Ilmu sering kali menjadi bagian kehidupan manusia. Bahkan sering kali digunakan untuk pembeda antara manusia dengan makhluk lain. Ilmu kemudian menjadi menjadi titik penting untuk memahami sebenar-benarnya manusia. Karena untuk menjadi manusia yang berpikir salah satu syaratnya adalah berilmu. Tak lupa, Sang Tunggal memberikan tanda kepada manusia, bahwa manusia yang berjuang untuk menuntut ilmu sebenarnya sedang berjihad.

            Ilmu tidak dapat diartikan dengan sempit. Ilmu yang memiliki sifat selalu berubah dengan adanya penemuan-penemuan terbaru. Penemuan-penemuan inilah yang akan membawa manusia kepada kebenaran mutlak yang dimiliki Sang Tunggal. Si Mbah pun berpesan kepada jamaahnya untuk selalu melakukan penelitian yang mendalam pada diri, untuk menemukan kebenaran di tingkat selanjutnya. Beliau menyebutkan bahwa setiap orang yang berilmu haruslah melihat setiap permasalahan dari banyak sudut pandang. Beliaupun juga selalu menyatakan “sing elek wae lo tak kancani”. Inilah sebenarnya keindahan ilmu. Tidak hanya membingkai persoalan benar salah, melainkan juga merangkul baik dan indah.

Ketika melihat perkembangan ilmu di peradaban manusia, sering ditemui banyaknya teori-teori parsial yang saling melengkapi. Dari ilmu psikologi misalnya,  banyak teori atau aliran pemahaman yang muncul. Teori yang seolah kontradiktif dan nampaknya saling menyalahkan, namun seiring semakin bijaksananya waktu, gesekan itu memunculkan harmoni untuk saling melengkapi dan memberi jalan menuju kebenaran  hakiki. Perlu dirasakan kembali secara mendalam bahwa ilmu bukan hanya melabeli objek menjadi benar dan salah. Syarat yang diberikan Si Mbah untuk dapat menjadi ilmu ialah.

  1. Baik

Ilmu itu baik. Baik digunakan untuk kehidupan sehari-hari, baik untuk diberikan kepada makhluk lain. Baiknya juga dapat dirasakan oleh banyak manusia. Karena surga pun akan terasa sangat membosankan apabila dinikmati sendiri. Saling membangun surga secara bersama-sama sepertinya lebih menyenangkan.

  1. Benar

Benar pun dapat berubah, dinamis. Berubah dengan kebenaran lain yang ditakar memiliki kadar kebenaran yang lebih mendekati kebenaran Tuhan. Memang benar sangat penting, tapi pandangan orang akan kebenaran itu berbeda-beda. Jika kebanyakan orang melihat 3 dikurangi 2 sama dengan 1. Apakah saya dapat dikatakan selah ketika melihatnya sama dengan 2/2, 3/3, atau 10/10. Kebenaran yang disepakati sering kali dimaknai kebenaran mutlak. Tapi sebenarnya itu merupakan hasil kesepakatan untuk dapat memudahkan dalam memandangnya. Karena kebenaran mutlak bukanlah kebenaran yang terkandung dalam kebenaran umum melainkan kebenaran Sang Tunggal.

  1. Indah

Ini lah tingkat tertinggi dari ilmu. Ketika ilmu sudah memenuhi kebaikan dan kebenaran, maka akan terjalin hubungan keindahan. Tidak saling membenarkan atau menyalahkan, bahkan juga tidak hanya melihat ketidak baikan yang melekat. Namun juga selalu bisa melihat sisi indahnya. Keindahanlah yang selalu diajarkan kepada Sang Kekasih Pemilik dunia ini. Bahkan orang yang membenci pun dilindungi dengan kasih sayangNya. Bukan untuk pencitraan, bukan untuk berkuasa dan bukan untuk mendapat balasan kasih sayang. Hanya wujud kasih kepada seluruh makhlukNya.

Jadi apakah kita benar-benar orang yang berilmu? Apakah kita dapat memaknai ilmu dengan tepat. Tidak ada ilmu yang hanya menyalahkan kesalahan apalagi mengutuknya, kehadiran ilmu adalah untuk menjadikan kesalahan semakin baik, benar dan indah. Ilmu tidak dapat dipaksakan kepada orang yang belum berilmu. Jika memang ada manusia yang kurang tepat memahami ilmu, mari kita bagi kasih dan sayang yang telah dititipkan pada kita kepadanya. Ilmu bukan lagi menyoal reward dan punishment. Sejatinya manusia beraktualisasi dengan ilmunya sendiri-sendiri dan dengan beragam cara yang unik. Salah satu keindahan yang diberikan Sang Tunggal, Dia menyerahkan diriNya untuk mudah ditemukan, dengan banyak jalan dan bergam cara menujuNya.

Hai manusia, sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang lak-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa- bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi maha mengenal” (QS Al-Hujarat:13).

Mari saling manyayangi dengan berlandas ilmu, saling mengenal dan berbaur. Jika sebagian dari saudara salah ucap dan salah jalan, rangkul dengan kasih sayang. Mari melihat kesalahan dengan dan dari sudut pandang yang indah. Demi langkah untuk terus menuju Maha Indah

Prisma Susila

LEAVE A REPLY