Kepakan Langkah-Langkah Kecil Kita

Kepakan Langkah-Langkah Kecil Kita

0
352

Ada kalanya, saat dihadapkan dengan hitung-menghitung, kita pun akan dihadapkan dengan pilihan untuk membulatkan hasil dari operasi bilangan-bilangan tersebut. Sekilas, hal ini mungkin memang tidak begitu penting. Pembulatan ini tampak sangat remeh, layaknya remukan rengginang yang terbuang di jalanan. Tiada guna dan terbuang sia-sia.

Baiklah, mungkin ia memang tiada punya arti. Perubahan bilangan jauh di belakang koma ini, bisa jadi tidak akan merubah hidup kita detik ini juga. Akan tetapi, bagaimana jadinya jika pembulatan ini dilakukan terus berulang-ulang, pada operasi yang beragam, dan dengan bilangan yang cukup besar nilainya. Masihkah perbedaan antara hasil yang sebenarnya dengan hasil dari pembulatan tersebut kecil nilainya? Dari sini, kemungkinan akan adanya perubahan yang cukup besar pun pada akhirnya tidak akan terelakkan juga.

Kalaulah memang selisihnya cukup kentara, lantas apa permasalahannya? Toh itu hanyalah deretan angka saja. Deretan sesuatu yang abstrak, sesuatu yang tak jarang kita pun mempertanyakan wujudnya di dunia nyata.

Lagi-lagi, mungkin ini memang tidak akan ada nilainya jika kita melihatnya hanya sebatas dari angka-angka yang tak bernyawa. Akan tetapi, bagaimana jadinya ketika kita melihat sesuatu yang ada di sampingnya, sesuatu yang tidak bisa lepas dari angka-angka. Bagaimana jadinya ketika perhitungan tersebut dipergunakan untuk menghitung sesuatu yang memang sangat menomorsatukan dan sangat membutuhkan kepresisian. Di bidang penerbangan, misalnya. Apa tidak berbahaya, jika pada akhirnya kekurangtepatan penghitungan, hanya karena pembulatan yang sering kali dipandang sepele ini pada akhirnya bisa mengancam puluhan, bahkan sampai ratusan nyawa anak manusia.

Ya, sesuatu yang sekilas tampak sepele, pada akhirnya pun bisa menjadi sesuatu yang akan sangat berpengaruh dalam hidup kita. Bisa jadi, hal-hal receh yang menurut kita biasa saja, pada momentumnya akan bisa sangat merubah hidup kita. Atau, bisa jadi bukan hanya kita saja yang merasakan perubahannya. Mereka yang di luar diri kita pun bisa turut merasakan dampaknya. Bahkan, bisa jadi mereka yang terbentang jauh ribuan kilo meter di sana pun bisa turut merasakan dampak dari perbuatan kita. Pun sebaliknya. Bisa jadi apa yang terjadi pada diri kita ini juga merupakan bagian dari dampak kepakan ‘sayap’ mereka-mereka yang jauh di sana.

Ada banyak kemungkinan arah dari perubahan  tersebut. Ia bisa saja diam-diam mengantarkan kita bergerak pada suatu kehancuran. Pun sebaliknya. Kelak, ia juga bisa yang akan menjadi estafet demi estafet kebaikan kecil yang mengantarkan kita pada kemenangan. Semua tidak bisa lepas dari apa yang kita lakukan di masa lalu dan sekarang.

Jika kita melakukan kebaikan-kebaikan kecil, meski sekarang sekilas tak ada apa-apanya, jangan salahkan jika ada saatnya langkah-langkah kecil inilah yang akan mengantarkan kita pada hujan kenikmatan. Jangan salahkan pula jika kebaikan-kebaikan kecil ini, pada akhirnya akan turut andil mengirimkan kebaikan pada yang lainnya. Jangan salahkan jika semesta meniupkan anginnya untuk membawakan aroma kebaikan ini pada yang jauh di sana, dan dalam dimensi waktu yang entah berapa kecepatan cahaya jaraknya dengan kita.

Pun sebaliknya. Kita pun harus lebih berhati-hati lagi jika selama ini kita cenderung menjadi sosok yang terlalu ‘pemaaf’. Dengan mudahnya kita memberikan kelonggaran pada kesalahan-kesalahan kecil kita. Bukan apa-apa, hanya takut saja jika sampai ada nyawa lain yang turut merasakan getah kesalahan kita.

Ah, semoga kita senantiasa dijaga. Selalu diberikan ingat agar tetap berusaha menjaga langkah kita di jalan-Nya. Sekalipun hanya selangkah, semoga tak akan mengundang murka-Nya.

Sekali lagi, tak ada salahnya jika kita mulai dan berusaha menaruh perhatian pada langkah kecil kita. Bagaimanapun, kita tak akan pernah tahu, di langkah kita yang mana, semesta akan meniupkan aroma langkah kita ke dunia. Hanya berharap, semoga wangi semerbak yang akan dihirup dunia. Hingga semakin tak ada lagi kebusukan di antara kita.

 

Hilwin Nisa’

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY