…terkadang juga menjahit baju, memanjat kelapa, menggali sumur…

 

Sekilas, tak tampak ada yang keliru dengan kalimat-kalimat di atas. Bila kurang yakin, ujilah pada beberapa orang untuk menanak nasi, menjahit baju, memanjat kelapa ataupun menggali sumur. Orang-orang itu tak akan benar-benar menanak nasi, melainkan menanak beras agar kemudian menjadi nasi. Orang-orang itu juga tak akan benar-benar menjahit baju, melainkan menjahit bentangan kain agar menjadi baju.

Lantas bila seseorang diminta untuk memanjat kelapa apakah ia kemudian memanjat kelapa? Tidak! Ia akan lantas memanjat pohon kelapa untuk sesaat kemudian mengunduh kelapanya. Pun saat seseorang diminta menggali sumur, tidak kemudian seseorang itu mencari sumur lantas masuk ke dalamnya untuk menggali, melainkan mencari sebidang tanah kemudian digali untuk membuat sumur.

 

Salah kaprah?

Entah bagaimana asal muasalnya “kesalahan” itu terjadi, yang jelas hari ini istilah-istilah itu sudah menjadi kekaprahan atau kelaziman. Dan bahkan menjadi kedengaran aneh ketika seseorang mencoba untuk berkata benar.

Tidak percaya?

Coba saja meminta seseorang untuk menanak beras ataupun menjahit kain, orang yang disuruh itupun akan tersenyum aneh.

Tetapi begitulah dunia, ada bagian-bagian yang unik atau mungkin cenderung aneh, bahkan otak kita sendiri. Tak ada satu orang pun di dunia ini yang akan mau percaya bila ia diberitahu bahwa otaknya bisa dikontrol ataupun dicuci oleh orang lain. Apalagi bila diberitahu bahwa otaknya dikontrol orang lain tanpa ia sadari, semakin denial (tidak terima) ia!

Kasus di atas adalah contoh konkret, bagaimana pikiran kita begitu terjebaknya dengan masa lalu. Meski ketika membaca artikel ini kita baru saja disadarkan ada “kekeliruan” kalimat yang biasa kita ucapkan selama ini, tetap saja besok kekeliruan itu akan diulangi lagi. Apa pasal? Kenyamanan, jawabnya. Karena mulut ini sudah terlanjur nyaman untuk mengucap “menanak nasi dan menjahit baju”, dan toh juga itu tak pernah memunculkan kesalahan maksud dan tindakan ketika diucapkan kepada orang lain, jadi kenapa mesti diributkan?

Oleh karenanya, kekeliruan itu kemudian dilabeli salah kaprah, kesalahan yang lazim, karena sudah biasa, kesalahan seolah menjadi kebenaran.

 

Pengkaprahan kekeliruan

Bila diperhatikan ada perbedaan antara kata “kesalahan” dan “kekeliruan”. “Kesalahan” merupakan ketidakbenaran yang disengaja. Sedang “kekeliruan” merupakan ketidakbenaran yang bisa saja terjadinya karena ketidaksengajaan.

Sebuah “kesalahan” juga harus dibuktikan terlebih dahulu sebelum boleh atau sah dikatakan salah. Sekali lagi BUKTI! Bukti adalah sesuatu yang kasat mata, tak menimbulkan bias antar mata orang, bisa dijelaskan asal muasalnya dan juga harus mampu mengaitkan sebab dan akibat. Maka sesungguhnya sama sekali bukan hal yang sederhana melabel sesuatu dengan “kesalahan”.

Sekali lagi perlu diingat, bahwa membebaskan kesalahan lebih baik daripada menghukum kebenaran. Dan tentu saja yang terbaik adalah menghukum kesalahan dan membebaskan kebenaran.

Kembali pada konteks…

Jelas, dari fakta yang tersaji di atas menunjukkan kekaprahan kekeliruan dalam kehidupan sehari-hari manusia nyaris tak bisa dihindari. Bahkan ketika mencoba dihindari, mungkin yang terjadi adalah kegaduhan-kegaduhan yang efek sosialnya jauh lebih besar daripada dilakukan “pembiaran” pada kekeliruan tersebut.

Tetapi…

Kekeliruan tetaplah ketidakbenaran. Itu berarti harus dicari jalan tengah antara “pembiaran” dengan “pelurusan”. Hal terbaik yang bisa dilakukan adalah melakukan pembatasan atau demarkasi. Atau bahasa kerennya adalah limitasi.

Pada kalimat-kalimat yang sudah terlanjur keliru kaprah tetapi tidak keliru makna dan SUDAH terbukti tidak menimbulkan kegaduhan sosial selama ini, semisal menanak nasi, menjahit baju, memanjat kelapa, menggali sumur, menek blimbing biarlah seperti itu adanya.

