Sebagai manusia, kita telah dilimpah ruahi banyak fasilitas yang dihamparkan di muka bumi. Akal pikiran, waktu, alam semesta, semua diamanahkan pada manusia. Untuk manusia khalifahi, agar bisa menjadi rahmat untuk semua. Sekaligus agar bisa menjadi jalan untuk memperkuat akar keimanan kita pada Sang Pencipta.

Akan tetapi, tak jarang pula kita lalai akan itu semua. Kufur atas apa yang telah difasilitaskan pada kita. Dalam hal yang sangat sederhana saja, kita sering kali lupa. Kita seringkali hilang kesadaran dalam melakukan aktifitas sehari-hari. Hanyut dan larut dalam kenyamanan rutinitas. Lalu, apa pula permasalahannya? Toh yang kita lakukan tidak sampai merenggut nyawa orang. Rutinitas kita masih berada di bawah garis standar aman. Mungkin deretan kalimat pembelaan tersebut terlintas dalam benak masing-masing.

Manusia Vs. Binatang

Baiklah. Mari bersama-sama kita coba uraikan secara perlahan. Tak jarang kita diperdengarkan dengan pernyataan bahwa manusia hanyalah binatang yang disempurnakan. Binatang yang dihadiahi akal untuk mengolah pikiran.

Berdasarkan susunan otaknya, sebenarnya antara manusia dengan binatang hampir sama. Baik manusia maupun binatang, sama-sama mempunyai otak reptilian dan juga sistem limbik. Otak reptilian ini berfungsi untuk mengomando pertahanan dan penyerangan. Sedang sistem limbik bertugas untuk mengatur semua emosi. Hanya saja, ada satu bagian dari otak manusia yang tidak dipunyai oleh para binatang yaitu neokorteks. Neokorteks inilah yang menjadi markas untuk memroses setiap alasan akan apa yang telah manusia lakukan.

Bagian otak manusia yang disebut neokorteks ini menjadikan manusia tidak sama dengan para binatang. Jika para binatang bergerak hanya karena insting saja, lebih dari itu manusia sudah bisa bergerak berdasarkan pilihannya. Sudah bisa menimbang baik dan buruk akan apa yang dilakukannya.

Lalu, bagaimana jika anugerah otak ini kita manfaatkan hanya sebatas sampai takaran otak reptillian atau sistem limbik saja? Hanya bergerak untuk sebatas mempertahankan hidup saja. Lantas, apa pula beda kita dengan para binatang yang tak berakal itu?

 

Bukan Sekedar Hidup

Dengan kata lain, jika seluruh waktu hidup hanya digunakan untuk sekadar bertahan hidup, tanpa neokorteks ini pun sebenarnya bisa. Kalau tujuannya yang penting hidup, asal bisa makan dan minum itu pun sudah cukup. Akan tetapi, permasalahannya kan tidak lah demikian. Hidup tidaklah sesederhana asal bisa hidup saja. Bukankah sebagai manusia, kita dititipi tugas untuk menjadi khalifah di muka bumi-Nya? Tentu kalau sudah seperti ini, urusannya tidak hanya sekadar makan minum saja, bukan? Terlalu mudah bagi otak kita, jika hanya digunakan sebatas mengomando untuk memenuhi isi perut saja.

Berbicara masalah tugas, bukankah sudah jelas komando dari-Nya. Bahwa tidak ada tujuan Sang Pencipta menciptakan jin dan manusia selain untuk beribadah kepada-Nya. Sedang semua perbuatan pun bisa dinilai ibadah, asalkan diniatkan untuk beribadah. Yang sekilas tak berbau ukhrowi pun bisa bernilai ibadah, jika diniatkan sebagai ibadah. Pun sebaliknya, yang kelihatannya amalan ibadah pun bisa saja tidak dianggap ibadah oleh-Nya. Jika dalam melakukannya tidak diniatkan untuk beribadah pada Sang Maha. Dan di sini lah letak pentingnya kesadaran kita. Mengaktivasi kinerja neukorsek, hadiah terindah yang hanya didedikasikan untuk kita, para manusia. Terus berusaha menjaga kesadaran, menjaga niat dalam melakukan segala apa, agar terlaksana tugas kita. Beribadah sepanjang hayat kita.

