Bias yang sempurna

Di sebuah taman yang terdapat sesosok mahluk kecil yang sedang bertengger pada dahan pohon. Mahluk itu merayap, menggerakan seluruh tubuhnya, berusaha meraih ujung dahan. Ujung dahan tempat sumber energinya berada. Sempat sesekali akan terjatuh saat menapaki dahan-dahan pohon karena permukaan dahan yang bertekstur dan ruas-ruas yang membuatnya semakin bergelombang. Perjuangan itu telah terbayar, manakala sang mahluk kecil itu sampai pada ujung dahan tempat daun-daun berkumpul. Dengan lahap tanpa menunggu lagi, mahluk kecil itu langsung memakan daun dengan mulutnya yang teramat kecil. Hingga daun-daun itu tak lagi utuh namun terdapat pola lubang-lubang bekas gigitan pada bagian pinggirnya.

Ulat, begitulah mahluk itu dipanggil. Hewan bertubuh kecil ini, terdiri atas badan yang lunak dan berjalan menggunakan perutnya. Selain itu, banyak kelompok manusia yang enggan bersentuhan dengan mahluk ini, karena khasiatnya yang dapat membuat gatal siapa saja yang memegangnya. Tak  jarang sapaan geli tertuju padanya, tapi sungguh hewan ini hanya berkata bahwa ini adalah takdir terbaiknya. Dia telah menerima apa yang sedang dijalaninya dan menjalankan tugas serta peran dengan sebaik-baiknya. Tidak seperti mahluk satunya, yang merupakan mahluk tercanggih di bumi, tapi terkadang tabiatnya tak secanggih apa yang sudah dititipkan padanya.

Kembali kepada si ulat yang suka sekali makan, makan dan makan berbagai macam dedaunan, hingga tak jarang bentuk tubuhnya sangatlah gembul (baca: gemuk sekali). Tetapi si ulat memahami maksud dan tujuan dari kesukaannya untuk tak berhenti makan. Sengaja makan sebanyak-banyaknya untuk cadangan energi  karena akan menghadapi proses yang berat dalam fase kehidupannya. Pun dengan sangat sadar ulat mengetahui bahwa makan yang iya lakukan hanyalah sebuah jalan atau media bukan tujuan, karena yang ia tuju adalah berubah menjadi bentuk yang lebih baik. Sehingga fase awal ini dilakukannya dengan totalitas dari dalam dirinya, dengan harapan jalan yang ditempuh selanjutnya akan lebih ringan dan lancar.

Bias kata itu tidak pernah ada dalam hidup ulat, karena segala yang dilaluinya atas kesadaran penuh dan dengan langkah pasti, kecuali tahapan selanjutnya memang ditakdirkan untuk tak berjalan lancar. Karena ulat memang diciptakan dalam keadaan tak memilih dan suci. Tetapi mahluk yang paling mulia dengan segala macam atribut baik hati, akal, maupun kebebasan memilih rasanya sering bersinggungan dengan kata bias. Bias karena dalam perjalanannya mahluk ini teramat sering tak sadar dengan apa yang sedang dijalaninya, terlebih apa yang sedang ditujunya. Jika ulat megerti bahwa makan hanyalah sebuah media, maka manusia sering merasa bias bahwa makan adalah tujuan yang mereka cari selama ini. Sehingga mereka hanya fokus kepada makan, makan sebanyak-banyaknya tanpa tau apa yang sedang mereka cari. Mereka mengembangkan teknologi makan yang sedemikian rupa agar mereka tidak kelaparan bahkan terus-menerus menimbun hingga kekenyangan. Dan lupa bahwa terkadang merasa lapar itu penting. Padahal makan hanyalah media untuk menjaga proses di sistem pencernaan. Hingga pada suatu titik, mereka merasa hampa dan tersesat dalam cakrawala kelelahan karena tidak mengerti apa yang sedang mereka jalani, semuanya menjadi bias, bias yang sempurna.

