Malam semakin larut, jalanan Malang – Kediri pun terlihat mulai sepi. Tak banyak mobil ataupun motor yang lalu lalang. Dalam diam, sungguh rasanya tak sabar dipertemukan dengan mas-mas yang terkenal dengan suara medok khas Jawanya ini. Tak banyak memang di dunia showbiz yang berani mengumbar personalitas hidupnya seperti dia. Para artis dunia hiburan lebih banyak menyembunyikan dirinya di balik sebuah peran yang menghibur. Seolah mereka sudah tidak lagi memiliki cela dan layak dipuja.

Dari mas-mas yang satu ini, saya menikmati medok sebagai suatu keindahan. Keindahan bahwa terlahir dengan suara medok adalah sebuah kebanggaan. Jawa ini adalah kewajiban, seolah Tuhan ingin menyampaikan bahwa “Lip, dadio Jawa sing sak temene Jowo, Jowo sing bener-bener njawani! (Jadilah Jawa yang benar-benar Jawa. Jawa yang sejati!).” Sama seperti Tuhan sedang bercengkrama dengan kalian kawan, “Jadilah Bugis, Madura, Banjar, Ambon dan apapun sukumu itu dengan sejati, agar kau memahami Nusantara yang sejati. Indonesia yang sejati! Jadilah Bugis, Madura, Ambon, Banjar dan apapun itu dengan sejati! Kelak jika sudah bisa memahami kesejatianmu maka kau akan mulai menemukan jalan menuju yang maha sejati.”

Itulah kiranya yang bisa disampaikan dari sisi medok ini. Mas-mas itulah yag mengajarkan bahwa medok itu ndak ndeso. Medok adalah sesuatu yang kueereen dan kece puol. Medok itu ciri khas yang menjadikanmu beda dan unik. Di saat para pemuda lain mulai terbawa arus tren dan bergaya ke-korea-an atau ke-bule-an. Mari menjaga warisan nenek moyang dan menjadi penyeimbang.

 

Jika itu Bagus, Ambil! Jika Buruk, Saring!

Belum dipertemukan saja rasanya sudah sebahagia ini. Belum bersapa saja rasanya banyak hikmah yang bisa diambil. Mungkin itu jua salah satu makna mengagumi. Kagumi siapapun, ambil sisi terbaiknya dan jadikan dirimu lebih baik. Lalu jangan lupa ambil juga sisi buruknya, proses dan saring kembali agar yang buruk itu bisa menjadikan dirimu lebih baik. Maka dari sini saja sesungguhnya apapun bisa kau proses menjadi kebaikan untukmu. Selanjutnya bisa kau pancarkan kembali untuk membaikkan orang lain. Fastabiqul khoirot.

Sesungguhnya Rasulullah adalah suri tauladan yang baik. Jika dalam diri idolamu ada sifat-sifat Rasulullah, maka itu adalah tauladan. Begitu mungkin pengambilan kesimpulan yang asik. Kita bisa mengambil contoh dari manapun dan siapapun asal itu adalah kebaikan. Karena bisa jadi cahaya Rasulullah juga telah menciprati banyak orang hingga secara tidak langsung teladan itu bisa diambil dari siapapun.

Daripada saling meneriaki yang ini bid’ah dan yang itu kafir, saya lebih senang memaknainya sebagai proses mengenal Rasulullah. Dibanding mengkafir-kafirkan sesama manusia, saya memahami bahwa semua manusia memang sedang melangkah menuju ketidak kafiran itu sendiri. Sepanjang waktu, hidup ini adalah kesempatan bagi manusia untuk belajar menjadi lebih baik. Kawan, bisa jadi kalian lebih pintar dari yang lain dalam menangkap kebesaran Tuhan, tapi jika ada yang tak lebih pintar darimu, maka rangkul dia, ajak menuju pemahaman yang benar dengan lebih asik dan menyenangkan. Tak perlu menghujat, karena dihujat itu tidak keren. Bahasa kekinian menyimpulkan bahwa rasanya sakit di sini.