Jika kita bersyukur, maka Tuhan akan menambah nikmat-Nya untuk kita. Pun sebaliknya, jika kita kufur akan nikmat-Nya, maka azab-Nya amatlah pedih. Kembali pada hadiah yang hanya diberikan pada kita, kita pun punya dua pilihan untuk menyikapinya. Mensyukurinya, ataukah mengufurinya.

Jelas sudah alarm dari-Nya. Jika mensyukurinya dengan terus berusaha menjaga kesadaran kita, memanfaatkan akal pikiran untuk mencari cara dalam mengkhalifahi segala titipan-Nya, maka Tuhan pun akan menambah nikmat-Nya. Menambah nikmat-Nya bukan berarti ditambah jumlah otak kita. Bisa jadi nikmat Tuhan tersebut berupa bertambah kapasitas dan kapabilitas otak kita. Perlu diketahui sebentar, mungkin hampir semua yang ada di semesta ini akan mudah rusak jika terlampau sering digunakan. Akan berkurang kinerjanya jika sering digunakan. Laptop, HP, atau apa lah, hampir kesemuanya akan semakin berpotensi rusak jika terlalu sering digunakan. Tapi, hal itu tidak berlaku pada otak manusia. Semakin sering digunakan, justru akan semakin bagus kinerjanya. Dengan kata lain, jika kita kurang mensyukurinya. Kurang mengaktifkan kesadaran, kurang menggunakannya untuk berpikir, maka bisa jadi fungsi otak kita akan dihilangkan secara perlahan.

Merayu Tuhan

Lalu, apa pula permasalahannya. Toh yang dikurangi hanya sebatas fungsi dari otak kita. Belum sampai menjalar pada yang lainnya.

“Sebagai hamba Allah, kita tidak menghimpun hasil ijtihad untuk mengekspresikan rahmatan lil ‘alamin dalam politik, perekonomian, dan kebudayaan. Untuk ummat kita sendiri saja pun Agama yang dahsyat ini belum bisa kita wujudkan sebagai rahmat dan berkah. Kita dikasih Nur, tapi berperilaku Dhulumat.” – Daur II 27.

Mungkin apa yang ditulis Mbah Nun dalam daur tersebut bisa dijadikan peringatan untuk kita. Bahwa selama ini kita masih kurang menjaga kesadaran. Kurang mengolah pikiran, hingga kita masih belum mampu mengekspresikan rahmatan lil ‘alamin di hampir semua hal. Pendidikan, politik, ekonomi, kebudayaan, dan yang selainnya. Bahkan, kita masih belum mampu menyentuh nikmat Islam yang begitu dahsyat ini. Sehingga kita belum mampu menemukan rahmat dan keberkahan yang dialirkan dalam Islam itu sendiri. Tuhan menghujani kita dengan cahaya, akan tetapi karena masih belum maksimalnya kita dalam berijtihad, bukan cahaya yang kita pancarkan. Akan tetapi, justru kegelapan yang diperlihatkan.

Sebagai manusia, kita memang tidak bisa selalu menjaga kesadaran. Kesadaran kita yazid wa yanqush. Fluktuatif, naik dan turun setiap waktu. Akan tetapi, setidaknya kita mencoba menjaga kesadaran yang mungkin hanya tersisa sedikit ini untuk melobi Tuhan. Melobi dengan memanfaatkan dan memaksimalkan setitik kesadaran yang masih tersisa untuk mengundang kasih sayang Tuhan. Berusaha memanfaatkannya untuk berijtihad bersama. Merancang strategi. Agar rahmatan lil ‘alamin dapat kita upayakan dalam berbagai hal. Hingga cahaya yang dialirkan, benar-benar mampu kita perlakukan sebagai cahaya. Dan bukannya malah menjadi kegelapan yang meliputi hidup.

 

“Duh Gusti Allah, masih adakah sisa kasih sayang-Mu?
Hamba celaka, hamba durhaka, tidak terikra.
Di mana kah hamba sembunyi dari murka-Mu?
Selain dalam tak terbatasnya cinta kasih-Mu.”

-CNKK-

Hilwin Nisa’

SHARE
Previous articleyang Mengundang Rindu
Next articleMenebus Sejarah

LEAVE A REPLY