Riset (Inggris : research) atau biasa disebut sebagai penelitian berakar dari bahasa sederhana yakni meneliti. Jika meneliti ditarik menjadi kata dasar maka kita akan menemukan kata tunggal yakni teliti. Kamus Besar Bahasa Indonesia mendeskripsikan bahwa teliti berarti cermat/saksama dan meneliti adalah memeriksa atau melakukan suatu penyelidikan.

Meneliti adalah pekerjaan orang yang ingin tahu. Ada keinginan untuk mencari sebuah pembenaran dari anggapan, hipotesis, asumsi atau perkiraan. Segala sesuatu yang masih menjadi hipotesis ataupun asumsi personal harus dibuktikan keabsahannya agar kebenaran yang ditemukan dapat diterima secara masal, diterima secara umum sebagai sumbangsih terhadap ilmu pengetahuan.  Sains menyebut proses pembenaran ini sebagai eksperimen atau riset, praktisi menyebutnya sebagai proses validasi.

Di dunia yang penuh dengan asumsi ini, banyak yang beranggapan bahwasanya tugas penelitian hanya disandang oleh kaum akedemis. Sementara di dunia akademis masih banyak para insan akademisi yang belum melek tentang penelitian itu sendiri. Lalu sebenarnya bagaimanakah posisi penelitian dalam kehidupan?

Kembali ke hakekat penelitian. Penelitian memiliki tujuan untuk menemukan suatu fakta dengan cara-cara ilmiah. Cara ilmiah yang dimaksud adalah untuk meneliti itu ada metode/prosedur/sistem atau lebih enak disebut ada ilmunya.

Dewasa ini penelitian dianggap sebagai sesuatu yang rumit, seakan-akan menjadi suatu keharusan bahwa penelitian itu harus dilaporkan dengan berlembar-lembar kata intelektual. Seakan suatu kewajibanan bahwa penelitian itu harus tembus jurnal Internasional.

Jika mengacu pada sistem akademis, memang benar adanya bahwa penelitian itu harus dilaporkan sebagai bentuk tanggung jawab akademisi yang peduli sebagai sumbangsih terhadap bidang penelitian yang dikaji ke depannya. Laporan tersebut tervalidasi oleh sistem akademis karena dipertanggung jawabkan di depan dewan penguji selama persidangan. Dan jika mampu menembus jurnal Internasional itu lebih tentang bonus atas pencapaian publikasi dan reputasi peneliti yang telah diakui secara multinasional.

Larry Page dan Sergey Brin (Google) adalah contoh konkret dari akademisi yang popular. Mereka berdua merupakan lulusan Universitas bergelar master yang untuk memperoleh titel tersebut ada syarat akademis. Lalu bagaimana dengan orang-orang yang tak berlabel akademis namun berpengaruh terhadap tatanan dunia?

Di luar hingar bingar kehidupan akademisi yang selalu dikerubuti oleh hal-hal ilmiah. Di sana juga banyak yang telah melakukan suatu penyelidikan. Di dunia IT kita mengenal seorang Steve Jobs. Steve Jobs dan timnya sudah banyak melakukan riset yang terbukti berhasil meski tidak pernah dipublikasikan melalui jurnal Internasional. Tapi hasil temuan perusahaannya diimplementasikan pada produk dan proven diterima masyarakat. Meski tidak berlabel akademis, pernyataan Steve diakui sebagai kebenaran karena sudah tervalidasi. Hingga ia mendapat pengakuan dan reputasi sebagai super class innovator bersama para teknokrat lain seperti Bill Gates (Microsoft), Mark Zuckerberg (facebook) yang tidak menyandang gelar akademis namun diakui strategi marketnya. Para inovator tersebut berhasil menghadirkan produk unggulan yang bersifat painkiller (produk yang benar-benar dibutuhkan), bukan hanya vitamin.

Riset itu sebenarnya sederhana. Hanya saja setiap manusia yang tidak medalami melihatnya sebagai sesuatu yang rumit. Bahkan peradaban kita di masa lalu sudah mencapai pada titik gemar meneliti (poso = ngeposno roso sebagai niat mencari kebenaran). Menjalani penyelidikan dengan media bertapa dan menyendiri (takhali, takhali, tajjali). Contoh kecil lain dari peradaban sejarah masa lalu adalah ilmu falak (astronomi, weton, perhitungan hari buruk hari baik dsb), ilmu arsitektur (Borobudur, Prambanan dll) dan masih banyak yang lain.

Ilmu-ilmu tersebut layak dan pantas disebut sebagai bagian dari riset panjang peradaban nenek moyang. Meski hanya disampaikan bermedia cerita (crito = diicrit-icrit pokok roto) dari satu generasi ke generasi lain, tidak pernah ada jurnal ilmiahnya, namun nenek moyang tersebut memiliki metode dalam proses pencarian kebenaran. Tidak pernah disidangkan ataupun diseminarkan namun mendapatkan pengakuan hingga kini. Bahkan beberapa telah diuji secara ilmiah melalui tahapan keilmuan modern hasilnya berkesinambungan dan tidak bertentangan.

Secara tidak langsung, akhir dari artikel ini sejatinya ingin menyampaikan bahwa meneliti memiliki kemerdekaan sendiri. Penelitian tidak dimiliki oleh kaum akademisi saja, melainkan tugas meneliti ini adalah tugas seluruh manusia. Karena pada dasarnya setiap manusia tengah berproses untuk mendalami perjalanannya sebagai wujud pencarian tentang kebenaran yang sejati. “Robbana ma kholaqta hadza bathila”. Ya Tuhan kami, sungguh tidak ada yang sia-sia apa yang Engkau ciptakan. Untuk mencapai pemahaman bahwa tidak ada yang sia-sia, maka hal tersebut harus dibuktikan secara logis dan empiris. Maka ayat apapun dalam al-Quran sesungguhnya adalah dorongan untuk manusia agar melakukan penelitian. Agar menjadi manusia yang rahmatan lil ‘alamin.

Manusia sejatinya diberikan potensi yang luar biasa.  Hanya saja tak banyak yang menyadari. Dengan segala potensi itu. Sangat sayang jika hidup hanya bertujuan untuk dirimu sendiri, untuk memperkaya diri sendiri. Sayang sungguh sayang jika bahagia itu hanya bahagiamu sendiri.

Sama halnya dengan tujuan penelitian, sayang banget jika penelitian dihentikan gara-gara sudah memenangkan lomba, sudah LPJ selepas dapat dana, apalagi jika tujuan penelitian hanya mencari dana hibah. Ah, tujuan riset seharusnya tidak sekecil itu kawan.

Penulis : Ifa Alif

LEAVE A REPLY