Seperti lidi, jika ia hanya berdiri sebatang, maka tak akan banyak yang bisa dilakukan. Mungkin, sekadar sebagai tusuk gigi untuk menghilangkan sisa-sisa makanan yang bersembunyi di sela barisan gigi yang sedikit merenggang atau berlubang. Tapi, jika ia mau bersatu dengan kawannya, seikat lidi bahkan bisa menyejukkan pandangan mata, karena dapat digunakan untuk menyorong sampah-sampah menuju tempat pembuangannya.

Begitu pula dengan jemari tangan kita.

Ibu jari yang begitu tampak gagah dan selalu membuat hati orang berbunga-bunga ketika mendapat acungannya, ternyata ketika suit, ia masih terkalahkan dengan jari kelingking yang begitu imut nan mungil. Sementara si mungil kelingking pun, masih terkalahkan ketika suit dengan jari telunjuk. Jari yang seakan paling berkuasa menentukan apa yang dikehendaki hanya dengan mengacungkannya ke arah sasaran. Tapi pun, ia masih terkalahkan jika ibu jari sudah menampakkan dirinya dalam suit.

Sehebat apapun jemari tangan, ia masih tetap memiliki kelemahan dan tidak ada yang sepenuhnya menjadi pemenang jika hanya berjalan sendiri-sendiri. Meskipun tampak secara fisik kelima jari kita memiliki tampilan dan fungsinya masing-masing, untuk menggenggam “sesuatu” mereka harus tetap bekerja sama dan saling melengkapi satu sama lain.

Bayangkan sejenak, seandainya ibu jari kita dengan kegagahannya menyombongkan diri tak mau berkawan dengan jemari lainnya. Jangankan memungut nasi untuk dimakan, untuk membersihkan lubang hidung saja akan kesulitan. Yang lain pun demikian.

Sobat, Tuhan berulang kali mengingatkan kita bahwa manusia diciptakan dalam ragam perbedaan yang unik dan indah. Ada yang muda, tua, balita, dan yang lanjut usia. Ada yang berkulit putih seperti nasi hingga hitam seperti arang. Ada yang berambut lurus, tebal, dan panjang, hingga tak berambut satupun seperti lapangan. Ada yang berparas menawan bahkan sampai berperawakan mengerikan. Ada-ada saja semua macam tampilan manusia. Bagaimanapun, ia tetaplah manusia.

Manusia tidak diciptakan kecuali hanya untuk beribadah kepada Tuhan Penguasa alam. Meskipun manusia memiliki beraneka profesi yang dilabelkan oleh sesama, profesi dasarnya tetaplah sebagai hamba di hadapan Tuhan. Meskipun beraneka pekerjaan ditunaikan di ruang dan waktu yang berbeda berdasarkan profesi masing-masing, pada saat adzan dikumandangkan, pada saat lonceng gereja dan kuil dibunyikan, dan do’a-do’a di pura dilantunkan, mereka berduyun-duyun menyucikan diri untuk kembali menunaikan persembahan kepada Tuhan. Mendemokan segala keluh kesah, permintaan, harapan, bahkan pengaduan, tangisan dan cacian untuk menunjukkan bukti kesetiaan seorang hamba yang senantiasa bersandar kepada Tuhan. Sungguh akan menjadi lebih indah keindahan yang tersulam oleh hamba-hamba yang beriman.

Jika kita sudah mengetahui hakikat penciptaan manusia yang demikian, masihkah kita merasa paling unggul di antara saudara-saudara kita lainnya? Masihkah kita merasa paling hebat, paling baik, paling bijak dan paling mulia di antara sesama? Sehingga hama-hama kesombongan, keangkuhan, dan kecongkakan beranak-pinak memusnahkan tunas-tunas kerendah hatian, dan ketulusan. Sehingga gulma-gulma ketamakan, kerakusan, dan keserakahan tumbuh lebat menindas kecambah-kecambah kesederhanaan dan kedermawanan. Daripada mengutuki kedhaliman, mungkin lebih baik jika mulai bercocok tanam keadilan. Daripada membuang sumpah-serapah untuk menghujat kedustaan, mungkin lebih baik kita mulai menyemaikan benih-benih kejujuran. Atau lebih dari itu, siapapun kita, saudara-saudara kita, apapun yang kita lakukan, kita mencoba kembali mengeratkan jemari-jemari yang merenggang, menyatukan jemari-jemari yang terberai, merapatkan barisan, saling bergandengan menjemput rahmat Tuhan Yang Maha Penyayang.

Demikianlah ayat kauniyah yang mungkin tidak banyak orang memperhatikan. Setiap orang memilikinya, menggunakannya, tapi, hanya sebagian kecil yang mau mengambil pelajaran darinya. Jemari mungil yang dikaruniakan Tuhan kepada manusia.

Malang, 03 Desember 2016

Histisha NR

 

LEAVE A REPLY