Begitulah kirannya pesan yang masih bisa saya kenang dalam hidup ini kawan. Dan perjalanan hidup kali ini, tiba masa dimana saya diberikan sebuah misi. Misi kali ini adalah misi penjemputan mas itu. Malang punya gawe untuk menjadikan mas itu sebagai pemateri utama dalam sebuah acara. Akhirnya sampai juga di tempat mas itu singgah beristirahat. Ketika bersalaman dengan sang idola. Semua masih terlihat sama. Hanya saja mas-mas yang satu ini sudah terlihat lebih matang dari 10 tahun silam. Wajah yang dulu terlihat unyu-unyu itu kini semakin terbingkai dengan aura bijak. Masih sama, suara khas medoknya masih terasa. Guyonan dan gaya konyolnya juga seringkali menghiasai tingkah polahnya yang nampak elegan.

Mental Jajahan

Kediri – Malang 3 jam lamanya. Tiga jam kali ini bakalan menjadi tiga jam terlama dalam hidup. Semobil dengan mas itu, rasanya banyak tanya yang segara harus dijawab. Banyak bahasan yang butuh penjelasan. Setelah ngobrol ngalor-ngidul tentang membangun startup dan perjuangannya. Hingga tiba saatnya mas itu mulai membahas sesuatu yang menarik. Ia mulai berkisah tentang kondisi Indonesia masa kini dan generasi yang akan membawa Indonesia madani di masa mendatang. Generasi Larva!

“Berkaitan dengan generasi pembaharu. Indonesia masa kini itu posisinya sedang perang. Penjajahan sekarang cara menjajahnya sudah beda namun hasilnya tetap sama, yakni menghasilkan masyarakat yang bermental jajahan.”, mas itu menjelaskan lebih dalam.

Ia kembali melanjutkan bahwa untuk memenangkan perang menjadi bangsa besar. Maka mau tidak mau generasi larva harus memahami medan perang. Perang itu tidak hanya berteriak serang dan tanpa persiapan apapun. Memahami bagaimana kondisi lapangan, menguasai iklim perang saat ini dan mampu menimbang kondisi musuh adalah bagian dari perang juga. Dan perang kali ini tak lagi menyoal tentang perebutan wilayah ataupun pertumpahan darah. Perang yang sedang dihadapi bangsa ini adalah perang tentang menjadikan masyarakatnya lebih berdaya. Masyarakatnya yang tidak ketergantungan oleh campur tangan bangsa asing.

Bahasannya semakin epik. Mas itu mulai serius dengan sesekali disisipi guyonan khas konco kenthel. Ia berkisah semakin dalam, ia jelaskan bahwa pola pikir masyarakat sekarang kurang tepat. Apa-apa mengenai “kelucuan” yang terjadi pada bangsa ini selalu menyalahkan pemerintah. Padahal rakyat juga patut disalahkan, porsi antara kesalahan pemerintah dan kesalahan rakyat adalah 50:50. Sebab pemerintah juga hasil pilihan rakyat sendiri. Unsur dari sebuah negara ada rakyat dan pemerintah. Maka keduanya punya tanggung jawab yang sama terhadap keberlangsungan bangsa. Jika pemerintah sudah ndak bisa diharapkan, maka harus muncul generasi pembaharu yang mampu menjawab tanggung jawab yang ditinggalkan pemerintah. Tanggung jawab untuk mencintai bangsa ini.

Mari menjadi generasi pembaharu. Generasi larva jenis baru yang tidak ingin hanya menjadi nyamuk biasa. Generasi baru yang tidak hanya memiliki keinginan untuk memperkaya diri sendiri, seperti generasi yang sekarang memimpin negeri ini. Tapi juga generasi yang memiliki daya kuat untuk membangkitkan kembali Kejayaan Nusantara di tanah Indonesia. Generasi baru yang mampu memerdekakan pikirnya untuk berjuang, bertekad dan berupaya sesakti Garuda. Perang menjadi generasi baru itu berat, maka atur strategi dan pahamilah medan perang. Persiapakan 15 langkah ke depan lebih jauh dari musuhmu. Dan jangan mulai perang jika itu tidak membuatmu menang. Salam sungkem kepada mas itu, Mas Sabrang Mawa Damar Panuluh!

Ifa Alif
Asli Lanang – Relegi Malang
Tukang Promosi di www.kwikku.com

LEAVE A REPLY