Tak ada satu manusia pun yang tahu hari esok,

Tak satupun yang pernah mengalami esok hari,

Maka tak ada yang aneh bila keghaiban milik esok hari,

Sehingga kenyataan seharusnya milik hari kemarin,

Dan hari ini, kenyataan baru saja terlewati, keghaiban baru akan dijalani..

Tetapi tunggu dulu!

Ada yang aneh… Mengapa hari kemarin sekonyong-konyong menjadi seghaib hari esok?

Salahkah hari?

 

Ghaibnya kenyataan

Semua orang akan berkata bahwa ia sudah membuka mata sedari pagi. Mata, jendela otak untuk menerawang dunia. Tetapi bertanyalah pada orang-orang itu, berapa suap nasi yang telah dimasukkan mulutnya tadi pagi? Berapa gayung air yang dihabiskan untuk mandi tadi pagi? Berapa langkah kaki yang telah diayunkan saat mencapai tempat aktivitasnya?

Hampir seluruh orang itu menjawab tidak tahu. Ada beberapa orang yang akan mengatakan bahwa itu bukanlah pertanyaan penting, jadi tidak perlu dijawab. Itu cara halus menyampaikan ketidaktahuannya. Tetap saja hasil akhirnya adalah ia tidak tahu apa yang TELAH dijalani.

Unik! Begitulah kebanyakan otak manusia. Ada pepatah yang mengatakan, “…aku mendengar aku lupa, aku melihat aku tahu dan aku mengerjakan aku paham.” Tetapi yang terjadi hari ini adalah keunikan, bahwa pekerjaan yang dilakukan sehari-hari tapi malah tak paham detailnya, hanya sekadar tahu, bahkan sering terabaikan. Bila itu dikatakan bukan pekerjaan penting, hingga kemudian tak perlu dipahami detailnya, tunggu dulu! Tahan argumennya!

Ternyata itu juga tak meluruskan keunikan tersebut. Semua orang sepakat bahwa makan adalah peristiwa terpenting karena bertanggung jawab terhadap keberlangsungan hidup. Pun juga mandi adalah peristiwa yang dilakukan semua makhluk untuk mengontrol suhu tubuhnya agar tak mendidih.

Pekerjaan-pekerjaan yang tampaknya TELAH dilakukan, hari ini terbukti menjadi urusan ghaib, sesuatu yang tak bisa dipahami oleh otak rasional. Bukankah begitu?

Seharusnya apa yang dimakan besok, air apa yang digunakan untuk mandi besok, ke mana kaki akan melangkah besok, cukup itu yang menjadi urusan ghaib, tak bisa dicapai otak manusia. Tetapi fakta hari ini menunjukkan bahwa hari kemarin yang telah dilalui pun ternyata menjadi ghaib pula.

Lantas. Bagaimanakah hidup selama ini dijalani? Kemanakah kesadaran akan diri sendiri tersembunyi selama ini? Bila tak bisa menyadari keberadaan kesadaran diri, masihkah ini disebut hidup?

Pijakan melesat

Bukan hal asing bahwa seseorang harus memahami sejarah masa lalu sebagai pijakan untuk melesat mengalahkan masa depan. Hampir selalu dibutuhkan ancang-ancang ke belakang untuk melesat ke depan. Takkan ada yang mendebat pendapat itu, semua orang sepakat.

Pun ketika seseorang memiliki keinginan untuk melangkah jauh ke depan. Tak cukup tekad, ia harus paham di mana posisi dirinya di hamparan dunia ini. Maka menyadari sejarah diri sendiri merupakan salah satu formula untuk memahami posisi dan potensi diri. Sekali lagi, jangan terburu bangga dulu dengan tekad membara yang ada di dalam diri, hingga tekad itu berubah menjadi sebuah tindakan yang memberi pengaruh kebaikan pada lingkungan.

Lagi-lagi bertemu lagi dengan keunikan. Meski sudah tahu betapa pentingnya sejarah sebagai pijakan untuk melangkah ke depan, tak sedikit anak-anak manusia itu yang “tanpa sadar” menghanguskan sejarahnya sendiri. Entah karena masa pertumbuhan dan perkembangan yang tak juga matang, anak-anak ini seolah nyaman ter-nina bobo-kan oleh kenikmatan hari ini. Walau memang sungguh tak mengasyikkan memelihara dan merawat sejarah. Dibutuhkan banyak energi dan kesadaran tinggi untuk dapat melakukannya.

Terkadang, ketika pada akhirnya kesadaran akan pentingnya sejarah itu terbangun, saat itu sudah tampak sangat terlambat untuk mendapatkan kembali sejarah. Semakin otak berusaha untuk menggali sejarah, yang terjadi adalah ingatan-ingatan menyakitkan yang mendominasi, dan sangat sedikit hal-hal menyenangkan dapat diingat.

Otak sudah mengalami kerusakan parahkah hingga hal yang diingat sangat tidak proporsional? Mengapa hal-hal yang tampak negatif dan menyakitkan yang banyak muncul? Tenang saja. Itu alamiah manusiawi. Memang begitulah cara kerja otak. Lebih dari 99% informasi yang masuk ke otak akan dibuang, alias dianggap hoax, alias tidak penting untuk keberlangsungan hidup. Hanya kurang dari 1% yang ditahan oleh memori, dan kebanyakan itu adalah hal yang menyakitkan. Karena ingatan pada rasa sakit itu jauh lebih penting dan menyelamatkan hidup seseorang daripada ingatan pada hal-hal yang menyenangkan, apalagi itu hanya kesenangan sesaat.

Tetapi pada sejarah yang terlanjur “hilang”, bagaimana bisa tenang? Tanpa memahami sejarah, bagaimana bisa mengarungi kehidupan? Apakah ajal sudah dekat, karena tak ada lagi jalan ke depan?

 

Tuhan, aku menawar

Beruntung itu hanya pikiran-pikiran yang berkutat di alam sadar, ‘hanya’ letupan-letupan elektromagnetik di bagian otak neokorteks. Meski neokorteks-lah yang menjadi pembeda mengapa makhluk biologis itu layak disebut manusia.

Ketika ada sedikit celah untuk mengakses alam bawah sadar yang berada di kisaran otak primitif (reptilian brain), sekonyong-konyong ada suara yang berkata, “..hidup bukanlah sekadar logika pendek..”

Suara itu sudah cukup membangkitkan optimisme baru, meski dengan harap-harap cemas. Bukan maksud hati ketika kesadaran akan pentingnya sejarah terlambat bangkit. Itu kan sangat manusiawi tatkala bila seseorang berada pada fase “menikmati” hidup hingga terkadang mabuk tak memahami diri dan ancaman lingkungannya.

Alam bawah sadar itu kemudian memberi saran bagaimana cara untuk mendapatkan kembali sejarah yang terlanjur lenyap. Karena waktu tak bisa kembali. Tentu cara itu bukanlah cara biasa. Tentu itu takkan mudah. Dan kemungkinan besar sejarah tak semuanya didapat kembali.

Tak apalah. Yang dibutuhkan ‘hanyalah’ jejak terserak yang memungkinkan untuk pijakan mengarungi masa depan.

Bertanyalah, siapa pemilik waktu? Sang Pemilik waktu itu pastilah yang menguasai masa lalu alias sejarah. Cobalah menawar pada Sang Maha Ghaib agar sudi sedikit menyerahkan kenyataan masa lalu yang terlanjur menjadi ghaib.

Hanya itu jalan yang bisa ditempuh saat ini. Menebus sejarah yang terlanjur tergadaikan oleh waktu. Nyaris tak mungkin untuk mendapatkan kembali sejarah diri pada waktu. Karena waktu juga hanya menjalankan ketentuanNya. Maka menebus sejarah pada Sang Pemilik Waktu-lah yang paling memungkinkan saat ini.

Tak mudah untuk mempercayai bagaimana berharap kenyataan terjadi oleh Dzat yang Maha Ghaib. tetapi itulah perjuangan hidup. Memilih, memilah dan meyakini sesuatu yang ghaib untuk menjawab permasalahan hidup.     

Berlomba-lomba untuk saling memberi sebesar-besarnya manfaat kepada orang lain, mungkin itulah tiket untuk masuk ke pasar lelang menebus sejarah, berharap kepada tak terbatasnya cinta kasih Tuhan agar tak murka pada dosa-dosa masa lalu.

 

Duh Gusti Allah,
Masih adakah sisa kasih sayangMu,
Hamba celaka, hamba durhaka tidak terkira..
Dimanakah hamba sembunyi dari murkaMu,
Selain dalam Tak terbatasnya cinta kasihMu..

Christyaji Indradmojo

LEAVE A REPLY