Sekali waktu, coba bertanyalah pada siapa saja yang kau temui, ketika seseorang terkena Difteri, siapakah yang salah? Jawabannya bisa ditebak. Hampir semuanya akan menjawab bahwa yang bersalah adalah Difteri. Jawaban dengan keyakinan tingkat tinggi, bahkan mungkin dengan nada marah akibat kebencian yang sangat. Apa salahku, hingga kau Difteri menyerangku?

Hingga keheningan terjadi selama beberapa saat. Kemudian sekonyong-konyong ada suara lirih yang entah datangnya dari mana, “Apa salahku?” Telusur punya telusur, suara  imaginer itu datang dari kuman Difteri! Mungkin ia merasa ‘terusik’ pada akhirnya. Bukan karena ia tidak terima dituduh, didakwa, divonis secara sepihak dan semena-mena oleh makhluk-makhkuk yang katanya paling berakal. Makhkuk yang katanya selalu bisa memberi alasan logis dari setiap ucapan dan perbuatannya. Makhluk yang kondang disebut manusia!

Kuman kecil itu terusik karena ia ‘merasa perlu’ mengingatkan dan meluruskan hal-hal yang telah jauh terlanjur salah. Meski sesungguhnya itu sama sekali bukan kewajibannya. Itu kewajiban bagi makhkuk-makhluk berakal untuk menjawab setiap permasalahan di bumi! Sedang dahulu kala, saat ada sayembara pilihan Lurah di Bumi, kuman sama sekali tidak mengajukan diri dengan konsekuensi ia tak mendapat fasilitas akal. Ia ingat betul, pemenangnya saat itu adalah manusia yang kemudian kepadanya melekat fasilitas bernama akal. Entah saat mengambil jabatan itu si manusia berpikir penuh tanggung jawabnya kelak, ataukah cuman mikir nikmatnya fasilitas saja, itu bukan urusan kuman! Lalu urusannya siapa?

Semoga tak ada yang bilang, “Bukan urusan saya”. Dan akan lebih ngeri lagi bila yang bilang itu adalah makhluk berakal. Atau, jangan-jangan mereka yang berakal itu sejurus kemudian mendadak sibuk ke sana ke mari mencari makhluk berakal? Entahlah siapa nantinya yang harus bertanggung jawab. Yang jelas, dialektika ini harus dilanjutkan, urgen! Setidaknya agar jelas siapa subyek dan obyeknya, mana yang menjadi sebab dan mana yang merupakan akibat, dalam kasus sakit Difteri ini.

Apakah Salah itu?

Kesalahan harus dibuktikan dahulu, sedang kebenaran boleh diprasangkakan. Ini bukanlah sebuah pernyataan lazim didengar. Mungkin lebih familiar dengan pernyataan “praduga tak bersalah”, meski sebenarnya esensi dari dua pernyataan itu identik. Implikasi praktisnya adalah bila seseorang atau sesuatu “diduga” melakukan kesalahan, ia tak boleh dihukum sebelum diadili dan terbukti dengan sangat meyakinkan bahwa ia memang berbuat salah. Sekali lagi, pada hal yang berkaitan dengan “kesalahan”, yang boleh dihukum adalah perbuatannya, sedang kehendak atau niat berbuat, belum boleh dihukum baik fisik maupun immateriil.

Ini tidak berlaku untuk kebenaran. Seseorang sudah boleh diberi penghargaan atau apresiasi bila ia melakukan tindakan yang diduga benar. Andai itu masih keinginan untuk berbuat benar pun, itu pun juga sudah boleh dihargai. Jadi tidak perlu menunggu dibuktikan dulu bagi sebuah kebenaran untuk diberikan penghargaan.

Sekali lagi, benar dan salah tidak diperlakukan sama. Apa lantas itu kemudian disebut ketidakadilan? Bagi para pemuja materiil, di mana segala hal hanya dipandang kuantitasnya, jelas ini bukan keadilan. Tetapi bagi mereka yang berakal, mereka akan memikirkan dampak setelahnya. Hukuman yang diberikan sebelum kesalahan terbukti, berpotensi melukai atau melanggar hak seorang manusia  bila ternyata tidak terbukti. Sedang penghargaan yang diberikan sebelum kebenaran terbukti, takkan menjatuhkan martabat seseorang, apalagi melukai, andai di kemudian hari kebenaran itu tak terbukti. Itulah alasan kenapa kebenaran dan kesalahan tidak bisa diperlakukan sama.

