Nrimo tak mupus

Bukan hari yang biasa malam itu meski sejatinya ini bukanlah kisah tentang malam hari. Sore itu seolah kemacetan mengajak bercengkerama mesra hingga enggan untuk ditinggalkan. Dibutuhkan usaha dan sentuhan halus agar kemacetan sudi melepas tanpa ada pihak yang terluka.

Kemacetan di sore itu tidak separah biasanya, tetapi sudah cukup membuat hati ini waswas kalau-kalau tak bisa sampai tujuan sesuai waktunya. Pesan Simbah bahwa keutamaan terletak pada kesetiaan pada proses perjalanan, alih-alih keinginan segera mencapai tempat tujuan, tiba-tiba muncul di dalam benak yang cukup untuk membangun kesadaran baru.

Keinginan untuk segera terlepas dari cengkeraman kemacetan melawan kenyataan bahwa kemacetan bisa saja ngambeg yang justru menghentikan segala perjalanan, telah sukses memunculkan keresahan hati sore menjelang malam itu. Ketaksengajaan mata yang sekilas memandang kilatan jarum jam di tangan semakin memperdalam keresahan itu. Keresahan hati yang terjadi karena adanya pertentangan antara keinginan dan kenyataan, perlahan-lahan berbalik arah menjadi sebuah keasyikan hati manakala mengingat pesan itu.

Mencari keasyikan hati inipun bukan urusan mudah, sebenarnya. Ini bukan sekadar mupus ataupun berkompromi dengan keadaan yang tak mungkin dikalahkan saat itu. Ini bukan perilaku yang ‘seolah-olah’ nrimo, tetapi pada sebenar-benarnya nrimo, tanpa ada ganjalan hati.

Bila Anda lega bersyukur karena alasan, akhirnya bisa terlepas dari kemacetan, bisa jadi itu perilaku mupus, artinya Anda sebenarnya tidak menyukai kemacetan tetapi tak ada yang bisa dilakukan selain menikmati kemacetan. Tetapi bila Anda akhirnya tersenyum bisa menikmati kemacetan, dan justru berharap pada lubuk hati terdalam supaya kemacetan tak segera berakhir, bisa jadi itu adalah perilaku nrimo yang muncul dari sebenar-benarnya keasyikan hati.

Bertanyalah pada dua sejoli yang sedang merajut cinta tatkala terjebak pada kemacetan. Mereka pasti akan memilih agar kemacetan tidak segera berlalu. Pun ketika peristiwa kemacetan itu mampu membunuh kesadaran tentang kenyataan saat ini, dan membawa otak berimajinasi mengingat perjuangan Kekasih Tuhan saat melewati masa-masa sulitnya, maka itupun akan memunculkan keinginan agar kemacetan tak segera berlalu.

Pasangan itu beriring

Sekali lagi, kemacetan itu telah memberi pelajaran bahwa sesungguhnya kebahagiaan tak datang setelah kesengsaraan, melainkan kebahagiaan itu datang bersama-sama kesengsaraan. Karena sesungguhnya mereka adalah pasangan sehidup semati di dunia. Dimana anda bertemu sosok sengsara, maka di sekitarnya pasti ada sosok bahagia. Pun ketika sang Macet memunculkan diri, dapat dipastikan bahwa ia datang didampingi sang Lancar. Tinggal bagaimana matamu memandang, apakah engkau hanya mengandalkan mata fisik yang terkadang berteman kacamata, ataukah engkau mensinkronisasikan mata fisik dengan mata akal dan mata hati untuk memandang sebuah kenyataan yang tampak tak menyenangkan.

 

Keasyikan berproses di perjalanan itu akhirnya berakhir sementara, berganti kebahagiaan lain tatkala tujuan yang diinginkan tercapai. Terbayang di dalam benak indahnya kebersamaan. Hingga beberapa detik kemudian kondisi tak biasa mendadak eksis (muncul). Ternyata perjalanan panjang itu hanya mengantar sampai tempat tujuan, belum sampai pada apa atau siapa yang dituju! Lagi-lagi ingatan ini terperangkap pada masa lalu.

Lumpuh tersesatnya Persepsi

Pengalaman masa lalu mengatakan bahwa ‘nyaris’ tak ada beda antara tempat tujuan dengan apa/siapa yang dituju, hingga peristiwa ini baru saja memberitahu bahwa kehidupan selama ini yang tampak berkelap-kelip ternyata terlewati dalam ketidaksadaran. Bahasa awamnya unconsciousness incompetence atau tidak sadar bila tidak sadar, suatu kondisi yang merujuk pada sepekok-pekoknya manusia.

Para pemburu-pemburu keindahan ini membayangkan akan berjalan naik untuk mencapai tujuannya. Ini bisa dipahami, karena tujuan selalu dipersepsi sesuatu yang lebih tinggi dari tempat individu berada saat ini.

Tetapi persepsi yang telah mengakar sedemikian kuat tiba-tiba tercerabut malam itu saat kenyataan menunjukkan bahwa kali ini tujuan tak berada di tempat yang tinggi, melainkan sebaliknya, di tempat yang rendah! Situasi yang sama sekali tak terpikirkan sebelumnya, apalagi perjalanan melalui jalan menanjak ke tempat tujuan itu tadi awalnya sudah sesuai persepsi. Tetapi sekali lagi, perjalanan belum selesai!

Hingga kaki-kaki rapuh ini pelan-pelan menuruni jalanan curam menuju ke lembah, akal ini masih tampak sehat-sehat saja, seolah-olah itu adalah perjalanan yang mudah. Toh tinggal turun. Hingga tatkala tampak manusia melingkar saling bercengkerama, keindahan malam itu kian menyeruak.

