Mencoba menepis penilaian subyektif, perasaan pribadi akan apa yang sebenarnya tengah terjadi pada bumi Indonesia ini. Jangan-jangan negara yang berasal dari kerajaan-kerajaan ini sedang tidak baik, hanya perasaan diri saja. Kemudian mencoba meihat-lihat kembali, akan kondisi Indonesia saat ini. Bak seorang dokter yang tengah mendiagnosis keadaan pasiennya. Satu persatu unsur negara mulai diamati. Mulai dari pemerintahannya, instansi pendidikannya, kesehatannya, dan yang lainnya. Melihat dari itu semua, rasanya memang benar-benar sulit mengatakan bahwa Indonesia sedang dalam keadaan sehat. Semakin ke sini, semakin terlihat bahwa Indonesia memang sedang dalam keadaan sakit. Tapi, lagi-lagi tak semua sadar merasakan sakit ini. Entah karena mereka menutup diri akan rasa sakit. Atau malah saking parahnya penyakit ini, hingga pertumbuhan dan perkembangannya tidak terlalu dirasa. Tahu-tahu sudah sangat parah dan semakin sulit pengobatannya.

Penyembuhan dari Dalam

Berbicara tentang suatu pengobatan, setidaknya ada dua cara yang bisa dilakukan untuk mengupayakannya. Bisa dilakukan pengobatan dari luar atau pengobatan dari dalam. Jika dalam hal ini yang tengah berpenyakitan adalah negara, maka pengobatan dari luar bisa dilakukan dengan pembenahan unsur-unsur negaranya. Seperti pemerintahannya, perpolitikannya, perekonomiannya, instansi-instansi pendidikan, kesehatan, dan yang lainnya. Atau, juga bisa dilakukan pengobatan dari dalam, yaitu dari masyarakatnya.

Jika dilihat dari dua arah pengobatan ini, rasanya pengobatan dari luar masih ‘belum’ menjadi kewajiban kita. Atau mungkin masih teramat jauh dari jangkauan kita. Maka, pengobatan dari arah dalam, menjadi pilihan yang saat ini dirasa tepat untuk mengupayakan kesembuhan tanah air.

Selain itu, ada alasan lain yang semakin memantabkan pilihan ini jatuh pada penyembuhan dari arah dalam. Meskipun toh secara normal lebih memerlukan waktu yang relatif lebih lama, tapi setidaknya dengan mengupayakan pengobatan dari arah dalam menyisakan peluang yang jauh lebih kecil akan kemungkinan kembali kambuhnya penyakit bangsa

Bayangkan saja, bagaimana jika bumi yang katanya dinyatakan merdeka sekitar 72 tahun yang lalu ini seluruh penghuninya sudah beres. Semua masyarakatnya sudah bisa disembuhkan. Sedang semua jabatan dalam unsur-unsur negara juga dipegang oleh masyarakat kita. Bukan kah semua akan ikut berjalan baik juga? Bukan kah unsur-unsur negara tersebut akan ikut tersembuhkan juga? Secara nalar manusia, jalan ini memang membutuhkan waktu yang memang relatif lebih lama. Tapi, lagi-lagi jalan ini lah yang rasanya lebih bisa kita tempuh. Daripada hanya sekadar mengharapkan perubahan dari mereka, yang berada di luar lingkar pengaruh kita.

Dalam jalan ini, dibutuhkan upaya-upaya penyadaran pada pribadi masing-masing, bahwa yang berjalan di jalan ini bukan hanya diri pribadi. Tapi ‘kita’. Dengan memahami makna di balik kata ‘kita’, sudah sepantasnya ego masing-masing dipensiunkan sahaja. Bahwa yang menjadi prioritas saat ini adalah semua saling bergandengan tangan, rapatkan barisan, saling mengisi dan memaksimalkan peran, bersama mengatur strategi untuk mengupayakan dan menjaga ‘kesehatan’ bersama. Bersama berjuang untuk melawan setiap racun yang mencoba ingin memperkeruh kesehatan tubuh bangsa kita.

Perkuat Akar

Jika ditelisik lebih jauh, hal yang paling mendasar dan yang paling utama dilakukan adalah memperkuat akar setiap kita. Mbah Nun sering mengingatkan para jamaah bahwa segala sesuatu bisa diperumpamakan dengan pohon. Dan kita pun harus belajar darinya. Secara teori, pohon akan mampu berbuah lebat jika akarnya pun juga kuat. Pohon dengan akar yang kuat, ia juga tak akan mudah tumbang. Dengan belajar dan berkaca pada pohon, agar setiap kita juga mampu ‘berbuah’ lebat dan tidak mudah tumbang di tengah jalan, maka kita pun juga harus memperkuat akar masing-masing kita.

