Melihat ciptaan-ciptaan yang dihamparkan di semesta, rasanya semua memang tercipta dengan sangat teraturnya. Sebagaimana firman-firman Tuhan yang tak hanya sekali diperdengarkan pada kita, para makhluk-Nya. “Dan tidak mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malam pun tidak dapat mendahului siang. Dan masing-masing beredar pada garis edarnya.” – QS. Yasin: 40.

Sebagai ciptaan yang diciptakan dengan sangat teraturnya, maka tidak ada salahnya kita belajar pada Sang Pencipta dengan segala Maha Keteraturannya. Sebagaimana dokter yang tak jarang menjalankan perannya sebagai perantara penyembuhan pasien, beliau pun menyarankan pasiennya untuk belajar teratur dalam usahanya. Minum obat tiga kali sehari, misalnya. Yang artinya, si pasien juga harus belajar untuk berlaku teratur serta konsisten dalam perjuangannya tersebut.

Berbicara tiga kali sehari, matematika berkata bahwa 3 x 1 tidaklah sama dengan 1 x 3. Meskipun toh jika dihitung hasilnya akan sama. Tiga dikalikan satu, hasilnya 3. Pun dengan satu dikalikan tiga, hasilnya juga sama-sama tiga. Akan tetapi, jika dilihat dari maknanya akan berbeda. Tiga kali satu, berarti ada satu sebanyak tiga kali (1, 1, 1). Satu kali tiga artinya ada tiga sebanyak satu (3).

Mengenal Batas

Jika berkaca pada prinsip matematika tersebut, maka persoalan istiqamah tidak terpaku pada kuantitas pekerjaannya. Akan tetapi lebih kepada kontinuitas dari perbuatannya tersebut. Konsisten dalam melakukan amaliyahnya. Amal yang sedikit jika dilakukan secara terus menerus, akan lebih baik daripada amal yang banyak, tapi hanya dilakukan satu kali saja. Tidak berkelanjutan.

Mungkin tak jarang pula kalimat tanya datang menyapa. Bukankah jika kita melakukan suatu pekerjaan, akan sama saja jika kita menyelesaikannya sekaligus, dengan ketika kita melakukannya sedikit demi sedikit tapi terus menerus. Bukankah yang terpenting pekerjaan tersebut mampu terselesaikan. Tak peduli bagaimana jalannya. Toh, keduanya pada akhirnya akan bermuara pada yang sama. Ya, sama-sama terselesaikan pekerjaannya.

Baiklah. Jika memang kedua laku tersebut sama. Baik melakukan sesuatu sedikit demi sedikit asal konsisten dan terus berkelanjutan, maupun melakukan sesuatu langsung diselesaikan saat itu juga. Coba tanyakan pada dokter tadi saja. Mengapa juga beliau menyarankan pasiennya untuk minum obat tiga kali sehari, dan bukannya minum ketiga obat tersebut langsung satu kali. Coba juga tanyakan pada para guru itu. Mengapa beliau mengajarkan materi kepada para muridnya sedikit demi sedikit. Dan bukannya malah semua materi diberikan saat itu juga. Atau, coba juga tanyakan pada diri kita masing-masing. Mengapa pula kita melahap makanan sedikit demi sedikit. Tidak memasukkan semua makanan satu piring tersebut langsung sekaligus ke dalam tubuh kita. Ya, karena memang semua ada batasnya. Ada kapasitasnya masing-masing, dan tak selalu sama.

Sebagai manusia yang dibekali dengan segala fasilitasnya, hingga mampu dipercaya sebagai satu-satunya makhluk Tuhan yang mampu menjadi khalifah di muka bumi ini, maka sudah sepantasnya kita pun belajar mengenali batas masing-masing. Belajar mengukur kapasitas kita. Yang selanjutnya kita coba untuk mengkholifahinya. Agar tidak menjadi sia-sia segala apa yang dititipkan pada kita, yang pada dasarnya memang tercipta dengan tanpa sia-sia.

