Mem-Prima-Kan Diri; Bercumbu dengan Yang Sejati

Mem-Prima-Kan Diri; Bercumbu dengan Yang Sejati

0
697
You are so brave and quiet I forget you are suffering

Tak bosan-bosan kembali diri ini bermain ke kerajaan matematika. Ada sosok yang mencuri perhatianku kala itu. Sebut saja dia bilangan prima. Bilangan prima yang selama ini dikenal hanya mempunyai dua faktor, satu dan dirinya sendiri. Jika diusut lebih jauh, pasukan bilangan prima ini tak akan ada habisnya. Terus saja ada, sampai tak terhingga. Lihat saja. Mulai dari 2, 3, 5, 7, dan seterusnya. Akan selalu ada bilangan-bilangan prima yang lainnya setelah bilangan prima yang paling besar –menurut kita- sekalipun. Dan semua bilangan prima itu ganjil, kecuali bilangan 2 (dua). Hal ini bisa dipastikan dan tak diragukan lagi. Karena jika bilangan itu genap, maka dia tak lagi menjadi prima. Karena akan ada bilangan lain selain satu dan dirinya sendiri.

 

Hanya dan Selalu Bersama Yang Satu

Bilangan prima begitu istimewa bagiku. Dia telah berhasil membuatku sangat cemburu. Lihatlah bagaimana dia sangat bermesraan dengan yang satu. Tak dibiarkannya yang lain datang mengganggu. Hanya ada dirinya dan “Yang Satu” yang ada dalam benaknya. Bilangan prima mengajarkan bagaimana dia benar-benar sangat total dalam meneguhkan tauhidnya. Benar-benar menomorsatukan “Yang Satu.” Menuhankan Tuhan yang sejati. Tak ada setitik celah pun untuk menuhankan yang selain-Nya.

Bilangan prima yang terus ada sampai tak hingga seolah berkata bahwa kualitas iman seseorang itu berbeda-beda dan sangat memungkinkan untuk terus ditingkatkan. Mulai dari bilangan prima terkecil, yang dalam hal ini adalah bilangan dua. Terus bergerak, meningkat hingga di suatu titik di mana belum ada yang mampu mendefinisikannya secara pasti. Sehingga kata “tak hingga” dipilih untuk menggambarkan keadaan bilangan prima tersebut yang terus saja ada yang melebihinya.

Tentu untuk menuju tak hingga, tidak bisa langsung tiba-tiba saja menuju ke sana. Ada tingkatan-tingkatannya. Dimulai dari yang terkecil, terus bergerak naik ke bilangan yang lebih besar, lebih besar lagi, dan begitu seterusnya.

Meskipun semua bilangan prima adalah bilangan ganjil, tapi ternyata bilangan prima juga diawali dari bilangan genap. Ya, bilangan prima yang paling kecil adalah dua, yang tidak lain juga merupakan bilangan genap. Artinya, bahkan untuk menjadi yang ganjil, untuk menjadi yang istimewa, untuk meningkatkan kualitas primanya pun dimulai dari yang genap, yang bisa dikatakan masih belum istimewa, karena masih berpeluang untuk berpaling pada yang selain-Nya.

Seolah mereka ingin bercerita, jika sekarang kita masih belum bisa senantiasa menghadirkan-Nya dalam hati dan pikiran, tidak usah berkecil hati. Apalagi sampai putus asa dari usaha untuk terus mendekat pada “Yang Sejati.” Untuk terus belajar menomor satukan “Yang Satu.” Tak peduli kondisi kita saat ini, yang penting asal ada niat yang kuat untuk terus mendekat, suatu saat akan sampai juga. Bukankah sudah berulang kali Dia mengingatkan. Jika kita datang pada-Nya dengan berjalan, Dia pun akan menemui kita dengan berlari. Tak bosan-bosan Dia juga selalu meyakinkan bahwa Dia selalu bersama kita, selalu di dekat kita, bahkan lebih dekat dari urat nadi. Sayangnya, terkadang kita sendiri yang lena dan menutup mata hingga belum menyadari keberadaan-Nya.

 

Berpijak pada Yang Sejati

Alangkah indahnya jika kita benar-benar mau menjalani hidup kita layaknya bilangan prima  dengan sepenuh hati. Senantiasa sadar untuk benar-benar ber-Tuhan. Kesadaran akan ber-Tuhan membantu kita untuk lebih memahami sangkan paran. Asal muasal dan kemana muara pelabuhan kita nantinya. Bahwa kita hanyalah sosok manusia yang berasal dari tiada, kemudian diadakan, dan pada akhirnya akan kembali tiada. Bahwa kita hanyalah sosok lemah yang kemudian dipinjami secuil kekuatan Yang Maha Kuat untuk menjalankan tugas-tugas kita sebagai manusia. Bahwa kita tak mampu melakukan apapun kecuali atas izin dan kuasa-Nya. Karenanya, bilangan prima mengajarkan kita bagaimana untuk terus bergantung hanya kepada-Nya. Masihkah ada senoktah keberanian untuk menyombongkan diri, jika kenyataannya kita memanglah tak berdaya. Bahkan untuk mengatur rasa pun kita tak kuasa tanpa seizin-Nya. Untuk sekedar bernapas dan mengatur seluruh sistem yang ada dalam tubuh pun kita tak mampu.

Selain itu, kesadaran akan ber-Tuhan juga akan sangat membantu untuk mengontrol setiap tindak tanduk. Selalu merasa ada yang mengawasi, hingga diripun akan lebih berhati-hati. Teramat takut untuk melukai hati-Nya. Mengundang murka-Nya. Yang ada, hanya berlomba-lomba untuk berburu cinta kasih-Nya. Terus bergerak untuk menggapai rahman rahim-Nya. Dan semakin ingin bermesraan dengan-Nya. Meningkatkan kualitas ‘prima’ kita.

Kendatipun kita hanyalah makhluk lemah yang papa, tapi dengan selalu sadar dan meyakini keberadaan-Nya yang teramat intim dengan kita, seolah itu sudah lebih dari cukup untuk menjadi kekuatan yang sangat luar biasa. Tak gentar meski dalam gelap sendirian. Tak takut untuk berjuang dalam medan yang tak ringan. Tak khawatir akan segala ketidakpastian. Karena bersama-Nya, segala niat baik akan selalu diberikan pertolongan. Karena hanya dengan memasrahkan semua kepada-Nya, akan selalu ada kemudahan dalam setiap kesulitan yang disuguhkan. Hanya dengan sadar selalu bersama-Nya, hati akan menjadi semakin tenang.

 

Misteri Sosok Prima

Entah apalagi yang masih disembunyikan oleh bilangan prima. Sampai-sampai, para ilmuwan pun percaya bahwa bilangan prima merupakan bahasa universal yang dapat dimengerti oleh semua makhluk yang berintelegensia tinggi. Sebagai komunikasi dasar antar mereka. Bahasa ini penuh misteri karena berhubungan dengan perencanaan universal kosmos.

Sampai detik ini, diri ini pun masih belum mengerti misteri apa yang masih disembunyikan oleh sosok prima. Selain agar lebih mendalami sosok prima dalam arti yang sebenarnya, mungkin itu juga menjadi salah satu pemantik kita untuk terus berusaha mem-prima-kan diri. Hingga selalu terhubung dengan “Satu Yang Sejati.” Dan biarkan “Yang Sejati” sendirilah yang akan membukakan tabir atas rahasia-rahasia-Nya kepada kita nanti. Sebagai jawaban atas proses demi proses yang telah dilewati.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY