“Tetap saja berharaplah langit terbelah, atau

Mulailah membelah bumi

Meski itu harus menggunakan tangan halusmu

Demi agar biji itu menemukan celah untuk tumbuh…”

 

Badai itu tak jua menampakkan tanda-tanda mereda. Hembusan-hembusan kecil dari angin-angin yang tak jelas asalnya, bukannya menghalau badai itu, tetapi justru memperbesar turbulensi. Anak-anak manusia yang semula tegar menghadapi badai, lambat laun mulai kehilangan ketahanannya. Bukan karena mengganasnya badai yang membuat ketahanannya turun, tetapi sesungguhnya karena anak-anak itu mulai kehilangan kepercayaan diri hingga berujung lenyapnya kesabaran yang sejurus kemudian diikuti gerakan-gerakan agresif  tanpa perhitungan matang.

Lalu apa yang akan terjadi dengan agresifitas macam itu? Itu sama saja membuka pertahanan dirinya sendiri hingga kemudian kehilangan daya filtrasi. Bukannya semakin terasah keyakinan bahwa sekecil apapun yang muncul dari dirinya ‘pasti’ akan mempengaruhi dunia, yang terjadi justru sebaliknya, hal teramat kecil pun dari lingkungan luar dirinya, menjadi sanggup mengubah dirinya.

Badai Kepastian

Manakah yang dikejar kebanyakan kita manusia antara kepastian dan ketidakpastian? Hampir pasti jawabannya adalah kepastian. Kenapa begitu? Karena kepastian selalu “tampak” lebih mudah dijalani dan menjanjikan untuk masa depan daripada ketidakpastian. Tetapi apa yang kemudian terjadi manakala kepastian-kepastian itu digenggamnya?

Awalnya tampak gembira, tetapi kemudian kepastian-kepastian itu berjalan monoton dari hari ke hari. Hingga tanpa disadari anak-anak manusia itu mulai berulah menerjang ketidakpastian-ketidakpastian. Karena nuraninya mengatakan bahwasannya ketidakpastian lebih bisa menawarkan keindahan daripada kepastian.

Maka berhentilah heran atau nggumun menyaksikan tingkah polah anak manusia jaman now. Kita manusia sangat rajin membuat kepastian-kepastian alias aturan-aturan hukum yang mengikat. Tetapi seiring dengan itu kita juga sangat rajin melanggarnya. Semakin menunjukkan bahwa sesungguhnya tak ada manusia yang suka dengan kepastian, karena kepastian tak pernah memberi tantangan yang cukup untuk merancang keindahan hidup.

Bahkan ketika manusia ditawari kepastian yang sejati bernama kematian, mereka malah akan berlomba-lomba menjauhinya, seolah-olah mampu menghindarinya. Entah apa yang sebenarnya mendorong manusia untuk cepat-cepat mendapat kepastian, padahal di sisi lain mereka juga tahu bahwa perjalanan hidup juga tak mengasyikkan bila terlalu cepat sampai titik akhir. Orang-orang tua ingin anaknya cepat besar, yang sekolah ingin cepat lulus, yang lulus ingin cepat kerja, yang kerja ingin cepat kaya, yang kaya ingin cepat terkenal, hingga kemudian tersadar tak ada lagi yang dikejarnya selain kematian di hadapannya. Pada titik ini, ternyata tak ada manusia yang ingin cepat-cepat mati!

Bila sudah tahu bagaimana perjalanan hidup berujung, lalu kenapa tidak dinikmati saja perjalanan hidup ini? Bila sudah tahu bahwa ujung kehidupan adalah kepastian berupa kematian, kenapa ingin cepat-cepat merasakan kepastian relatif dalam perjalanan hidup? Kenapa tak dinikmati saja ketidakpastian-ketidakpastian yang tersaji di depan mata saat ini? Ketidakpastian nasib, ketidakpastian jodoh, ketidakpastian karier dan ketidakpastian-ketidakpastian lainnya, sungguh itu ada tidak untuk menyiksa hidupmu, melainkan agar kau menyadari bahwa hidup itu banyak warna yang memancarkan keindahan. Bukankah keindahan Sejati yang kau inginkan?

Kalau saja hari ini kau masih saja mengejar kepastian-kepastian tanpa alasan jelas, itu sama saja menabung angin-angin kecil yang pada satu titik tertentu perjalanan hidupmu justru akan menjadi badai yang merobohkan hidupmu, alih-alih memberi hembusan semilir yang menyejukkan.

Mengendalikan Waktu

Jelas itu tampak sesuatu yang absurd! Bagaimana mungkin kita mengendalikan waktu? Yang ada selama ini adalah kita dikendalikan waktu! Tetapi tunggu dulu, bukankah kita pernah merasakan sore hari menjelang berbuka puasa mendadak terasa teramat lama menuju bedug maghrib berbunyi? Pertanyaannya adalah, apakah saat itu waktu “terasa” lambat ataukah waktu benar-benar melambat?

Ketika kita berada dalam suatu perjalanan panjang dengan seseorang yang kita kasihi, yang terjadi justru sebaliknya, waktu terasa berputar begitu cepatnya. Bahkan seandainya dalam perjalanan itu dihadang hujan deras yang berlangsung lama, tetap saja perjalanan itu nampak singkat dan basah hujan tak dirasa. Sekali lagi, pertanyaannya adalah, apakah waktu “terasa” cepat ataukah benar-benar berputar cepat?

