Tersadar otak ini tatkala di pagi-pagi buta bersepeda motor membelah jalanan di luar kota. Tersadar kalau ternyata bertahun-tahun sudah tak rutin lagi alias jarang melewati jalanan itu lagi.

Jalanan itu begitu bersahaja, seringkali menginduksi akal untuk memunculkan ide-ide kehidupan  saat melewatinya, dulu. Itu dahulu kala.

Motor-motor yang berpacu, lampu dim mobil-mobil di belakang dihiasi suara klakson, manuver-manuver pengendara bak di sirkuit, lebih dari cukup bagi seseorang yang telah lama tak melewati jalanan itu terbangun mendadak kesadarannya.

Jelas ada kesenjangan antara bayangannya sesaat keluar dari pagar rumah selepas subuh dengan kenyataan yang harus dihadapinya saat itu di jalanan. Orang itu membayangkan bahwa jalanan tetap seperti sedia kala, saat ia belum tua. Ia membayangkan, jalanan adalah tempat bertemunya orang-orang senasib yang bersama-sama hendak mencapai tujuan yang sama. Setidaknya di pagi hari biasanya ia berbarengan dengan orang-orang yang berangkat kerja atau sekolah dengan wajah segar tanpa kecemasan. Pun di sore atau siang hari ia pun tetap bersama-sama orang-orang yang selesai beraktivitas dan menggunakan jalanan untuk mencapai tujuannya di sore itu, berkumpul dengan keluarganya, sebuah rutinitas kebahagiaan keseharian meski dalam kelelahan, yang cukup menghilangkan rasa penat dan motivasi untuk menyiapkan energi untuk esok hari.

Menjadi pemandangan yang biasa baginya bila orang-orang memilih untuk berkendara sekedarnya agar bisa saling bertegur sapa dengan sesamanya. Pun mereka yang “terpaksa” mengendarai mobil, memilih untuk membuka jendela mobilnya lebar-lebar agar tak kehilangan momen bertatap muka dan bertegur sapa. Selain juga hal itu agar juga bisa menikmati limpahan udara bersih pagi hari yang cukup menyegarkan otak sebelum beraktifitas di tempat kerja atau sekolah.

Bayangan itu sirna seketika tatkala menyaksikan kenyataan pagi itu. Mobil berkaca gelap tertutup rapat, motor berpacu saling mendahului, suara klakson betebaran, gemerlap silau pantulan sinar lampu di cermin spion membuat darahnya terkesiap membanjiri otaknya. Beruntung itu tak sampai memecahkan selang-selang darah di otak. Untung juga itu tak sampai melenyapkan kesadarannya.

Sejurus kemudian stimulasi-stimulasi simultan itu justru menginduksi akalnya.

Ia menemukan hipotesis baru dari fakta-fakta yang baru ditemuinya berangkai dengan data-data berpikirnya.

Data menunjukkan bahwa kecelakaan di jalanan menyumbang kematian tertinggi di masyarakat, terutama di usia 16-40 tahun, sebuah rentang usia produktif. Data juga menunjukkan bahwa kecelakaan seringkali terjadi di dekat rumah atau tempat tujuan. Juga kecelakaan banyak terjadi pagi hari. Apa pasal? Kewaspadaan dan kecerobohan jawabnya. Orang seringkali merasa “sudah” menguasai jalanan terutama yang dekat rumahnya atau tempat kerjanya, karena tiap hari dilewati. Terjadi habituasi, penumpulan kesadaran karenanya. Ditambah lagi ia tak pernah celaka tiap harinya meski tak pakai helm dan tutup mata sekalipun. Tetapi ia lupa satu hal, bahwa ruang dan waktu selalu dinamis setiap saat merubah situasi dan kondisi. Dan ia benar-benar tak ingat, bila “perubahan” tak pernah memberitahunya! Jadi seseorang yang harus selalu tersadar terhadap adanya perubahan! Jangan pernah berharap “perubahan” memberitahumu, itu sebuah utopia.

Pagi hari saat ia tak memiliki rencana atau bahkan memang tak berencana menikmati perjalanan, maka kesadarannya hanya terfokus total pada tujuannya tanpa menyisakan sedikit pun kewaspadaan untuk perjalanannya. Hasilnya bisa ditebak, ia akan berangkat telat, tak menoleh kanan kiri, overconfidence…dan hilanglah kewaspadaannya! Itu banyak terjadi saat di pagi hari mengejar angan-angan!

 

Ia pun berhipotesis, kalau ingin melihat wajah masyarakat suatu kota, lihatlah jalanannya. Apakah masyarakat kota itu individualistis atau sosialis, apakah ia menghargai keberadaan sesama, apakah ia hidup dengan kesadaran yang senantiasa terjaga, sekali lagi itu dapat diamati dari jalanannya.

Pun bila ingin melihat wajah pendidikan di kota itu, sekali-kali naiklah angkot yang disana mengangkut guru dan siswa. Amati sikap mereka saat angkot terlalu lama ngetem ataupun berjalan lambat. Bila guru dan siswa itu kemudian memilih bercengkerama santai menikmati perjalanan itu, bahkan menjadikan kelambatan dan kemacetan sebagai tema utama pembelajaran hari itu, maka bolehlah berkeyakinan bahwa kota itu memang berisikan orang-orang beradab. Beradab, tujuan utama sebuah pendidikan.

Tetapi bila guru dan siswa itu berlomba-lomba mengomel dan memaki sopir angkot agar segera menjalankan angkotnya, maka mulailah tersenyum menyaksikan kekonyolan-kekonyolan. Guru dan siswa sama-sama takut terlambat, takut dimarahi, tetapi sibuk memarahi orang lain, alih-alih mencari jalan keluarnya..

 

Karena sebagian besar hidup manusia sesungguhnya di perjalanan, bukan di tujuan. Itu juga mengapa kita selalu diajari untuk selalu berharap tetap berada di jalan yang benar, bukan pada tujuan yang benar.

Itu logika sederhana, bila perjalanannya benar, pastilah akan sampai pada tujuan yang benar.

Tetapi bila terfokus pada tujuan yang benar maka seseorang tak pernah memperhatikan jalannya. Memang ia tetap bisa sampai pada tujuan yang benar (bila dapat mukjizat), tetapi terbesar kemungkinannya ia tak bisa membedakan mana jalan benar dan tidak benar, dan tatkala terjebak pada jalan yang tidak benar, ia pun tak tersadar. Bagaikan terapung di tengah laut dan tampak nun jauh sebuah pulau disana, bukannya ia mengendalikan irama & kapasitas diri menunggu kapal lewat, melainkan sangat bersemangat dan bersuka cita berenang menuju pulau itu! Hasil akhirnya, ia kehabisan energi dan tak pernah sampai ke pulau itu, mati dalam “kebahagiaan”…rumangsane.

Penulis : Christyaji I

LEAVE A REPLY