Momentum Cinta

Momentum Cinta

0
556

Bulan purnama bukan saja menerangi semesta melainkan turut masuk jauh di dalam hati. Duduk bersimpuh di pinggiran pos kampling. Mengenakan baju kaos pendek celana panjang serta sarung yang terselampir di lehernya. Bapak tua yang sedang menghisap lintingan tembakau itu tampak sangat menikmati keheningan malamnya. Tak ada lampu penerangan di pos kampling tersebut karena telah sebulan yang lalu lampunya mati dan tak ada yang menggantikan dengan yang baru. Hanya sinar dari purnama lah yang menyinari jalan-jalan malam itu.

Sepulang dari mengaji Si Budi melewati pos kampling dan melihat bapak tua itu duduk sendirian. Kemudian dia menyandarkan sepeda di sisi pos kampling dan dia duduk di dekat bapak tua.

“Bapak punopo piambakan teng mriki, nenggo sinten lo?” tanya si  Budi.
Nunggu sopo seng gelem ditunggu, nunggu sopo seng gelem mampir” sahut bapak tua.

Si Budi mengerutkan dahi kebiungunan, “nenggo kulo berarti pak?” dengang meringis si Budi tersanjung.

Bapak tua pun berpindah posisi menghadap Budi. Bapak tua itupun melempari Budi dengan beberapa pertanyaan. “Arep dadi opo kowe mbesuk?” tanya bapak tua.

Kulo nggadah angen-angen dados pegawai” Sahut Budi.

Pegawai kerjaane opo?” timpal bapak tua.

Pegawai niku nggeh kerjane teng kantor, gajine katah.” Jelas Si Budi.

Iku lak mung perantara to le, ojo didadekne tujuan,”  timpal lagi oleh Bapak Tua.

Kulo wau kan sanjang niku namung angen-angen.” Jawab si Budi.

La iyo, iling o wong urip mung mampir ngombe”.

Singkat percakapan bahwa sang bapak ingin mengutarakan, tujuan hidup itu sekalian aja, jangan setengah-setengah. Tujuan hidup itu luhur, yakni hanya mengharap cintaNya. Untuk menggapai jalan tersebutlah yang berbeda-beda, setiap manusia diberikan jalan masing-masing.

Sang Bapak pun mendadak berpuisi,

Bangsa ku
Pertiwi ibuku…
Garuda tungganganku
Lebar kepakan sayapk…
Hebat nenek moyang…
Kemana lagi ditemui
Kemana kau sekarang?

Sungguh mata sangat buram untuk melihat keindahan pola-pola kehidupan. Usaha untuk memberi arti pada setiap tikungan permasalahan dan hanya harap dapat dekat dengan Sang Maha Cinta. Jangankan keindahan, untuk membedakan benar salah saja masih ribut, baik buruk pun demikian. Terlalu serius dengan permasalahan namun tak kunjung menemukan solusi dan menimbun menjadi sampah. Sehingga tak pernah menyudahi satu perang dan berpindah pada perang lainya. Memang benar sekali kata buram, perjuangan mencapai keindahan tak semudah menggunakan mata biasa. Karena mereka yang sedang melangkah di jalan sunyi itu pun membutuhkan irama, tak hanya ikhtiar belaka.

Untuk menggapai tujuan luhur mengahadap cintaNya, manusia tak lagi dapat berkehendak semaunya menuruti keinginannya yang dikira itu passion. Manusia perlu menahan, menahan apa yang bisa ditahan, termasuk dalam urusan membedakan kebutuhan dan keinginan. Dahulukan kebutuhan dan kesampingkan keinginan. Menahan segala sesuatu yang hendak kita masukkan dalam tubuh maupun yang akan kita kenakan. Perlulah kiranya kita mengetahui asal-usul dari benda-benda yang hendak digunakan. Perihal “menahan” dalam Bahasa Arab disebut dengan berpuasa. Mengapa tak disebut puasa saja karena puasa cenderung diartikan tidak makan dan tidak minum saja. Padahal kata “puasa” dapat diartikan secara luas.

Menahan, berpuasa, pause, berhenti sejenak, melangkah cepat hingga mungkin berlari, bahkan meloncati rakaat apa ujungnya? Betul itu akan memperbesar momentum, sesuatu yang lebih dahsyat daripada kekuatan dan kecepatan. Pada momentum, yang dibutuhkan adalah ketepatan, bukanlah besarnya.

Untungnya, manusia tidak diberi hak untuk menentukan momentum. Manusia hanya sebatas diberi kemampuan memindahkan massa dari satu ruang ke ruang lain pada kurun waktu tertentu. (merujuk pada rumus fisika : Momentum =  massa (kg) x kecepatan (meter/detik)). Untuk memperoleh ketepatan dalam momentum tersebut tidak hanya mempercepat pergerakan, kadang  kala dibutuhkan pula pause, berhenti, berpuasa. Bahkan melangkah mundur kadang-kadang dibutuhkan untuk memahami kecepatan arah.

