Taken by Nadiya F.

Tak lagi jam atau hari,

Ini sudah berjalan bulan,

Meski proses di gua rahim berhitung bulan,

Tetapi kelahiran selalu berhitung detik..

Tak peduli susah atau gembira di dalam goa rahim,

Kelahiran selalu mengkreasi kebahagiaan,

Detik ini, bukan bulan,

Kita bisa memilih..

Berbahagia atau memperpanjang kisah keluh…

 

Tanpa disadari, tamu asing itu telah berusaha berbulan-bulan tanpa mengenal lelah mengetuk pintu tuan rumah. Tak hanya satu tuan rumah, melainkan tuan rumah di seluruh dunia! Hasilnya? Sepertinya tak satupun tuan rumah yang dengan sukarela membiarkan tamu asing itu masuk. Entah apa yang telah merasuki para tuan rumah ini hingga memiliki ketegaan tingkat tinggi membiarkan tamu asing itu kedinginan di luar sana.

 

Penderitaan tamu asing ini tak berhenti di sini. Entah siapa yang memulai, tanpa pernah ia memiliki kesempatan untuk mengenalkan diri, walau itu sekadar nama, tiba-tiba saja ia sudah mendapat label nama secara semena-mena tanpa pernah ada kesepakatan sebelumnya dengan dirinya. Jangankan membuat nota kesepemahaman, lha wong mengetuk pintu saja sampai detik ini tidak ada yang membukakannya!

 

Apakah kemudian nama yang dilabelkannya sekarang itu sesuai dengan akta kelahirannya atau tidak, sama sekali tidak ada yang peduli. Sesungguhnya tamu asing itu jelas tidak peduli dan tidak pusing dengan pelabelan-pelabelan ini. Karena kemungkinan besar, ia memang tak berakal dan tak secerdas makhluk yang bernama manusia. Kalaupun hari ini manusia mendadak kehilangan akal dan kecerdasannya, tamu asing itu juga tidak paham.

 

Entah apa yang telah diperbuat tamu asing di masa lalu, hingga hari ini mendapat perlakuan yang sedemikian mengerikan. Jangankan hidup bersama dalam kedamaian merangkai kasih sayang memahami Kesejatian Cinta, sekadar berkenalan saja tamu asing ini tak jua menemukan cara atau strategi jitu. Bahkan ia semakin dikejar-kejar hingga tidak tahu lagi ke mana ia harus lari. Ia tak memiliki akal, ia tak mengenal ruang dan waktu, ia tak tahu dirinya sendiri, ia tak paham siapa itu manusia dan ia sama sekali tak mengerti alasan apa yang membuatnya dilabeli Kuman, mikroorganisme, virus RNA, Corona, Covid, pembunuh, makhluk ganas, makhluk liar, hingga kemudian dilawan habis-habisan menggunakan seluruh sumber daya!

 

Penderitaannya selesai di sini? Tidak! Setelah mengetuk pintu tak diperkenankan, berkenalan tak diijinkan, dilabeli dengan nama-nama horor, tamu asing ini difitnah dengan semena-mena diceritakan kepada anak cucu manusia (bahkan mungkin hingga yang masih dalam bentuk sperma dan ovum) memiliki karakter yang teramat buruk. Ia dikatakan sangat ganas, sengaja menghalalkan segala cara untuk membunuh manusia, menggunakan strategi licik menghancurkan peradaban yang katanya susah-susah dibangun manusia.

 

Tamu asing ini sama sekali tak mengeluh dengan semua penderitaan yang ditimpakan kepadanya. Tetapi Semesta sepertinya akan sedih dan menangis menyaksikan ini semua. Bagaimana mungkin makhluk berakal bernama manusia ternyata memiliki kesanggupan untuk melakukan itu semua tanpa proses mengenalnya, mengetahuinya, memahaminya terlebih dahulu? Semesta sepertinya tak menyangka manusia sanggup memfitnah, melawan hingga membunuh tamu asing yang tak pernah dikenalnya dengan baik secara membabi buta tanpa melalui proses pengadilan yang fair.

