadi akhir bagi nafasnya. Karenanya, Dia selalu mengajukan proposal dan menentukan batasannya, kemudian dia menyiapkan proposal susulan untuk meregenerasi batasan yang dibuatnya. Katanya, tidak ada yang terbaik untuk urusan negosiasi usia kecuali Yang Maha Kuasa, Allah SWT.

Sewaktu-waktu “kegelisahan” itu membayanginya, Dia selalu datang menggoda Tuhan, “Tuhan, untuk apa Kau biarkan aku bercita-cita sementara aku tak Kau beri waktu yang cukup untuk mewujudkannya!” Alhasil, Tuhan pun tidak tega memisahkan nyawa dari raga si Dia, gadis kecil yang terus bersikukuh mewujudkan cita-citanya. Meski demikian, Dia selalu menyadari bahwa cita-cita utamanya hanyalah sebagai jalan untuk meraih titik akhir tempat kembalinya, Sang Sejati Pemilik semesta. Dengan terjaganya keistiqomahan perealisasian cita-citanya, Dia berharap Tuhan senantiasa mengistiqomahkan himmaah sejatinya, menjadi hamba yang kelak ketika Alloh memintanya untuk kembali kepadaNya, dia dipanggil dengan panggilan yang penuh cinta:

Yaa ayyatuhan nafsul muthmainnah. Irji’ii ilaa robbiki roodliyatan mardliyyah. Fadhuliy fii ‘ibaadiy. Wadkhulii jannatiy.” Wahai Jiwa yang tenang, kembalilah kamu pada Tuhanmu dengan penuh kerelaan serta direlakan oleh Tuhanmu. Masuklah kamu ke dalam golongan hamba-hambaKu dan masuklah kamu ke dalam surgaKu. (QS. Al-Fajr: 27-30)

Demikianlah cerita gadis kecil yang dengan sandangan namanya diharapkan dapat menjadi doa dan alarm untuk Dia senantiasa istiqomah dengan himmahnya, senantiasa konsisten dengan apa yang dicita-citakannya dan konsisten untuk berproses mewujudkan cita-citanya. Seperti kaidah kun fa yakuun, bercita-citalah kemudian berlangsunglah cita-cita itu (bagi yang mau berproses mengikuti keberlangsungannya).

By: Himmatul Istiqomah @ Histisha Nr

 

LEAVE A REPLY