Akeh kang apal qur’an hadise

Seneng ngafirke marang liyane

Kafire dewe gak digatekke

Yen iseh kotor ati akale

 

(Abdurrahman Wahid)

 

Terkait definisi kafir, di antara banyak paparan, ada satu yang paling menggelitik untuk bisa dibaca dan dipikir lebih mendalam. Yakni, “kafir adalah orang yang mata hatinya dalam keadaan tertutup (tidak mampu) memperhatikan tanda-tanda (kebesaran) Allah dan mereka tidak sanggup mendengar keterangan dari tanda-tanda tersebut”.

 

Sekelumit di atas adalah bagian dari puzzle Al-Quran yang jika ditafsirkan kurang lebih selaras dengan sepotong syair milik Gus Dur. Banyak yang mengaku pinter tapi keminter tur keblinger. Sebagian dari kita, kerap kali menengok dan mengamati dengan amat jeli apapun yang dilakukan dan terjadi pada orang-orang di sekitar atau bahkan yang di kejauhan. Sementara yang terdekat sering kali terlupakan. Dengan kecanggihan teknologi sekarang ini, kita kerap kali kepo dengan hal-hal yang ada di luar diri kita, sementara kebutuhan kita sendiri terabaikan.

 

Senada dengan fenomena kafir dan mengafirka, jika seseorang yang sudah jelas-jelas beridentitas kafir, maka sebenarnya dia sudah lumayan aman. Karena mau diapa-apakan ya dia sudah kafir. Jadi biarlah mereka begitu, jangan dikafir-kafirkan lagi. Kasihan. Toh juga mereka mata dan telinganya sudah tertutup. Jadi, percuma diberitahu dengan model apapun tetap tidak akan menimbulkan perubahan. Kecuali si pelaku kafir tersebut berkenan merubah dirinya.

 

Sedangkan bagi yang belum kafir, justru malah orang-orang seperti inilah yang terancam untuk jatuh terperosok sebagai kafir. Gus Dur menuturkan bahwa kafire dewe gak digatekke, itu ya karena memang sebenarnya setiap dari kita itu memiliki potensi untuk menjadi kafir. Dan karena kita sibuk mengafirkan yang lain, akhirnya kita pun terjatuh sebagai kafir, baik disadari maupun tidak.

 

Dengan kalimat itu, bisa jadi Gus Dur mengingatkan bahwa mbok yao kita itu mengurusi diri kita dulu bagaimana agar tidak sampai terpleset sebagai kafir, bagaimana kita benar-benar memfungsikan mata, telinga, dan hati kita untuk siap sedia menerima hidayah Allah dalam keadaan apapun, dan mensyukuri setiap tetes karunia-Nya, itu yang penting. Lebih baik mencegah daripada mengobati. Ya walaupun Allah sendiri menyediakan obat, terapi, bahkan rehabilitasi bagi yang sudah terlanjur terjangkit kafir. Tapi, tetap kembali lagi, semuanya sebenarnya sudah ditentukan oleh Allah. Hanya saja karena manusia telanjur diciptakan berakal, jadi Allah pun memberikan pekerjaan buat akal kita agar tidak menjadi pengangguran, dengan cara memberikan pilihan dari setiap apa yang hendak kita putuskan dan jalankan.

 

Dan menjadi kafir atau non kafir itu pun pilihan. Kalau kita mau menjadi kafir ya gampang saja, pura-pura butalah, pura-pura tulilah, dan bawa kepura-puraan itu sebagai kebiasaan sehingga benar-benar akan terjadi kebutaan dan ketulian. Tak hanya pada mata dan telinga lahiriah, tapi juga penglihatan dan pendengaran hati pun akan turut membatu, ketika ditunjuki ayat-ayat (tanda) kebesaran Allah.

 

Sebaliknya, jika kita memilih untuk menjadi non kafir, ya sedikit gampang-gampang susah. Kita harus belajar membuka pendengaran dan penglihatan kita, hati kita, untuk menerima petunjuk-petunjuk Allah, apapun bentuknya. Sehingga kita pun dapat mensyukuri nikmat Allah Swt dengan segenap kerelaan kita.

 

Jadi Sobat, daripada kita sibuk mengalkulasi tingkat kekafiran orang lain, lebih baik kita memvaksinasi diri agar terhindar dari predikat kafir. Karena saat kita menertawakan kekafiran orang, mengejek dan menjastisnya, sebenarnya kita sedang memosisikan diri untuk sebentar lagi menyusul rating posisinya sebagai kafir pula. Sebab, pada saat-saat yang seperti itu kita sudah disibukkan dengan kebanggaan diri, seolah kita tidak akan pernah menjadi kafir sehingga lupa untuk bersyukur. Dan jika kita berhasil menghindar dari menjadi sosok kafir, maka kita akan tergolong sebagai orang yang selamat. Kalau dalam bahasa Arab, disebut dengan muslim (orang yang selamat).

 

Wallahu a’lam bish shawab.

Malang, 20 Februari 2016

HISTISHA NR.

(Mahasiswi Bahasa dan Sastra Arab)

 

 

LEAVE A REPLY