“Matematika sama sekali tidak berhubungan dengan lainnya, kecuali matematika itu sendiri. Tetapi begitu diberi sandang maka akan berkoneksi dengan lainnya. Contohnya fisika itu ketika matematika (angka 2) diberi sandang “kilogram”, maka itu menjadi satuan massa. Jadi, matematika itu semurni-murninya ilmu.” begitulah yang disampaikan Mas Sabrang pada malam Padang Mbulan itu.

Mungkin sebagian dari kita akan bertanya-tanya. Ah, masak iya matematika itu semurni-murninya ilmu? Atau, ada juga yang mempertanyakan ibrah yang bisa diambil dari kemurnian ilmu itu sendiri. Terus kalau matematika itu semurni-murninya ilmu memangnya kenapa? Ah, memang. Hidup tak pernah bisa lepas dari yang namanya tanda tanya. Dan tugas manusia yang telah dititipi akal lah untuk terus berjalan mencoba mencari jawaban dari setiap tanda tanya yang ada.

Berbicara masalah tanda tanya. Sekarang mari kita mencoba mencari jawaban dari tanda tanya berikut ini. Kalau misalkan ada yang bertanya, berapakah hasil dari 6 : 2 (1 + 2)? Kira-kira jawabannya 9 ataukah 1? Mungkin dalam masalah ini akan lahir 2 madzhab. Yang pertama, mereka yang mengikuti mazhab angka 9. Dan yang kedua adalah mereka yang memegang teguh mazhab angka 1. Bukankah sudah jelas operasi-operasi yang telah diberikan dalam soal tersebut? Pembagian, perkalian, dan penjumlahan. Lantas, kenapa masih timbul permasalahan juga?

Baiklah, mari kita mencoba mencari jawabannya bersama-sama. Ketika kita belajar tentang matematika, kita akan diajari tentang aturan-aturan dalam menggunakan operasi-operasi yang ada. Misalkan operasi perkalian, pembagian, penjumlahan, dan pengurangan. Dalam operasi-operasi tersebut, akan terbagi menjadi dua golongan. Golongan pertama adalah golongan yang lebih kuat. Posisi ini ditempati oleh operasi perkalian dan pembagian. Adapun golongan yang kedua adalah operasi penjumlahan dan pengurangan. Dan yang harus diperhatikan adalah apapun operasi yang disuguhkan, jika sudah diberikan tanda kurung, maka operasi tersebut wajib hukumnya untuk diproses terlebih dahulu.

Penggolongan operasi-operasi tersebut hanyalah salah satu usaha untuk mempermudah kita dalam mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang bersentuhan dengan operasi-operasi matematika. Misalnya dalam sebuah soal kita dihadapkan dengan dua operasi yang berbeda golongannya, maka yang harus diproses terlebih dulu adalah operasi yang berstatus lebih kuat. Katakanlah ada sebuah soal yang mempertanyakan jawaban dari 9 – 2 x 3. Karena operasi yang lebih kuat adalah operasi perkalian, maka langkah pertama yang harus dilakukan adalah mengalikan 2 dengan 3. Setelah itu baru 9 dikurangi 6 (sebagai hasil dari 2 dikali 3).

Adapun jika ada beberapa operasi atau semua operasi mempunyai tingkat kekuatan yang sama, maka operasi-operasi tersebut diproses sesuai dengan urutan posisinya. Misalnya pada contoh soal yang telah diberikan di awal tadi, 6 : 2 (1 + 2). Pada soal tersebut, ada satu operasi yang berada di dalam tanda kurung. Sesuai dengan aturan yang telah dibahas sebelumnya, maka operasi yang di dalam kurung diproses terlebih dulu. Sehingga menjadi 6 : 2 (3). Pada kondisi tersebut operasi-operasinya berstatus sama kuatnya. Yaitu operasi pembagian dan perkalian. Jadi, dapat diproses sesuai dengan urutan posisinya. Enam dibagi dua lalu hasilnya dikalikan tiga. Sehingga hasil akhir yang didapatkan adalah sembilan.

Sesuai dengan permasalahan di awal, bahwa tujuan utama pencarian kita bukanlah tentang jawaban atas soal matematika tersebut. Lebih dari itu, yang menjadi sorotan kita adalah apakah yang bisa kita petik di balik matematika sebagai ilmu yang semurni-murninya ilmu.

Mungkin ada baiknya kita melirik operasi-operasi di atas sejenak. Bukankah sebenarnya operasi-operasi tersebut sudah pasti? Perkalian itu bagaimana, pembagian itu seperti apa, penjumlahan itu kerjanya bagaimana, dan pengurangan juga bagaimana. Semuanya sudah jelas. Dan itu pasti. Meskipun operasi-operasi tersebut merupakan sesuatu yang sudah pasti, toh ternyata masih ada celah untuk fleksibel. Tergantung penempatannya di mana. Selain itu juga masih bisa memancing perbedaan pandangan. Contohnya saja dalam soal matematika di awal tadi. Ada yang menjawab 9. Ada juga yang menemukan angka 1 sebagai jawabannya. Meskipun, setelah ditelusuri menggunakan aturan-aturan yang ada, jawabannya adalah 9.

Kalau begitu tidak heran jika Al – Quran yang semurni-murninya kitab dan merupakan kepastian firman Tuhan pun masih bisa mengundang beberapa penafsiran yang berbeda. Ya, ayat yang sama bisa menghasilkan penafsiran-penafsiran yang berbeda-beda. Kalau yang pasti saja masih bisa punya peluang untuk berbeda, apalagi yang tidak pasti? Kalau yang murni saja masih ada celah untuk bersikap lentur, apalagi yang tidak murni?

Matematika pun telah mengajarkan bagaimana kita harus bertoleransi. Saling menghargai satu sama lain. Dan tidak merasa kebenaran hanya milik kita sendiri. Bukankah Tuhan juga telah berfirman demikian? Bagimu agamamu dan bagiku agamaku. Tak mengapa jika kebenaran orang lain tidaklah sama dengan kebenaran menurut kita. Tuhan pun sudah mengingatkan di awal. Dan Dia telah maklum. Toh, kita juga sudah sama-sama berjuang mencari kebenaran itu sendiri. Sekali lagi. Tugas kita sebagai manusia hanyalah berusaha. Berikan ruang pada yang lainnya untuk sama-sama berjalan, berjuang, mencari kebenaran yang sejati. Dan biarkan Tuhan yang menilainya. Mbah Nun pun juga sering mengingatkan demikian. Bahwa memang sudah wilayah Tuhan lah yang memberi nilai rapor pada semua makhluk-Nya. Karena memang hanya Dia Yang Maha Sejati lah yang mengetahui kebenaran yang sejati.

 

Penulis : Hilwin Nisa’

LEAVE A REPLY