Imunitas Hati 

Setelah makan banyak, kini badan si ulat semakin gemuk bahkan sulit untuk digerakkan. Dia tak banyak bergerak, sabar menghadapi kondisi tubuhnya, mengetahui bahwa dirinya akan segera memasuki fase keheningan. Merangkak perlahan mencari dahan yang kuat sebagai tumpuhan untuk menetap selama beberapa saat. Diam menyatu dengan energi alam selama satu minggu mulai bermetamorfosis. Proses puasa dimulai, penggunaan energi mulai terjadi dari penimbunan makanan yang telah selama 20 hari dan diikuti pergantian kulit. Pada fase ini tingkat kesabaran dan fokus menjadi hal yang penting bagi pupa (kepompong). Untuk berubah menjadi sesuatu yang lebih indah dan bermakna maka fase metamorfosis menjadi bagian yang penting. Proses metamorfosis baru dapat dimulai ketika ulat sudah menyelesaikan tugasnya yaitu makan, ulat tidak akan memasukan fase pupa ketika ia masih melanjutkan makannya. Harus dituntaskan terlebih dahulu sebuah proses untuk melanjutkan proses selanjutnya.

Di sisi lain manusia yang terjebak antara kebiasan tujuan dan jalan dapat melakukan metamorfosis atau puasa. Mengendalikan diri, menyelesaikan kebiasannya. Harus mampu memilih mana yang hanya perantara dan mana yang menjadi tujuan sejati. Dengan menyelesaikan bias yang sempurna maka akan terbentuk sebuah sistem kekebalan atau biasa disebut sistem imunitas. Kebal dari hal-hal yang semu, kebal dari sesuatu yang melelahkan, karena kini sudah mulai mengerti tujuan dalam menapaki hidup ini. Menjaga kesadaran (pada fase ulat) menjadi modal utama untuk lepas dari kamuflase . Sadar yang berarti bahwa akal terus-menerus melakukan logika mendekat kepada fungsiya yang Sejati. Karena akal lah yang menundukan hati, yang teramat suci dan sebenarnya.

Manajemen kesadaran yang dilakukan dengan baik maka akan membuat hati menjadi terimun dengan baik dari cakrawala tipu daya. Hati pun menjadi selesai, pun selesailah pula proses metamorfosis, lalu terbentuklah imunitas hati.

Pasukan Kupu-Kupu

Setelah memiliki imunitas hati yang kuat, lantas sang kupu mulai merobek kepompong yang telah membungkusnya selama 14 hari. Sebelum bisa terbangpun, ia masih harus bersabar menunggu selama 1-2 jam sampai sayapnya kering terlebih dahulu agar ia dapat terbang melintasi birunya langit. Akhirnya sang kupu-kupu dapat terbang dan mengemban tugas baru bernama membantu penyerbukan (pembuahan) tanaman lain. Tugas yang begitu mulia, tidak hanya mengambil nektar (sari) dari bunga, tetapi dia dengan suka rela  berpindah ke bunga lainnya agar benang sari (alat perkembangbiakan jantan) yang menempel padanya dapat berpindah ke putik (alat perkembangbiakan betina) yang lain. Berawal dari ulat yang hanya dipandang sebelah mata karena hanya memiliki keahlian makan, kini setelah mengalami proses berat bernama metamorfosis, si ulat telah bersayap menjadi sang kupu-kupu yang disukai dan memiliki manfaat bagi lingkungannya.

Kupu-kupu, tak berhenti pada satu kupu-kupu, diperlukan komunitas kupu-kupu bahkan pasukan kupu-kupu. Agar fase-fase dalam siklus hidup kupu-kupu dapat terulang sepanjag jaman. Agar ada banyak kupu-kupu yang menjalankan tugasnya, yang membantu bunga-bunga untuk mengalami penyerbukan. Karena satu kupu-kupu tidak akan bisa membantu bunga-bunga yang bertebaran di alam ini dengan jumlah yang banyak. Pasukan kupu-kupu itu akan menjadi kesatuan yang kuat, dan akan saling mengingatkan ketika ada kupu-kupu yang mulai lupa akan tugasnya. Dan bersama-bersama melestarikan jenisnya agar jenis kupu-kupu tak punah. Pun manusia, yang merupakan sang pemimpin di bumi sudah saatnya terbebas dari kamuflase dunia dan bias yang sempurna untuk mencapai tujuan yang Sejati, manunggaling. Mencapai tujuan dengan menempa diri melalui berbagai macam proses metamorfosis, yang menjadikan mereka menjadi memimpin yang indah seperti kupu-kupu dan bermanfaat bagi sesama. Pemimpin yang memayu hayuning bawana, memperindah bumi yang sudah indah.

Firza Dwi Hasanah

LEAVE A REPLY