Induk Burung dan Sarangnya

Di batang pohon yang tak jauh dari sawah, bertenggerlah anak-anak burung yang sedang kelaparan menunggu makanan dari induknya. Kemudian demi anak-anaknya burung itu berusaha mencuri, mengambil jatah makanan berupa biji padi. Dengan bersusah payah dan hati-hati, si induk mengambil makanan, karena dia sangat ketakuan sesungguhnya. Ketakutan, jika tertangkap basah pak petani, tetapi apalagi yang ia andalkan untuk menutup lapar sang anak kalau bukan keberanian dan sikap pantang menyerah.

Sesampai di sarang, segera ia memberikan biji-bijian tersebut kepada anaknya. Dengan nikmat anak-anak burung itu memakan biji-bijian itu di dalam sarangnya. Sarang yang sebenarnya tidak terlalu luas, tetapi cukup nyaman dan menghangatkan. Di sarang itu mereka berbagi kebahagiaan, berbagi cinta. Tempat di mana anak-anak burung dibesarkan dan dirawat oleh induknya. Dari tingkah laku anak-anaknya yang tidak bisa terbang, dan dengan telaten sang ibu mengajarkan terbang anak-anak burung.

Cerita tentang Induk burung dan sarangnya nampak menjadi gambaran sempurna sebuah rumah. Di mana rumah adalah tempat untuk berlindung, untuk mencurahkan cinta dan kasih, untuk belajar, juga merupakan tempat yang sangat kita rindukan. Lalu bagaimana jika fungsi dan tujuan rumah itu mulai bergeser akhir-akhir ini. Bagaimana dengan nasib anggota keluarga yang ada di dalamnya? apakah masih akan tetap sama merasakan kebahagiaan, kenyamanan, dan cinta?

 Cinta yang Hilang dan Pilihan Hidup

Jika melihat dengan kacamata yang lebih luas nusantara juga merupakan sebuah rumah besar bagi rakyatnya. Yang mana rumah ini pastilah memiliki tujuan dan fungsi. Tetapi sangat disayangkan bahwa rumah ini tak sehangat dan tak senyaman dulu. Jika dulu Ibu burung mampu mempertaruhkan nyawanya untuk ditangkap pak petani demi memberi makan anak-anaknya, kini ibu burung tidak ingin lagi melakukan hal yang sama untuk mengisi perut anaknya. Mereka lebih disibukkan menata bulu-bulu cantiknya dan memamerkan keindahannya kepada burung lain. Sehingga anak-anak burung yang kelarapan menjadi pemandangan biasa. Di sisi lain anak-anak belum diajarkan kemampuan untuk terbang, yang merupakan bekal mencari makanan. Dan lagi-lagi Ibu burung juga enggan mengajarkan anak-anaknya untuk terbang. Padahal itu adalah jati diri burung. Kondisi ini memaksa anak-anaknya belajar secara mandiri, mencari sendiri bagaimana dia dapat terbang.

Rumah ini semakin menjadi dingin dan hampa akan cinta. Para ibu dan bapak burung sibuk dengan sanjungan hewan-hewan lain bahwa burung adalah mahluk yang hebat. Mahluk yang dikaruniai sayap sehingga dapat membelah langit dalam waktu sekejap. Para tetua hanya sibuk dengan kebanggaan dirinya sendiri, sampai lupa untuk menghebatkan anak-anaknya yang seharusnya mewarisi kehebatannya juga. Yang nantinya akan melanjutkan generasi burung di kehidupan mendatang.

Rumah yang tadinya memiliki tujuan mulia untuk menghebatkan anggota keluarga dan membentuk generasi unggul ke depannya dengan cinta dan kasih sayang, kini sudah berbalik arah menjadi tempat untuk bersaing dan saling mengungguli. Anak-anak burung yang melihat perilaku orang tuanya saat ini, memiliki dua kemungkinan untuk tumbuh. Karena terlanjur dibesarkan di ingkungan yang tidak kondusif lagi. Dia dapat memilih kelak tumbuh menjadi seseorang yang sama seperti induknya yang tidak melakukan tugas orang tua sebagaimana mestinya, tetapi sibuk dengan kebanggaan dirinya. Ataukah menjadi anak-anak burung yang mengambil hikmah dari peristiwa buruk ini dengan menjadi burung baik. Burung yang kembali pada hakikatnya.

Menentukan Arah

Di nusantara terhampar anak-anak burung yang sedang mengadu nasibnya akan menjadi seseorang yang seperti apa. Di tengah buruknya kondisi para orang tua burung yang memimpin anak-anaknya. Kondisi kepemimpinan yang menyebabkan para burung-burung kecil kelarapan dan tak memiliki kemampuan terbang. Anak-anak burung yang mulai kehilangan sifat burungnya, kehilangan arah, dan berujung pada inferioritas, minder. Tetapi semua tidak berhenti pada ketakberdayaan dan kepasrahan karena dilahirkan di rumah yang kekurangan kasih sayang.

Anak-anak burung ini diidentikkan dengan para pemuda nusantara. Mereka mulai menemukan jalannya kembali agar rumah para burung ini kembali kepada tujuannya. Mereka mencari kompas kehidupan. Kompas penunjuk arah, guna meminimalisir tersesatnya anak-anak burung. mereka sedang berusaha menemukan arahnya kembali menjadi burung sejati yang sempat terputus beberapa waktu. Hingga mereka tersadar bahwa cara untuk menjadi burung sejati adalah dengan mempelajari segala sifat-sifat keburungan, belajar tentang kedalaman diri burung.  Mereka sedikit demi sedikit mengumpulkan bahan tentang bagaimana dulunya burung sejati hidup. Pencarian itu berlanjut hingga mereka dapat mengetahui dengan pasti seperti apa burung di masa lalu. Karena dalam perjalanan kepemimpinan dan keluarga burung ada kisah-kisah yang dapat diterapkan dan ada yang harus ditinggalkan. Diterapkan berarti kisah itu dapat menjadikan burung menjadi sosok yang lebih baik di masa mendatang, dan ditinggalkan karena kisah ini dapat menyebabkan burung menjadi hilang arah.

Begitulah cara anak-anak burung di nusantara dalam meraba masa depan dengan berpegang teguh pada masa lalu, karena masa depan yang indah merupakan hasil dari kerja keras di masa lalu. Kerja keras yang diimbangi dengan cinta dan kasih, sehingga rumah yang ditempati para anggota keluarga menjadi tempat yang selalu dirindukan. Bukan tempat yang selalu disalahkan dan dihujat, sehingga dapat menyebabkan burung-burung kecil bermigrasi untuk mencari rumah lain yang dapat menerima dan memperlakukannya dengan penuh cinta dan kasih. Beruntunglah rumah ini, Indonesia, karena pemudanya begitu mencintai tanah airnya sehingga mereka bersumpah dan akan tumbuh menjadi burung yang sejati, burung yang akan meramaikan indonesia dengan karyanya dan senantiasa belajar dari para pendahulunya, belajar perihal masa kini untuk bersahabat dengan masa depan.

Selamat Sumpah Pemuda. Songsong Pahlawan Sejati

Firza Dwi Hasanah

LEAVE A REPLY