Maka pelurusan perlu dilakukan pada kalimat-kalimat baru ataupun lama yang selama ini belum terbukti ketidakgaduhannya. Bukan pelurusan kalimat sesungguhnya yang utama, tetapi fokusnya adalah pelurusan makna. Bagaimanapun, makna sejati sesuatu seringkali diawali dari pemaknaan kata atau kalimat.

 

Menanak Hukum

Terkadang, ibu-ibu itu memang benar-benar menanak nasi, yakni tatkala anaknya sakit dan membutuhkan bubur sebagai asupannya. Maka cara tercepat membuat bubur adalah nasi yang sesungguhnya bisa dimakan itu dimasak lagi dengan cara ditambahi air dan dipanasi. Tetapi bubur bukanlah makanan lazim bagi kebanyakan manusia Nusantara. Bubur seringkali diidentikkan dengan makanan orang sakit.

Orang sakit pun juga tak tahan bila terus-terusan makan bubur. Selain itu pula bubur tak lebih awet daripada nasi. Sekali waktu, cobalah bila ada orang terdekat sakit, lantas tiap hari anda suguhi bubur, apakah hari ketiga dan seterusnya ia masih bisa bersabar? Hampir bisa diduga ia akan marah-marah karena merasa jenuh.

Ini bukan melulu masalah bubur, tetapi lebih pada sebuah pesan, bila seseorang secara terus-menerus disuapi makanan yang tidak lazim, meski itu “benar” dan “layak”, tetap saja itu mampu memicu perilaku agresif alias kemarahan yang beresiko membahayakan.

Di beberapa forum Tadabburan, berulang kali kita diingatkan tentang proporsi padi-beras-nasi. Ketiganya memiliki karakter berbeda, meski dalam bahasa Inggris ketiganya disamakan dengan sebutan rice. Nasi berkarakter bisa langsung dimakan, sedang beras harus dimasak atau ditanak dulu dengan membutuhkan air dan api.  Air dan api? Unik juga ya, dua karakter berbeda yang katanya tak mampu bersatu tetapi nyatanya mampu merubah beras menjadi nasi.

Sedang beras berkarakter memiliki ketahanan yang paling lama diantara beras dan nasi. Tetapi ia membutuhkan proses dipanen, dikeringkan, ditutu dan sebagainya sebelum menjadi beras.  Karakter itu tak bisa ditukar. Bayangkan apa jadinya bila ditukar. Nasi ditutu, padi ditanak, beras dimakan. Hampir bisa dipastikan yang mengkonsumsi akan berperilaku agresif dan hilang akal sehat.

Perhatikan…perhatikan dengan seksama…perhatikan dengan kesadaran terdalam… Itulah yang terjadi saat ini, di Negeri ini. Hukum, sebuah produk ilmiah yang sangat detail, merupakan sesuatu yang identik dengan nasi. Begitupun Syariat yang juga merupakan nasi. Sesungguhnya itu tinggal dilaksanakan atau ditelan (kecuali Hukum-hukuman alias hukum abal-abal). Tetapi yang terjadi hari ini justru ditanak, bahkan digoreng berulang-ulang hingga kehilangan wujud aslinya. Hukum yang seharusnya hanya BOLEH dijalankan atas dasar i’tikad baik, hari ini kehilangan wujud hingga hukum ataupun syariat dijalankan untuk mewujudkan i’tikad buruk. Mungkin terlalu lama ditanak & digoreng, akhirnya hukum menjadi kerak dan hitam gosong.

Sebaliknya, opini pribadi, asumsi subyektif, celotehan mulut mabuk yang berseliweran setiap detik di depan telinga ataupun di depan mata melalui media-media sosial, itu tak ubahnya padi. Artinya, itu harus dikeringkan dulu, ditutu dulu, dimasak dulu sebelum dikonsumsi. Padi hanya boleh dikonsumsi bila benar-benar kondisi darurat  ketika pilihan lainnya adalah tahi.

Apa jadinya kalau informasi-informasi sangat mentah laksana padi itu ditelan atau dikonsumsi langsung tanpa dimasak? Jadilah perilaku-perilaku agresif yang berpotensi saling memusnahkan antara manusia satu dengan lainnya.

Mumpung padhang rembulane (masih terbuka pikiran), mumpung jembar kalangane (masih ada yang mau mendengar), belum terlambat untuk bersikap bijak dan berperilaku tartil (teliti dan detil). Monggo saling mengingatkan dengan menjaga ukhuwah tetap utuh sebagai tujuannya.

Christyaji

LEAVE A REPLY