“Kemuliaan, tentang apa yang ditinggalkan bukan apa yang diterima”

Nyaris tak dapat dibedakan antara ditinggalkan dan ditenggelamkan. Andai saja kesadaran akan makna setiap kata yang hampir runtuh tak bangkit lagi, maka penyesatan makna akan terus berlanjut hingga terjadi kehilangan-kehilangan besar tanpa disadari.

Tenggelam, mewakili sebuah aktivitas pasif yakni sesuatu menjadi berada jauh di bawah permukaan hingga tak kasat mata, baik itu disengaja ataupun tidak. Awalnya mungkin hanya tak lagi kasat di mata raga, tetapi bila ketenggelaman itu terlalu lama di air yang terlalu lama keruh maka ketenggelaman itu jatuh dalam situasi yang tak kasat mata rasa. Musnah, ia menjadi lenyap tak berjejak. Itu berarti berakhir pula rangkaian cerita tentang sebuah bangunan sejarah.

Bila ketenggelaman itu berada pada sebuah perairan, yang ‘kebetulan’ merupakan sebuah jalan yang harus dilewati ketika berhijrah menjadi satu-satunya pilihan, itu berarti peristiwa hijrah takkan pernah terjadi. Karena sejarah yang seharusnya terapung dan bisa digunakan sebagai pijakan untuk bergerak ke depan melalui hamparan perairan ketidakpastian, justru tenggelam tak berguna.

Cukup tinggalkan sejarah tetapi jangan sampai tertenggelamkan, merupakan sebuah saran yang perlu dicermati. Tentu dibutuhkan sebuah kesadaran yang senantiasa terjaga untuk sesekali menoleh ke belakang agar sejarah itu tak tenggelam.

Sekali lagi, ini bukan tentang memberhalakan sejarah ataupun mengagung-agungkan sejarah, tetapi lebih pada menempatkan sejarah pada posisinya, sebagai pijakan melangkah ke depan.

Menjejak Rekam

Sejarah tak ubahnya serangkaian jejak yang terdeteksi. Tentu tak semua jejak terdeteksi untuk kemudian terekam. Hanya jejak-jejak mendalam dan juga jejak yang menyendiri di jalanan sunyi yang biasanya memberi impresi.

Dibutuhkan kekuatan khusus menjejak di jalan yang riuh, agar jejak itu tak lenyap diinjak jejak-jejak yang lain. Bila dirasa kekuatan diri (strength) tak begitu memadai, menjejak di jalan sunyi merupakan sebuah pilihan yang cukup rasional, meski itu sesungguhnya membutuhkan ketahanan (endurance). Jalanan sunyi bisa saja merupakan jalanan baru. Bisa juga itu jalanan yang dulunya riuh dilewati banyak jejak tetapi seiring berputarnya waktu jalanan itu perlahan dicampakkan banyak khalayak hingga akhirnya menjadi sunyi saat ini.

Pada satu titik, perjalanan hidup akan terasa membingungkan. Itu sangat bisa dimaklumi karena hidup berjalan tak linier lurus ke depan di jalan lempang. Hidup seringkali berjalan dengan berputar-putar, terkadang menggelinding dan saat-saat tertentu lurus. Sesadar apapun saat melalui perjalanan itu, potensi mengalami disorientasi atau hilang arah sangat mungkin terjadi. Tiba-tiba saja tegak berdiri, kemudian mata memandang ke segala penjuru, berusaha mencari arah tujuan yang benar.

Maka pada titik inilah sebuah rangkaian jejak yang terekam memberi tuahnya. Jejak setapak demi setapak yang awalnya tampak acak, tiba-tiba saja menjadi sebuah harmoni yang tidak saja tampak elok, tetapi yang lebih penting harmoni itu memberi petunjuk arah mana yang harus ditempuh agar hidup terus berjalan.

Maka, rekaman tapak-tapak itu sekarang telah menjadi pijakan kaki untuk melangkah ke depan.

 

Keagungan Karya Agung

Siapapun bisa meninggalkan jejak yang diakibatkan pergerakannya. Lihat saja apakah itu kambing, kucing, kelinci, kanguru, ketela pohon, kelengkeng, kamu, semuanya mampu meninggalkan jejak tatkala berpindah ruang ataupun waktu.