 

Hari ini tamu-tamu asing ini semakin tidak paham, manakah yang lebih kejam antara membunuh dan memfitnah. Tamu asing ini mungkin tahu bahwa ia bisa menyebabkan infeksi, tetapi ia tak pernah memiliki kekuatan dan kemampuan untuk menyebabkan ARDS ataupun SIRS-Sepsis yang jauh lebih mematikan daripada sekadar infeksi!

 

Antara Infeksi, ARDS dan SIRS-Sepsis

Infeksi merupakan peristiwa melekatnya mikroorganisme (virus, bakteri, jamur, yeast, parasit) ke tubuh, yang kemudian menimbulkan respons LOKAL oleh tubuh agar mikroorganisme itu tak berkembang biak dan menghabiskan sumber daya tubuh inangnya, yang menyebabkan tubuh inangnya (manusia) menjadi kekurangan energi hingga tak mampu bergerak sebagaimana biasanya. Tubuh manusia mampu menghasilkan reaksi radang (inflamasi) dalam rangka meminimalisir persebaran mikroorganisme atau kuman ke seluruh tubuh.

 

Reaksi radang yang dihasilkan manusia dalam kondisi normal, biasanya sangat terukur dan spesifik. Semisal lengan kanan yang mengalami infeksi, maka proses radang hanya akan terjadi pada lengan kanan itu saja untuk beberapa hari saja. Proses radang seharusnya akan berhenti ketika kuman berhasil dikalahkan, dan dianggap tak lagi membahayakan tubuh manusia. Tak semua kuman atau mikroorganisme menyebabkan infeksi yang berujung pada reaksi radang. Dalam keadaan normal, di kulit manusia, di dalam saluran cerna, juga mengandung mikroorganisme yang justru membantu manusia untuk melawan kuman-kuman dari luar tubuh yang dianggap membahayakan.

 

Tetapi kuman tetaplah kuman. Mau kuman yang baik, ataupun kuman yang dianggap jahat, memiliki sifat dasar yang sama. Mereka sama-sama akan mati bila terkena obat-obat anti-kuman. Oleh karenanya, perlu ilmu dan kebijaksanaan dari manusia tatkala hendak mengkonsumsi obat anti-kuman, entah itu bernama anti-virus, anti-biotik, anti-jamur, anti-parasit. Konsumsi obat anti-kuman tanpa ilmu dan tanpa kebijaksanaan, berisiko mematikan kuman-kuman baik. Yang lebih fatal lagi menyebabkan efek samping yang buruk pada tubuh manusia, yang mungkin lebih membahayakan dari infeksi itu sendiri.

 

Kembali pada reaksi radang, normalnya reaksi radang hanya terjadi secara lokal, yakni pada tempat terjadinya infeksi, dan berbatas waktu. Tetapi memang tak ada yang sempurna di dunia ini. Akan selalu ada variasi dari sebuah reaksi. Ada yang bereaksi normal, ada yang apatis, ada yang berlebihan.

 

Apatis dan berlebihan, dua-duanya adalah kondisi abnormal. Tubuh yang terlalu apatis, maka ia akan membiarkan kerusakan-kerusakan kecil pelan-pelan terjadi pada dirinya hingga akhirnya menimbulkan kerusakan teramat besar yang tak lagi bisa ditanggulangi. Sedang reaksi tubuh yang berlebihan,  ia menjadi membabi buta dengan seluruh sumber daya yang dipunyai hingga tak mampu membedakan mana kawan dan mana lawan. Dan reaksi membabi buta hampir selalu berakhir pada kehancuran permanen.

 

Itu yang kemudian terjadi pada ARDS (Acute Respiratory Distress Syndrome), yaitu sebuah kerusakan paru mendadak pada seseorang, yang tidak diakibatkan oleh ganasnya kuman, tetapi oleh reaksi berlebihan dari paru-paru orang tersebut. Kuman mungkin hanya mengenai sebagian kecil area di paru kanan, dan seharusnya cukup direspons oleh paru kanan saja. Tetapi pada situasi abnormal, kedua paru ikut merespons secara berlebihan, hingga kemudian serdadu-serdadu tubuh yang seharusnya hanya membunuh kuman, membunuh sel-sel paru tubuh itu sendiri.