Awalnya dulu, melambat atau mencepatnya waktu, itu hanyalah ‘rasa’ atau sugesti. Tetapi seiring kemampuan manusia berpikir dan mencipta teknologi, mulailah terkuak bahwa sebenarnya ‘waktu’ saat itu memang benar-benar melambat atau mencepat. Sedikit penjelasan yang pernah disampaikan di Forum PadhangmBulan beberapa tahun silam, bahwa jalur waktu berbeda dengan jalur ruang. Bila jalur ruang cenderung berbentuk linier atau garis lurus, jalur waktu berbentuk kurva melengkung. Hingga kemudian lengkungan kurva itu memberi peluang untuk kita mem-bypass jalur waktu itu sehingga bisa tiba di titik tujuan lebih cepat. Jalur bypass itu dikenal dengan wormhole atau lobang cacing.

Sebagaimana jalur-jalur bypass lainnya semacam jalan tol yang membutuhkan e-toll dengan segala keribetannya, wormhole ini tampak menjanjikan dan menarik minat siapapun untuk melewatinya. Karena ya itu tadi, hampir semua orang terjebak ingin cepat-cepat mencapai kepastian hidup. Tetapi tatkala dipertemukan dengan kepastian absolut bernama kematian, mendadak semuanya semburat menghindar. Ah manusia! Eh..ah kita!

Kembali ke bypass. Benarkah jalan tol memberikan apa yang manusia inginkan? Sekilas tampaknya iya, mengingat semua manusia selalu ingin cepat-cepat (kecuali manusia di atas manusia yang mengerti makna hidup). Ini masih masuk akal. Tetapi kemudian akalnya mulai tidak masuk tatkala menyoal modalitas yang diperlukan untuk mencapai ketercepatan itu. Sadarkah kita, untuk melalui jalan tol kita ‘harus’ menumpang kendaraan minimal beroda 4. Jalan tol tak bisa dilalui roda 3, 2, 1. Apalagi jalan kaki tanpa mesin. Lalu di mana letak enak dan keindahannya?

Pun ketika kita menyoal berjalan melalui wormhole, maka permasalahannya relatif sama. Wormhole menawarkan kecepatan, tetapi seiring dengan itu juga memberi tekanan yang luar biasa. Gampangnya adalah, ketika tubuh anda melalui wormhole, maka akan melesat teramat cepat. Hingga kemudian saat berangkat di mana posisi kepala di atas kaki di bawah, saking cepatnya, saat sampai tujuan kemungkinan terjadi sebaliknya, yakni kepala di bawah dan kaki di atas. Itu terjadi karena adanya perbedaan massa antara kepala dan kaki yang mempengaruhi percepatan saat perjalanan.

Masih lumayan seandainya terbaliknya kepala-kaki itu hanyalah peristiwa terjungkir balik. Tapi menjadi masalah teramat besar bila kepala-kaki benar-benar bertukar posisi, sebagaimana yang banyak disaksikan hari ini, kita hampir tak bisa lagi membedakan mana mulut mana dubur. Kedua-duanya mengeluarkan bau busuk, hingga bertebaran tak terkontrol menimbulkan huru hara dan permusuhan horisontal, alih-alih mencipta kedamaian!

Bingung tentang wormhole? Ya sudah jangan dibaca dan dipelajari, gitu aja kok repot.

Setidaknya detik ini ada sedikit jawaban tentang waktu. Bahwa sesungguhnya kita manusia memiliki potensi mengendalikan waktu, tidak sepenuhnya melulu dikendalikan oleh waktu. Ketersekejapan atau revolusi tak bisa dicapai dengan harga murah, maka lumpuhkan saja ketersekejapan itu mulai sekarang.

Sudah itu saja yang perlu kita sadari dan pahami.

Maka berhentilah berharap waktu yang akan menyelesaikan masalah hidupmu..

Berhentilah berharap langit membelah mengucurkan wangsit yang menyelesaikan masalah hidupmu..

Mulailah menggunakan tangan halusmu menggaruk dan membelah bumi, menumbuhkan permata yang ada di dalam dirimu..

Pahamilah, kita masih bertahan hidup hingga detik ini karena otak kita masih bekerja..

Dan otak kita masih bisa bekerja karena konstan mendapat makanan..

Dan makanan terbaik otak adalah masalah hidupmu sehari-hari. Semakin berat masalahnya, maka akan semakin sehat otaknya..

Jadi…

Marilah menari lincah di bawah badai masalah hidupmu, dan biarkanlah dirimu tumbuh, berkembang, berbuah, dan berbiji memberi manfaat dan keindahan pada ruang hidupmu.

 

 

UGD RSSA, 6-3-2018, 06.03.18 wib

Christyaji

 

 

 “Banyak orang mengharapkan suatu kejadian besar, suatu ‘wangsit’ atau apalah, semacam ‘Big Bang’ yang mengubah hidup dalam sekejap. Dan banyak juga orang yang menganggap kesuksesan orang lain berasal dari momen-momen ‘besar’ ini (padahal tidak)..”

LEAVE A REPLY