Usaha Pembunuhan Ingatan

Malam kian larut ketika keindahan melingkar itu harus diakhiri, agar-agar tiap-tiap individu manusia tak mengalami overdosis keindahan yang justru akan menyamankan. Dan, kenyamanan yang justru memiliki potensi jauh lebih besar untuk membunuh seseorang daripada kegelisahan. Perjalanan kembali pada kenyataan hidup dimulai hingga kemudian bertemu dengan jalan yang tadinya dilewati.

Kali ini situasinya benar-benar berbeda, berkebalikan 180 derajat! Tiba-tiba ingatan ini begitu kuatnya mengabarkan bagaimana terjalnya jalan saat dituruni sebelumnya. Ingatan itu terus bergerak liar hingga menyadarkan akal tentang kapasitas diri, tetapi bersamaan itu pula memunculkan logika-logika baru yang justru memproduksi kegelisahan-kegelisahan berselimut rasa pesimistis apakah bisa mencapai puncak dalam kondisi lelah.

Untuk memahami batas fisik apakah akan mampu melewati rintangan berupa jalan menanjak itu, jawaban pastinya memang hanya satu, mencoba! Bila ternyata setelah mencoba akhirnya tubuh ini sampai ke puncak, itu berarti kapasitas diri mencukupi. Sebaliknya, bila pingsan di tengah perjalanan, itu berarti kapasitas diri belum mencukupi. Sesederhana itu, gitu saja koq repot!

Tetapi nyatanya tak mudah untuk memilih, meski pilihan tinggal dua (atau bahkan sebenarnya tinggal satu, yakni jalani saja). Ingatan-ingatan akan waktu sebelumnya atau masa lalu begitu kuatnya mencengkeram hingga membuat manusia tak berani membuka mata menatap kenyataan. Jelas ini situasi yang tak bisa dipaksakan. Kalau saja akal dan hatimu belum selesai, hampir ‘pasti’ kaki akan berat melangkah dan lengan mendadak macet untuk mengayun.

Menyelesaikan hati menjadi langkah pertama yang harus diambil untuk menggerakkan kaki dan tangan. Dan membunuh ingatan-ingatan masa lalu menjadi pilihan praktis untuk mendapat hati yang selesai.

Ini akan mudah, akal itu bergumam di dalam kepala. Tinggal mengabaikan saja maka ingatan masa lalu akan terhapus dengan sendirinya. Benar saja, dengan bersenandung riang terkadang diiringi komat-kamit mulut memuji Sang Penggagas Keindahan, perjalanan itu terasa ringan. Tetapi ternyata benar adanya bahwa tak ada perjalanan yang mudah! Apalagi perjalanan menemukan keindahan sejati.

Semakin jauh kaki melangkah, aliran darah perlahan pasti beralih dari kepala menuju ke kaki, karena saat itu kakilah yang membutuhkan banyak nutrisi dan oksigen yang ada di dalam darah. Konsekuensinya, mulut semakin tak berenergi untuk sekadar menggumam, dan ‘apes’nya situasi itu menjalar ke otak mematahkan bermacam senjata yang tadinya digunakan untuk membunuh ingatan.

Apa yang terjadi? Ingatan kesengsaraan masa lalu tiba-tiba menyeruak muncul dengan gagahnya tanpa terluka sedikitpun. Ia sama sekali tak terluka cacat, apalagi terbunuh. Lalu, apa sebenarnya yang terjadi selama itu tadi? Kali ini kaki benar-benar sudah tak bisa digerakkan alias berhenti total! Tak hanya mengalami defisit energi, ada situasi yang lebih parah, kaki kehilangan motivasi untuk bergerak!

Untuk kedua kalinya kemacetan terjadi. Bila yang pertama macet karena situasi dan kondisi eksternal diri, kali ini kemacetan terjadi karena faktor internal, dan itu jelas jauh lebih berat mengatasinya.

Detik demi detik hingga berganti menit, akal ini masih bertanya-tanya, kenapa ingatan tak mati dibunuh? Apakah memang tak ada cara untuk membunuhnya? Apakah sejahat itu kenyataan hidup?

Hingga kemudian jawaban itu muncul dari gudang-gudang ingatan yang lain, bahwa peristiwa-peristiwa yang menyakitkan atau menyengsarakan atau memenderitakan cenderung akan ditahan di dalam ingatan selama-lamanya, karena itu diperlukan agar setiap manusia senantiasa waspada akan kemungkinan itu terjadi lagi di masa yang akan datang.

Bila situasinya seperti itu, tak mungkin ingatan itu bisa dibunuh. Maka pilihannya adalah dilumpuhkan sementara waktu agar tak mengganggu langkah kaki saat itu. Yeeessss…!! akhirnya ketemu jawabannya bagaimana memotivasi kaki ini untuk melangkah lagi.

Saat terbangun sadar, mata ini sedang menerawang nun jauh di bawah, tempat dimana perjalanan pergi-pulang ini dilakukan. Alhamdulillah..!! tiba-tiba mulut ini berteriak. Bagaimana ini tadi prosesnya tiba-tiba tubuh lelah ini sudah berada di atas lagi menerawang remang-remang jalanan terjal itu?

Ah, nanti sajalah menemukan jawaban itu, sekarang kunikmati saja rasa kantuk dan lelah ini, toh hidup harus terus berjalan. Jawaban takkan pernah selesai dan memuaskan, karena memilih hidup itu sama saja memilih bermasalah, maka hadapi saja.

Berani hidup berani mati, takut mati jangan hidup, takut hidup mati saja…

Christyaji Indradmojo
(secuil oleh-oleh terserak dari Maiyahan 23 April 2017 di Ponpes Singa Putih Prigen)

    

 

LEAVE A REPLY