Tetapi tak semuanya diberi kompetensi apalagi otoritas untuk sekedar mengingat jejak yang dibuatnya. Ironis memang, tetapi begitulah ekosistem berlaku, mengikuti norma-norma alam yang lebih dulu ada.

Tetapi kehidupan dunia memang ditakdirkan untuk tak sempurna. Ketika hampir seluruh makhluk bumi tidak kompeten untuk sekedar mengingat jejaknya, Sang Maha Agung pun akhirnya menciptakan sebuah karya agung atau lebih familiar disebut masterpiece. Salah satu kelebihan dari ciptaanNya ini ialah ia dilengkapi dengan seperangkat hardware sekaligus softwarenya yang berPOTeNSI merekam jejak. Potensi bukan berarti otomatis. Potensi adalah sebuah peluang, yakni hanya akan bermanfaat bila digunakan.

Masterpiece itu dinamakan manusia. Manusia bukanlah sekedar benda yang berbentuk, tetapi lebih dimaknai sebagai sebuah puncak fungsi dari suatu benda. Ia bisa bergerak, mempertukarkan udara, air, panas bahkan unsur hara tanah. Tak cukup itu, ia juga memiliki potensi memandang ke belakang dan juga menerawang ke depan. Jelas, itu adalah rangkaian-rangkaian fungsi yang teramat kompleks. Tetapi manusia mampu mengelolanya berkat seperangkat alat bernama akal.

Menilik dari asal muasalnya, tak heran bila si karya agung ini sedikit-sedikit ‘meniru’ Sang Maestronya Yang Maha indah. Si karya agung alias manusia ini, masing-masingnya sungguh dititipi potensi untuk juga menciptakan masterpiece. Tentu bukan masterpiece sesungguhnya yang bahkan tak ada kelayakan sama sekali untuk dibandingkan dengan masterpiece Sang Maha Agung.

Tetapi masterpiece manusia ini sudah teramat cukup untuk membuat manusia menjadi begitu bersemangat menerjang masa depan kehidupannya.

Bagi seorang seniman, lagu-lagu yang menginspirasi & tak lekang oleh jaman, itu adalah masterpiecenya.
Bagi seorang guru, kerendahan hati murid-muridnya adalah masterpiecenya.
Bagi seorang dokter, kesabaran & kepasrahan pasien-pasiennya, itulah masterpiecenya.
Bagi seorang Pengusaha, kedermawanan & kekonsistenan yang berbuah kesejahteraan buruhnya, itu adalah masterpiecenya.

Bagi seorang perokok, terjaganya kepedulian yang berbuah pada berputarnya roda ekonomi buruh rokok adalah masterpiecenya (maka ia tak akan mundur membeli rokok meski seharga 50 ribu sekalipun).

Bahkan bagi orang-orang yang tak pernah jelas nasib hidupnya, tetapi ia memilih untuk tetap lapar daripada ikut-ikutan merampok, maka keistiqomahan untuk tetap jujur pada dirinya sendiri yang berbuah ketentraman hidup orang-orang kaya, maka itulah sesungguhnya masterpiecenya, karya agungnya.

Ada sedikit tetapi…tak semua mereka yang mengaku manusia memahami apa itu masterpiece sejati. Maka, sedikit mengalahlah untuk kemudian mengambil pena dan secarik kertas untuk kemudian pelan-pelan menuangkan rekaman-rekaman akal di atas kertas itu. Meski kemudian kertas itu tiba-tiba saja yang dianggap sebagai masterpiece.

Sekali lagi, bukan untuk melestarikan agar dikenang oleh anak cucu, tetapi yang utama adalah berbagi kearifan pada mereka-mereka yang sedang berjuang memaknai hidup yang ‘terlanjur’ disandangnya.

Akhirnya, personalitas diri, karakter sejati diri, tatkala berhasil menerobos tumpah keluar dari diri, ia pelan-pelan akan menjadi sebuah masterpiece, bila tak terserak.

Penulis : Christyaji Indradmojo

SHARE
Previous articleManusia Hebat
Next articlePohon Harapan

LEAVE A REPLY