Ketepatan momentum itulah yang akan menghadirkan cinta. Menahan akan melatih diri untuk tidak tergesa-gesa dan akan mempertemukan diri pada titik pola-pola tertentu. Menahan diri bukan berarti diam saja, namun mempertajam gerak dengan pemaknaan. Setiap gerak yang penuh dengan makna dan niat baik, cepat atau lambat akan kejatuhan cinta. Dalam tulisan kali ini fenomena tersebut disebut dengan Momentum Cinta.

Manusia bukanlah Cheetah yang berekor panjang.

Ada apa dengan ekor panjang Cheetah?

Karena ekor panjang itulah pengendali arahnya yang menjadi alasan kenapa Cheetah mampu berbelok arah dengan cukup presisi meski dengan keceparan 80 km/jam. Sebuah kecepatan sepeda motor matic yang dikendarai ibu-ibu di jalanan luar kota.

Ketiadaan ekor ragawi itulah yang menuntut manusia itu banyak-banyak berpuasa guna memberi ruang bagi otak untuk berkontemplasi, hingga bisa menemukan di manakah ekornya sendiri. Maka, sesekali waktu atau bahkan sering-sering, tengoklah ke belakang, siapa tahu ekor itu muncul.

Kau tahu kawan, jika makhluk tak berekor melesat cepat ke depan, apa yang akan terjadi? Jelas bukan kecelakaan sejarah yang akan terjadi, tetapi kecelakaan sesungguhnya, yang itu mengakibatkan sejarah tak pernah tercipta.

Satu lagi pesan dari Pak Dhe Guru, bahwa pergerakanmu hari ini sangat mungkin berpasangan dengan ruang 13 tahun yang akan datang. Dan ketika bertemu pasangan, itulah momentum, sesuatu yang tak pernah bisa manusia ciptakan, apalagi memastikan.

Bahwa engkau gelisah seolah sebuah langkah tak segera bergerak maju, itu sangat manusiawi. Manusiawi? Ya, sebuah sifat yang “selalu” menggunakan parameter materiil. Tetapi engkau lupa, bahwa di atas manusia ada Khalifah.

Seorang Khalifah, akan sangat mampu menyerap dan menampung segala aura negatif yang bertebaran di sekitarnya, bahkan di belahan bumi yang lain (kalau bumi betul bulat). Ia menyerap tak sekadar untuk menambah kekuatannya, dengan mengubah aura negatif menjadi aksi positif. Tetapi yang lebih utama ia tak ingin orang-orang sekitarnya merasakan penderitaan ataupun tekanan.

Itulah yang dilakukan oleh manusia terbesar di wilayah Timur Tengah sana (arah barat laut dari Nusantara, lagi-lagi kalau bumi betul bulat.) di saat beliau sakit, masih saja memohon agar penderitaan seluruh umatnya, cukup dia saja yang menanggungnya. Tidakkah engkau hari ini iri hati dengan keluasan beliau?

Maka detik ini bertanyalah pada dirimu, manusia atau Khalifah?

Sesekali bertabrakan

Nilai-nilai yang selalu digenggam erat oleh Budi  (tokoh yang muncul di awal) seperti Selalu berusaha bermanfaat pada lainnya tak terbatas pada manusia, bahkan hewan serta tumbuhan atau mahkluk lainnya. Tak pelak dia selalu berjalan cepat, dengan keteguhannya dia sering kali meloncat sana-sini. Tak kenal waktu dan ruang, asalkan itu baik dia berangkat saja. Mengingat dalam hidup tak hanya ikhtiar saja melainkan berpuasa, tidak hanya mengiyakan segala kesempatan yang hadir melainkan juga bisa untuk berkata menunda bahkan tidak. Semata-mata untuk menjaga irama gerak kehidupan diri sendiri. Dibutuhkan keluasaan wawasan serta kejernihan berpikir untuk dapat mengerti saatnya bergerak dan saatnya berhenti sejenak.

Memang tak mudah namun juga tak sulit, konsisten untuk menjalani takdir yang telah dihadapkan saja cukup serta menjaga kesadaran. Tak selalu jalan mulus saja yang dipilihkan, namun sesekali percikan, tabrakan, dengan hal yang lain pun turut menjadi pelajaran. Pola-pola dari sekian permasalahan yang ditemui senantiasa menjadi pertanda. Pola-pola tersebut seraya menyatu pada waktu yang telah ditakdirkan, pola itu pun akan terlihat saat momentum yang tepat. Maka jagalah irama, waspadalah dengan keadaan, berpuasalah sekuat tenaga.

Mery Y.  feat dr. Christyaji I.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY