Apalah daya, siapa pula diri ini berani-beraninya menuliskan kekasih Allah itu. Mencoba beranikan diri merindu kekasih hati, yang ucapkan ummati, ummati, ummati di penghujung nafasnya. Karena cintaNya pada Nur Muhammad maka diadakanlah alam semesta dan seluruh isinya ini. “Cinta Rasulullah adalah pangkal kehidupan, ia ibarat pusat syaraf dalam otak manusia. Dan posisi cinta itu lebih tinggi daripada hukum. Hukum/Fiqih merupakan tingkatan terendah dari akhlak Islam dan semua yang ada di dunia ini kan hanya urusan cinta. Al-Qur’an adalah Muhammad literal. Dalam Qur’an, kalau kalian mencintai Allah, maka ikutlah aku (Nabi Muhammad), “urai Cak Nun dalam suatu momen maiyahan.

Syaikh Kamba pula menuturkan ciri cinta rasul dengan banyak bersholawat. Maiyah itu sholawatan, Indonesia bisa selamat kalau sholawatan tetap ada. Lalu muncullah segala kebaikan yang berusaha meneladani Rasulullah dan puncaknya yakni kesediaan berkorban untuk kekasihnya. Orang maiyah bekerja saja di kesunyian, nanti Allah-lah yang akan meneruskannya. Dan  menurut beliau kemurnian Islam adalah cinta Rasulullah. Di sanalah muara seluruh ajaran agama yaitu  pada upaya  untuk me-Muhammadkan diri kita. Dalam bermaiyahan pula Allah-lah yang mengikat hati kita semua. Sehingga seperti dalam hadist, tidak beriman seseorang diantara kamu yang tidak mencintai saudaranya sebagaimana dia mencintai dirinya sendiri. Di sanalah filosofi maiyah dimana terdapat semangat pengembanan yang luar biasa ketika seseorang sudah melarutkan diri ke dalam cinta rasul.

Cak Fuad turut berpesan bahwa cinta adalah dominan. Jadi, kalau kita mencintai Rasulullah,  maka Rasulullah-lah yang dominan dalam diri kita. Rumus kehidupan pula yang ditegaskan oleh Cak Nun bahwa sesungguhnya dunia ini remehnya tidak karuan jangan tertekan olehnya. “Jadi, jangan digedhe-gedhein dunia ini, jangan menderita karena dunia ini. Saya ingin anda itu gedhe hati. Wong anda itu sudah shalawatan berati anda itu bersama Rasulullah, kalau anda bersama Rasulullah posisi anda tidak di dunia. Bebaskan dari penderitaan. Saya tanya, hidupmu itu sama Rasulullah enakan mana? Mbok sudah itu saja, kalau ngomong sukses tidak sukses, kaya tidak kaya mbok acuanya Rasulullah saja. Kalau dibanding Rasulullah sak enak-enake urip to awake dewe iki. Kalau anda masih merasa menderita karena keadaan anda di dunia ini, yo nggak enak dong sama Rasulullah,” kelakar Cak Nun.

Yang penting itu keyakinan dan kesetiaan kepada Allah serta cinta kepada Rasulullah. Yo opo bentuke Cak? Ojo atek kon pikir, kon cinta, titik. Cinta kok njaluk pamrih, yo opo cak carane ketemu temen.. gak usah gak ketemu gak masalah, yang penting kamu cinta. Jadi jangan cari ridhollah, ridholah kepada Allah. Itu Maiyah! Sibuk ridho bukan sibuk mencari ridho. Hatimu yang menyebutkan juga tidak ada masalah. Dan itu lakukan dan jangan nagih apa-apa. Cinta kok nagih. Cinta itu terus menerus memberi.

Nikmatilah ketika kamu berbuat kebaikan karena itu adalah kemuliaan. Dan momentum itu diciptakan Allah setelah dirimu mengompatibelkan dengan kehendak Allah. Sabda Rasulullah terkait kebaikan, kalau tangan kananmu berbuat baik, tangan kirimu jangan sampai tahu. Perbuatan baik tidak boleh ditakaburkan. Tidak boleh dipamerkan. Tidak boleh menjadi peristiwa riya’ di dalam kalbu orang yang melakukannya. Namun, Cak Nun mengisahkan, “Derajat saya masih pada strata tugas “uswatun hasanah”. Memberi teladan yang baik. Celakanya, memberi teladan itu tidak mungkin dengan menyembunyikannya, melainkan justru harus menunjukkannya. Saya berdoa kepada Allah: “Ya Kekasih, nilailah apa yang kulakukan ini sebagai riya’ dan takabur, sehingga Engkau membatalkan pahalaMu atasku. Karena dengan tiadanya tabungan pahala itu insyaAllah aku menjadi lebih bersemangat untuk tetap mencoba menabung pahala dan kemuliaan….”.

Semoga seluruh daya upaya kita dalam rangka selalu berusaha bersama dan menuju Allah. Belajar terus menerus mengenali, mencintai dan meniru Sang Kekasih hati, Imam Para Pejuang, Rasulullah Muhammad SAW.

Nafisatul Wakhidah

LEAVE A REPLY