Bermain dengan kehidupan. Setiap manusia terkadang mengalami banyak jebakan. Dari semua jebakan yang ada, terkadang manusia hanya membutuhkan sedikit waktu untuk lepas. Namun, tidak jarang pula manusia itu hanya berputar-putar tanpa ada penyelesaian. Berkenaan dengan hal tersebut manusia memerlukan banyak bagian dari kehidupan untuk mendalami dirinya. Baik yang bersifat duniawi, akhirati atau bagian-bagian lain yang berkaitan. Jelasnya bahwa manusia itu bukan apa-apa tanpa ada unsur yang lain mendukung.

Banyak manusia berpendapat bahwa mereka seringkali terjebak dengan permasalahan ekonomi, agama, pendidikan dan lain sebagainya. Mayoritas manusia beranggapan bahwa ekonomi merupakan bagian utama dari hidup, sehingga mereka tak tanggung-tanggung dalam belajar dan mengejar ekonomi. Ketika ilmu ekonomi sudah di dalam kepala, kemudian ada hasrat bermain ekonomi, dan ketika telah menikmati hasilnya, tetap saja merasa kurang. Begitu pula perihal agama, ada sebagian besar manusia yang berlomba-lomba belajar agama. Namun ketika telah mencapai titik pandai, mereka lupa untuk mencapai titik bermanfaat. Sehingga yang nampak hanya kesalahan manusia lain, karena agamanya hanya untuk dirinya.

Menyoal tentang pendidikan, semua malu dianggap sebagai manusia bodoh. Sehingga mereka bertekad merantau, merelakan waktu, mengorbankan uang dan terkadang membuang kebahagian masanya. Tapi apa? Yah sebagian mereka tetap kesepaian dengan dirinya, hatinya, pikirannya dan apapun itu yang ada dalam keakuannya. Bukti bahwa sebenarnya manusia masih terjebak dengan kediriannya. Kedirian yang berputar dalam hati dan otaknya. Kedirian yang malah lupa membuat dirinya bertanya “who am I?”.

Hingga apa yang di dapat dari pertanyaan itu, adalah sebuah jawaban yang tak pasti. Sehingga mereka rela merelakan apa saja. Memperdalam keilmuan, mulai dari ilmu Psikologi, Sosiologi, Antropologi dan ilmu-ilmu lain. Demi satu tujuan, mendapatkan jawaban yang jelas atas dahaga siapa sebenarnya dirinya itu.

 

Tersesat dalam Diri

Semakin banyak ilmu yang mempelajari manusia, semakin sering melihat manusia binggung dengan dirinya. Sehingga banyak dari manusia berucap dengan ucapan kosong. Bertingkah dengan tingkah aneh. Berkarya dengan karya tanpa makna. Ya semua itu karena mereka hanya “ingin”. Ingin agar dirinya besar, ingin dirinya terlihat kuat, ingin dirinya nampak sempurna. Sementara mereka sendiri lupa bahwa telah diciptakan dalam bentuk yang sebaik-baiknya.

Tanpa sadar, manusia menjadikan dirinya paling buas, paling brutal, paling hina. Jika dilihat dalam kacamata Psikologi, mereka terindikasi hanya peduli dengan “id” mencari kesenangan belaka, sehingga menggunakan “ego” semaunya, dan melupakan “Superego”. Padahal semakin matang usia, kecenderungan manusia adalah menjadi manusia yang mengutamakan Superego, mengedepankan kebahagiaan orang lain.

Kehinaan, kebrutalan, dan kebuasan manusia mungkin akan hilang dengan menghilangkan diri mereka sendiri. Manusia bukan hanya sekadar makhluk pemenuh nafsu, manusia bukanlah sebuah mesin sederhana, manusia bukan hanya kertas kosong. Tetapi manusia adalah makhluk unik, makhluk yang berbeda di setiap individunya. Mempunyai pemikiran sendiri, mempunyai keinginan sendiri, dan mempunyai kedirian sendiri. Untuk itu, setiap manusia harus sadar dengan dirinya. Sadar dengan manusia lain bahkan dengan lingkungannya. Dengan hilangnya diri yang ego, maka hilang pula “id” yang buta. Semakin sadar dengan Superego.

 

Hilangkan diri dengan sepak bola

Sepak bola adalah permainan sederhana dengan satu bola, dua gawang dan dua tim yang saling bertanding. Dalam permainan ini mayoritas manusia hanya melihat satu bintang terkenal dan hebat. Tapi mereka melupakan bahwa pemain yang hebat terlahir dari kerjasama tim.

Tidak akan muncul pemain yang hebat di dalam tim yang tak bekerja sama dengan baik. Salah satu sebab sebuah tim tidak dapat bekerja baik adalah karena salah satu pemain hanya peduli dengan dirinya. Tim tidak akan memiliki peluang besar untuk menang tanpa adanya kerjasama meskipun dalam tim tersebut ada dua atau tiga pemain hebat.

Kerjasama, tidak akan terjadi apabila kediriannya tetap dibawa. Pada sebuah tim akan ada banyak perbedaan satu sama lain antar pemain maupun pelatih. Namun bila dicermati, perbedaan ini malah menjadikan antar bagian tim saling melengkapi dan saling mengisi.

Sebenarnya dalam sepak bola tidak ada musuh, yang ada adalah teman bermain. Tim lawan adalah teman bermain. Karena dalam sepak bola musuh yang sebenarnya adalah diri sendiri. Apakah diri ini menyerah, pasrah atau berjuang mati-matian untuk memperbesar peluang menang.

Tak lupa, juga diperlukan campur tangan Sang Pembuat Hidup. Sehingga setiap pemain juga menyertai peermainannya dengan do’a, mencoba untuk merayu, mendekati dan memelas layaknya anak-anak. Karena mereka sadar apabila Sang Pembuat Hidup telah berkendak. Maka kehendak itu tidak dapat diganggu gugat.

Banyak kesamaan yang dapat diambil dari sebuah permainan sederhana ini untuk diri manusia. Pertama adalah diri ini bukan apa-apa tanpa yang lain. Kedua bermanfaat bagi yang lain. Ketiga tidak ada musuh yang sebenarnya, yang ada adalah partner hidup. Terakhir adalah kehendak Sang Pencipta.

Jadi Juara

Banyak hal yang dapat dijadikan sebuah cermin untuk menghilangkan diri sendiri, menghilangkan keegoisan. Demi tujuan menjadi manusia yang bermanfaat. Bermanfaat tidak perlu menunggu waktu, tidak menunggu kaya dan tidak menunggu kenyang. Karena dalam menjadi bermanfaat yang diperlukan adalah niat yang tulus dan sadar akan siapa dirinya.

Tidak ada pemain yang hebat dalam sebuah permainan, yang ada adalah pemain yang dapat menghebatkan tim. Ketika tim telah menjelma menjadi tim yang hebat, maka pemain di dalamnya pun akan menjadi hebat. Sama halnya dengan hidup, tidak ada manusia yang hebat. Manusia yang hebat adalah manusia yang dapat menghebatkan manusia lain untuk menjadi hebat. Manusia yang memanusiakan manusia, karena sadar bahwa dirinya adalah manusia.

Penulis : Prisma Susila

SHARE
Previous articleDataran Lantai yang Landai
Next articleMasterpiece

LEAVE A REPLY