Kuman (masih) bertanya

Lalu, hai manusia, kenapa jadi aku yang salah? Kuman berteriak. Kapan aku pernah berniat menyakiti manusia? Bukan aku tak mau disalahkan, tetapi “menyalahkan” siapapun harus ada prosesnya, tak boleh tiba-tiba. Setidaknya melalui proses pengadilan, sehingga tak ada hak yang terlanggar. Bila seseorang tanpa dimintai keterangan terlebih dahulu, tak diberi kesempatan untuk membela diri, kemudian tiba-tiba dijatuhi hukuman, itu penyiksaan! Pendzaliman! Hukuman itu ditujukan untuk meluruskan atau mengembalikan ke jalan yang benar, sebatas itu, tak boleh berlebihan.

Kuman pun terus bertanya. Ia sama sekali tak tahu menahu apa itu infeksi Difteri, walau ia bernama Difteri. Bahkan sebenarnya kuman itu juga tak tahu kalau ia bernama Difteri. Karena kuman memang tak punya akal. Dan juga, ia tak butuh nama, apalagi nama baik yang harus dijaga mati-matian. Ia hanya mendapat tugas hidup di dunia, tanpa pernah tahu untuk apa hidup. Ia tak pernah bertanya pada penciptanya. Lagi pula, ia juga tak punya akal, jadi wajar saja tak punya kuriositas (rasa ingin tahu). Dan tugas bertahan hidup di dunia, jelas bukan hal mudah, meski tampak sesederhana itu. Kuman bukanlah manusia yang bisa mencipta tempat berlindung. Kuman hanya bisa berpindah-pindah tempat untuk menemukan tempat yang pas. Ia tak akan bisa bertahan lama bila berdiam di alam. Ia butuh kehangatan tubuh manusia untuk bertahan hidup!

Jelas sudah! Kuman itu tak pernah berniat untuk melukai manusia, apalagi membunuhnya. Jangankan niat, pikiran untuk melukai saja tidak ada, karena memang tak punya akal. Kuman itu hanya menjalankan perintah alam, bahwa ia “hanya” harus bertahan hidup. Dan yang terjadi kemudian ia meloncat dari satu tubuh ke tubuh lain. Ia sebenarnya ingin bersemayam pada satu tempat, dan tak repot berpindah-pindah. Tapi apa daya, setiap di satu tubuh, di mana tubuh itu kemudian bereaksi memunculkan kondisi sakit, selalu saja si pemilik tubuh itu kemudian marah dan mendakwa si kumanlah penyebab sakitnya. Padahal si kuman sama sekali tidak paham apa itu sakit.

Si kuman itu hanya pernah mendengar bahwa suatu ketika, bumi akan dipimpin oleh sosok yang mengayomi, melindungi siapa saja. Terutama pihak-pihak yang lemah dan juga tidak beruntung. Dan sosok itu berasal dari jenis manusia. Dan kuman itu merasa ia adalah makhluk lemah yang hidupnya saja bergantung pada makhluk bumi yang lain. Tetapi hari ini, si kuman mulai bimbang, benarkah dari jenis manusia yang memimpin bumi?

Lalu, kenapa ia belum bertemu satu manusia pun yang menyapanya lembut tatkala pertama kali bertemu? Kenapa semua manusia, terutama hari-hari ini hampir selalu menyalahkannya ketika terjadi sakit? Kalau memang ia manusia pemimpin, bukan pihak lain yang dipersalahkan, tetapi yang pertama dan utama disalahkan adalah dirinya sendiri!

Kuman itu pun bergumam..baiklah wahai manusia, kalau engkau masih saja belum memahami dirimu sendiri, setidaknya janganlah terburu-buru membenciku tatkala aku mampir ke tubuhmu. Ketahuilah, itu sama sekali bukan mauku, karena aku tak punya akal dan tak pernah punya kehendak, karena aku makhluk lemah. Aku datang kepadamu karena diperjalankan oleh-Nya kepada sosok yang diharapkan memberi rasa aman bagiku. Aku hanya berusaha sebaik mungkin memenuhi janji.  Janji untuk tetap menjadi rakyat yang patuh pada hukum alam. Jadi, berhentilah menyalahkanku walau andai itu hanya sementara waktu. Dan…daripada engkau menghabiskan waktu menyusun daftar kesalahanku, kenapa tidak kau sapa lembut saja aku? Dan siapa tahu kita jadi berteman…dan dunia akan lebih indah tanpa kebencian…

Kuman itu pun akhirnya tetap melanjutkan perjalanan hidupnya, sambil berdendang menghibur dirinya..

Oo..rasa cinta

Bersabarlah menantinya,

Walau tak ku punya

Tapi ku percaya cinta itu indah…

 

 

UGD RSSA, 18 -1-18, 18.18 wib

Christyaji

 

 

 

 

 

 

LEAVE A REPLY