 

Sedang bila kemudian yang merespons membabi buta itu seluruh tubuh, maka terjadilah fenomena yang disebut dengan SIRS (Systemic Inflammatory Response Syndrome) dan/atau Sepsis. Pada saat ini kuman mungkin sudah mati atau pergi dari tubuh yang bersangkutan. Tetapi perilaku membabi buta dari tubuh itu terus berlangsung dan berlanjut hingga berujung kehancuran permanen dari tubuh itu, dan pada akhirnya… mati!!

 

Minimal, Sadarlah Bila Tidak Tahu

Manusia lahir dalam keadaan tidak sadar bila tidak tahu (unconsciousness incompetence). Lalu anugerah alam berupa setitik kesadaran membersamai kelahirannya. Anugerah itu bernama curiosity, yaitu sebuah rasa INGIN TAHU, bukan rasa sok tahu. Memang, mungkin ada perbedaan kadar kuriositas (curiosity) pada satu individu dengan lainnya. Bahkan hewan dan juga kuman pun sebenarnya juga memiliki curiosity meski dalam kadar yang teramat kecil. Makhluk-makhluk ini hanya ingin tahu bagaimana ia terhindar dari ancaman, dan bagaimana ia bisa makan, itu saja.

 

Curiosity inilah yang mendorong manusia untuk mengembangkan sebuah metode yang disebut BELAJAR. Tergantung apa yang ingin diketahui, maka sebatas itu manusia akan belajar. Bila manusia hanya ingin tahu bagaimana caranya bertahan hidup di bumi, maka ketika dirinya aman dan bisa makan, ia akan berhenti belajar. Sedang pada manusia yang ingin tahu bagaimana hidup abadi yang tak bisa dicegah oleh kematian sekalipun, mereka akan bekerja keras membanting tulang dan memeras keringat agar bisa terus belajar.

 

Orang-orang macam ini akan bekerja keras agar tetap bisa belajar, bukan belajar keras agar nanti bisa dengan mudah mendapat pekerjaan. Orang-orang ini memahami bahwa kemuliaan hidup didapat bila ia memilih belajar pada luasnya semesta dan sepanjang waktu. Belajar selalu membutuhkan guru, waktu, dan tempat. Semakin banyak dan bervariasi guru, akan semakin banyak pengetahuan yang didapat. Ia tak hanya belajar pada sesama manusia, melainkan bahkan pada kuman yang tak kasat mata sekalipun. Pada kuman, manusia belajar kemurnian perilaku. Kuman tak pernah memiliki tendensi lebih dari yang diberikan kepadanya.

 

Berlomba memberikan yang terbaik pada lainnya, berlomba membantu yang lainnya, itu merupakan sebuah usaha manusia membangun komunikasi dengan manusia atau makhluk lainnya. Untuk apa? Ketika sebuah komunikasi terbangun, maka kesempatan untuk mendapatkan guru baru selalu terbuka.

 

Tetapi bila kemudian kita sibuk membenci virus, bahkan sekadar mengenalnya pun tidak, lalu bagaimana mungkin kita bisa belajar? Bila kita tak belajar, bagaimana mungkin kita bisa kompeten menghadapi kehidupan ini? Padahal kita semua tahu, ujung dari sebuah proses belajar adalah kompetensi yang teramat tinggi tanpa disadari (unconsciousness competence).

 

Lalu kita sibuk menghabiskan detik demi detik, hari demi hari, bulan demi bulan (bahkan tahun demi tahun) menyusun strategi memusnahkan virus itu, tamu asing yang kita tak berusaha mengenalnya dengan baik? Kita lupa, bahwa hari ini ancaman terbesar kemusnahan itu adalah ARDS, SIRS, Sepsis, rangkaian kondisi yang diakibatkan respons berlebihan dari kita hingga tak mengenal lagi mana kawan mana lawan, hingga tak mengenal lagi mana kehidupan mana kematian, tak lagi mampu mengenali mana kebaikan mana kejahatan.

 

Pada akhirnya, hari ini ada 3 hal yang bisa kita lakukan untuk “menyelesaikan” ini semua, yang takkan mampu dicegah oleh siapapun dan apapun, yakni BELAJAR. Belajar dan belajar. Syukur-syukur bila Semesta mengijinkan kita untuk Sinau Bareng lagi.

 

 

IGD RSSA, 26 April 2020, 16.04 WIB

Christyaji I.

SHARE
Previous articleBelajar Menyapa dengan CINTA

LEAVE A REPLY