Menjaga Aliran Batas

Setelah mengenali batas masing-masing kita, maka alangkah lebih baiknya jika kita mencoba untuk terus berjalan sesuai dengan kapasitas kita. Sesuai dengan batas kita. Dan terus berusaha menjaga agar langkah itu tetap menjadi langkah. Terus berkelanjutan. Dan bukannya menghentikannya di tengah jalan. Lalu enggan meneruskan.

Berbicara masalah batas dan kapasitas, tentu setiap waktu batas tersebut bisa saja berubah. Selama waktu masih berjalan, selama masih ada kehidupan, selama itu pula perubahan tidak akan mampu terelakkan. Bisa jadi hari ini kita hanya mampu berucap ‘ibu’, tapi karena terus belajar, kita pun tak hanya mampu mengucapkan ‘ibu’. Bisa jadi hari ini kita mampu memikul beban beribu-ribu, tapi karena suatu sebab, kekuatan kita pun menjadi menurun. Bertambahnya usia yang menurunkan kekuatan fisik, misalnya. Karenanya, menjadi tugas kita juga untuk terus belajar awas dan waspada. Belajar peka terhadap kahanan.

Lalu, bagaimana kita bisa belajar konsisten, belajar istiqamah, jika nyatanya keadaan dan kapasitas kita selalu berubah. Setidaknya istiqamah akan suatu hal bisa dilihat dari beberapa sisi. Bisa istiqamah pekerjaannya, frekuensi pekerjaan tersebut, waktu, dan juga tempat pelaksanaan pekerjaannya. Dan akan jauh lebih baik jika keempat sisi tersebut terhimpun menjadi satu paket lengkap. Berusaha mengerjakan sesuatu dengan frekuensi, waktu, dan tempat secara konsisten dan kontinyu. Kalaupun toh karena suatu sebab keempat komponen tersebut belum mampu terpenuhi, maka setidaknya pekerjaan tersebut diupayakan untuk tetap mampu dijalankan. Meskipun frekuensi, waktu, dan tempatnya dengan sangat terpaksa harus mengalami suatu perubahan.

Memang bukan perkara yang mudah untuk menjaga komitmen diri agar terus mampu menjalankan sesuatu secara istiqamah. Mengutip pernyataan Agus Sunyoto (2003), bahwa manusia memang merupakan makhluk baru (hawaadits), dan sudah nalurinya untuk selalu menyukai sesuatu yang baru. Hingga terkadang akan mudah bosan ketika melakukan sesuatu. Tak heran jika sangat sedikit yang mampu mengalahkan dan mengelola nalurinya tersebut. Hingga benar-benar mampu berjuang dalam perang keistiqamahan.

Tak heran pula jika dikatakan bahwa istiqamah lebih baik dari seribu karomah. Karena belajar istiqamah memang perjuangan hebat menentang dan mengalahkan naluri ke-aku-annya sebagai manusia. Sebagai manusia yang pada dasarnya memang bukan makhluk statis. Dan sejenak berguru kepada malaikat atau pun iblis, bukan golongan makhluk dinamis. Yang tercipta dengan segala kesetiannya. Setia dan konsisten dengan tugas yang memang sudah dipersiapkan untuknya.

Sekali lagi, istiqamah bukanlah tentang apa dan seberapa banyak yang dikerjakan. Tapi lebih kepada perjuangan untuk terus berusaha melanjutkan pekerjaan tersebut. Sebagaimana yang dicontohkan Tuhan. Bukankah dengan sangat mudah bagi-Nya untuk menumbuhkan dan langsung membesarkan suatu tumbuhan, misalnya. Akan tetapi Dia tidak serta merta melakukannya. Dengan penuh keteraturan dan ketelatenan, ditumbuhkan-Nya pohon tersebut. Dengan berbagai proses yang ada, pohon tersebut perlahan mulai membesar dan terus membesar. Ya, Tuhan pun mengajarkan kita untuk berlaku istiqamah dalam penciptaan dan pola kerja-Nya.

Lagi-lagi, kita memang perlu untuk lebih banyak belajar membaca kahanan. Mengenal batas, lalu berusaha mengaliri batas-batas kita tersebut dengan laku yang terus berkelanjutan. Agar tak lagi menjadi kerontang, apalagi sampai kemarau yang berkepanjangan.

LEAVE A REPLY