Berjalan seorang diri berlomba dengan sang waktu. Tak jarang was-was pun menghadang, takut kalau-kalau diri ini akhirnya ditaklukkan oleh waktu. Dan bukan diri yang menaklukkan sang waktu. Tak jarang merengek pada akal, merayunya agar sudi mencari siasat jitu untuk memenangkan pertempuran ini. Agar tak lagi terperdaya oleh waktu.

Ah, mungkin ada baiknya juga diri ini mencoba lebih memahami kembali tentang hakikat waktu. Mana yang pasti dan mana yang tak pasti. Bahwa selain kepastian, Tuhan pun juga telah menyiapkan ladang ketidakpastian. Berbincang masalah kepastian, yang terbatas oleh ruang dan waktu, maka yang pasti hanyalah detik ini. Tak seorang pun manusia yang mampu memberikan jaminan akan satu detik yang akan datang. Masihkah mata ini mampu terbuka, masihkah nikmat oksigen yang disebar cuma-cuma ini dapat dirasa di satu detik, dua detik yang akan datang? Entahlah. Tak ada yang mampu memberikan jaminan akan semua itu. Selain Yang Maha memberikan kepastian atas segala ketidakpastian.

Tangga kepastian

Jika memang waktu kepastian kita adalah saat ini, maka yang bisa dan perlu kita maksimalkan adalah detik ini. Kalaupun tujuan kita masih berada di depan, masih berada di ladang ketidakpastian, maka tak ada pilihan lain selain menapaki tangga demi tangga kepastian untuk bisa sampai pada tujuan ketidakpastian.

Pun dengan Tuhan yang telah memperkenalkan diri-Nya sebagai Yang Maha Ghaib, Yang Maha Tak Pasti terjamah oleh indra ini, maka yang bisa kita maksimalkan hanyalah menapaki tangga-tangga kepastian. Terus menanam, menyiapkan sajen terbaik untuk dipersembahkan pada Sang Maha. Berharap Ia berkenan menerima persembahan kita dan sudi memberikan kesempatan pada kita untuk turut menikmati pertemuan agung yang selalu dinanti.

Menjaga keseimbangan

Selain itu, yang perlu diperhatikan dalam menapaki tangga-tangga kepastian adalah tetap belajar menjaga keseimbangan dalam setiap gerakan. Ibaratkan posisi kita saat ini berada pada titik koordinat tertentu dalam suatu bidang cartesius, dengan terus belajar menjaga keseimbangan dalam setiap gerakan, maka gerakan-gerakan kepastian kita pun akan menjelma menjadi sebuah lingkaran. Sebuah gambaran keseimbangan.

Gerakan-gerakan keseimbangan tersebut akan lebih indah lagi jika kita bisa menghubungkan setiap gerakan kita dengan Yang Maha Pasti. Mas Sabrang pernah menyatakan bahwa setiap kita berkesempatan dan bisa menghubungkan apa pun yang ada di diri kita dengan Sang Maha Pasti. Lagi-lagi jika posisi kita saat ini berada di sembarang titik koordinat tertentu, maka kita pun juga berpeluang menarik diri ke atas. Hingga posisi kita tak lagi hanya terbatas pada bidang dua dimensi, tapi naik menjadi berada dalam sebuah koordinat (x,y,z). Ya, sebuah posisi dalam ruang tiga dimensi.

Bayangkan apa yang akan terjadi jika kekonsistenan untuk tetap menjaga keseimbangan dalam setiap gerakan menapaki tangga-tangga kepastian tetap dijaga. Maka yang kita dapatkan bukan lagi hanya sekedar lingkaran. Lebih dari itu, gerakan-gerakan kepastian kita akan menjelma mennjadi sebuah bola.

Sebuah bola yang ke mana pun ia dilemparkan, bagaimana pun ia diperlakukan, ia pun akan tetap menjadi sebuah bola. Tak akan berubah bentuknya. Pun dengan kita yang telaten dan sabar terus berusaha menjaga keseimbangan dalam setiap tindakan, serta selalu menghadirkan Tuhan, menghubungkan segala sesuatu dari kita dengan Tuhan, maka bukan tidak mungkin Tuhan pun akan memberikan perlindungan dan pertolongan-Nya. Hingga bagaimana pun lakon yang diberikan pada kita, bagaimana pun kehidupan memperlakukan kita, tidak akan sekonyong-konyong merubah kita. Mengalihkan keteguhan hati kita. Dan kita akan tetap menjadi kita, yang masih setia belajar menyeimbangkan dalam menapaki setiap tangga kepastian guna menggapai Ketidakpastian yang telah dijanjikan.

Hilwin Nisa’

SHARE
Previous articleSe-Level Cicak
Next articlePusaka 3 Warna

LEAVE A REPLY