Lalu apa sebenarnya akar kita? Setidaknya, ada dua  yang bisa disebut sebagai akar. Iman dan cinta. Iman yang kuat akan mendorong kita untuk terus mengupayakan kebaikan, juga akan sangat malu jika sampai melakukan keburukan. Sedang cinta yang kuat akan mendorong kita untuk terus berjuang mengupayakan yang terbaik yang kita bisa. Rela berkorban untuk kebaikan yang kita cinta. Cinta pula yang akan menggenapi iman kita pada Yang Maha Ganjil. Hingga apa pun yang kita lakukan sebagai persembahan pada-Nya, segala upaya untuk menjalankan perintah serta menjauhi  larangan-Nya, akan mampu terlaksana dengan hati yang lapang dan bahagia. Tanpa ada beban yang merasa terpaksa disuruh-suruh saja, karena kita melakukannya dengan berlandaskan cinta.

Sedang hari ini, rasanya akar kita masih belum kokoh. Hingga buah amal kebaikan sebagian kita masih belum lebat, juga pohon kita masih rapuh dan mudah terombanng-ambingkan. Coba lihat, masih kah ada iman dan cinta, jika berbuat keburukan pun tiada lagi malu dalam dada. Justru terkadang malah bangga melakukannya. Sebaliknya, seolah merasa sangat menyesal dan teramat rugi jika tidak turut mencicipi nikmatnya berbuat dosa.

Jika iman dan cinta sudah mengakar dalam darah kita, harusnya tak lagi ada korupsi. Saling merampas sana sini. Saling iri dan ingin menang sendiri. Saling menghujat dan merasa paling benar sendiri. Jika iman dan cinta masih tetap dirawat dan dibiarkan semakin mengakar, seharusnya kita malu melakukan itu semua. Malu, karena kapan pun dan di mana pun kita berada, kita akan selalu merasa bersama Sang Maha Cinta. Hingga teramat malu dan takut untuk melukai hati-Nya. Dengan iman dan cinta pula lah, permusuhan dan perpecahan semakin bisa ditekan. Karena cinta mampu memupuskan kebencian. Hingga yang tersisa hanya lah rasa mencintai, melayani siapa dan apa pun saja dengan berdasarkan cinta.

Kesadaran Kosong

Mungkin ada baiknya juga kita belajar pada pesan Kanjeng Nabi. Bahwa beliau mengingatkan kita untuk mengisi perut dengan sepertiga air, sepertiga makanan, dan sepertiga udara. Artinya, di situ dianjurkan untuk menyisakan ruang kosong dalam perut kita. Senada dengan itu, ada juga pesan dari kerajaan Matematika. Tentang himpunan yang apa pun dan siapa pun dia, selalu ada ruang kosong dalam dirinya.

Dari sini kita pun dapat belajar untuk mempersiapkan ruang kosong dalam diri kita. Kosong yang dimaksud di sini lebih mengarah kepada mengosongkan kembali kesadaran. Bahwa kita memang berawal dari tiada yang kemudian diadakan dan akan kembali tiada. Bahwa kita berjalan hanya atas dasar kehendak dan rahman rahim-Nya. Hingga mengosongkan diri pun dirasa perlu, untuk menyiapkan diri agar bisa siap dan ridho akan apa pun saja yang dikehendakkan Sang Muara Cinta. Berusaha berjalan dengan sebaik semampu kita sesuai dengan kehendak-Nya. Dan bagaimana pun, kita tidak akan pernah mampu melakukan apa pun saja tanpa kehendak, kuasa, juga rahman rahim-Nya.

Akan tetapi, jangan pula diartikan mentah-mentah bahwa kosong yang dimaksud di sini adalah menyerah pasrah tanpa adanya upaya. Justru karena kesadaran kosong ini tadi, bahwa kita hanya lah mainan Sang Sutradara, kita akan berusaha melakukan apa pun yang bisa membuat-Nya semakin cinta. Juga berusaha mencintai setiap pemberian-Nya.

Kembali pada mengupayakan kesembuhan bangsa, dari sini kita telah mempunyai keyakinan yang utuh bahwa kita tak akan pernah mampu melakukan apa pun saja tanpa ada petolongan dari-Nya. Karenanya, dalam upaya penyembuhan ini, kita hanya bisa berusaha dan mengembalikan semua hasil hanya pada-Nya. Sebagaimana Tuhan juga memerintahkan untuk terus berusaha dan hanya berharap pada-Nya. “Tuhan tidak akan merubah nasib suatu kaum, kecuali dia sendiri yang berusaha untuk merubahnya.”  Kurang lebih begitu lah pesan yang telah disampaikan Tuhan dalam ayat-ayat cinta-Nya.

Sekali lagi, sementara yang kita bisa hanyalah berusaha mengupayakan sebaik semampu kita. Berusaha untuk terus membangun kesadaran dan menjaga kesadaran bersama. Bahwa saat ini yang dibutuhkan adalah kesuburan iman dan cinta kita bersama. Untuk bersama berjuang melawan setiap racun yang berusaha merusak tubuh bangsa. Dengan tetap memohon cinta kasih dan mengharapkan pertolongan hanya kepada-Nya. Hingga akhirnya, semoga kehendak Tuhan sejalan dengan harapan. Menyelamatkan kita bersama dengan naungan cinta kasih-Nya.

Hilwin Nisa’

LEAVE A REPLY