Sebuah kegembiraan yang akan didapatkan orang-orang tua manakala menyaksikan anak-anak di bawah asuhannya pada suatu ketika mampu mandiri berdiri tegak. Dan kegembiraan itu akan semakin bertambah bila tegak di atas kedua kakinya yang kokoh itu digunakan si anak untuk berjalan dan kadang berlari. Rasa was-was mungkin akan mulai menghinggapi orang tua itu tatkala si anak memilih melangkahkan kakinya untuk menempuh jalan sunyi, jalan yang mungkin tak pernah dijamah orang, atau jalan yang telah terlalu lama tak dilewati orang.

Tetapi dibalik rasa was-wasnya, diam-diam orang tua itu merasakan kebahagiaan yang mendalam manakala ia tahu bahwa jalan sunyi itu terindikasi mengarah pada tujuan yang Sejati. Orang bilang, orang tua ini harap-harap cemas. Kecemasannya menyebabkan keluarnya kalimat-kalimat larangan pada anaknya untuk melakukan ini itu. Tetapi itu hanya sebatas ucapan, tak pernah ada tindakan untuk benar-benar mencegah dan menghalanginya.

Orang tua ini sesungguhnya sedang dalam kesadaran tertingginya. Ia sangat paham bahwa tak mungkin seseorang bisa mencapai tujuan Sejati bila tak mencipta jalan sendiri, jalan sunyi. Tak mungkin seseorang bisa berjalan sendiri di jalan sunyi bila tak mampu tegak mandiri. Tak mungkin seseorang mampu berdiri tanpa melalui tahap merangkak yang sering kali menyakitkan dan membahayakan. Tetapi dari semua itu, tak mungkin tujuan Sejati didapati secara mendadak. Bagaimanapun, untuk mencapai tujuan Sejati dibutuhkan pula PROSES sejati.

Kecepatan dan Ketepatan

Kecepatan tak berbanding lurus dengan Ketepatan. Ketika seseorang membuka mata, maka didepannya tersaji berbagai jalan yang bisa ditempuh. Saat mata memandang jauh, terhampar pula titik-titik tujuan yang tampak indah. Hanya sayangnya, jalan yang halus, titik nan jauh yang tampak indah, bukanlah representasi dari tujuan Sejati. Dibutuhkan ketelitian, ketelatenan (di Jawa sering disebut ‘titen’) untuk menemukan titik yang tepat. Jelas, ketelitian & ketelatenan akan memakan waktu yang teramat panjang. Sehingga ketepatan (presisi) tingkat tinggi akan membutuhkan waktu yang panjang pula. Maka, jangan pernah bermimpi cara instan akan membimbing ke titik yang tepat. Kecepatan menemukan titik keindahan memang akan memberi kebahagiaan, tetapi keinginan untuk cepat-cepat seringkali melunturkan kesadaran untuk eling lan waspodo. Maka sekali lagi, ketepatan yang dibutuhkan, sedang kecepatan harus dilatih untuk mencapai hal itu.

Kemandirian yang Terjaga

Berdiri kokoh tak cukup membuat seseirang bisa melangkah. Bagaimanapun, melangkah membutuhkan energi dan kemampuan bertahan di sepanjang jalan yang ditempuh. Seseorang bisa saja menyerap energi di sepanjang jalan yang dilalui. Tetapi ia harus tahu batas dosis energi yang diserapnya. Agar ia tak terbebani oleh cadangan energi yang diserapnya dan pula, ia harus mampu menjamin penyerapan energi yang dilakukan tak menghancurkan habitat, tempat, rumah energi itu berasal. Kemandirian menyediakan dan mengelola energi, akan meminimalisir dampak itu. Di sinilah sesungguhnya ke mandirian dibutuhkan, agar tidak merusak sisi-sisi lainnya.

Merangkak untuk Berdiri

Tak sedikit dari orang tua tak sabar melihat anaknya merangkak. Alih-alih ‘membiarkan’ anaknya mencari caranya sendiri untul berdiri, tanpa sadar, orang-orang tua itu akan meraih tangan si anak, kemudian “menggantungnya” agar si anak segera ‘tampak’ berdiri dan berjalan. “Menetah” orang Jawa bilang.

Memang, berdiri, apalagi tegak dan kokoh, tampak jauh lebih gagah daripada merangkak yang sama sekali tak menampakkan kegagahan, hanya kelucuankelucuan. Tetapi orang-orang tua itu lupa bahwa yang utama dan terpenting adalah anak bisa mencapai titik yang dituju, entah dengan cara merangkak, berjalan ataupun berlari.

Orang-orang tua juga sering lupa bahwa dibutuhkan persiapan dan proses yang mapan dari si anak supaya bias memtransformasikan perilaku merangkaknya menjadi berdiri dan melangkah. Dibutuhkan tulang-tulang punggung yang kuat, dibutuhkan tungkai-tungkai kokoh untuk itu. Sayangnya secara alamiah kekuatan dan kekokohan tulang-tulang itu tak pernah bisa dipercepat.

Bila saja anak-anak itu dipaksakan berdiri sebelum waktunya, bisa saja ia ‘tampak’ berdiri kokoh, tetapi pasti ada kerapuhankerapuhan di dalam tulangnya. Maka pilihan ada pada kita, kemegahan atau kekuatan yang diinginkan.

Anak-anak itu bisa saja suatu ketika bernama Relegi yang berorang tua Maiyah. Anak-anak itu bisa saja bernama mahasiswa berorang tua Indonesia. Akan menjadi sebuah kecelakaan besar bila memaksa anak-anak untuk berdiri dan melangkah sebelum waktunya. Tetapi bencana lebih dahsyat akan terjadi bila terpana pada kelucuan-kelucuan anak-anak yang sedang merangkak hingga kita lupa bahwa merangkak adalah proses, bukan tujuan. Sesungguhnya yang dibutuhkan adalah kemampuan mengendalikan irama, maka, mari mainkan musiknya, musik kehidupan.

LEAVE A REPLY