Waktu berlalu, silih berganti dengan begitu cepat. Melesat, meninggalkan banyak serpihan kenangan. Tak terasa segala yang ada pada hidup ini pun ikut berlalu begitu saja, segalanya menua, namun sepertinya ada banyak kebijaksanaan yang masih terjebak di masa kanak-kanak. Kebijaksanaan itu tak ikut tumbuh bersama sang waktu. Hingga, segala keruwetan dan kedengkian orang di sekitar saling menyambar. Seolah menjadi sesuatu yang lazim. Padahal, nabi siapapun tidak pernah meneladankan permusuhan, terlebih lagi dengan sesama manusia. Tak sulit, diriku dan kawan-kawanku ini lambat laun akan ikut hanyut, seperti hanya masalah waktu saja.

            Diri yang mulai merasakan kekosongan. Kosong akan keteduhan dan ketenangan hidup. Hatipun seringkali bersahut pelan, “Apakah ini akibat diri semakin jauh dengan pemberi Syafaat itu, sang pemberi pertolongan?” Memang, aku lahir sekian lama selepas beliau menghembuskan nafas terakhirnya. Masa dimana tugas beliau harus diakhiri, tugas sebagai penyampai kabar gembira. Semakin lama akupun jadi semakin takut, karena dekapan seorang biasa rasanya tak dapat memeluk jiwa ini, tak jua menghangatkan.

            Jiwa yang merindukan sosok penyabar, pejuang dan penunjuk kebenaran. Penunjuk jalan-jalan yang lurus, karena aku masih ingin melangkah, aku tidak ingin berdiam diri di dunia dan melupakan kampung halaman. Begitu rindunya, rasa ingin bertemu dengan beliau, kerinduan yang seiriing waktu berputar selalu makin memuncak. “ivermectin” “monthly” for “mites” “cats” dosage Bahkan puncak kerinduan ini seolah-olah telah menghilangkan hierarchy of need-ku. Akupun layaknya orang yang terkena skhizofrenia, aku sulit membedakan kenyataan dan khayalan, berhalusinasi mendengar sayup-sayup sholawatan yang entah dari mana datangnya. Sholawat untuk menyampaikan kerinduan padamu. Dari kerinduan yang begitu mendalam ini pun, aku belajar mencari cara bagaimana bisa bertemu denganmu. Pertemuan yang pasti dirindukan oleh setiap umatmu. Ya Nur, apakah aku pantas bertemu dan meminta syafaat darimu?

            Aku terlalu kotor dan bau, apakah mungkin dapat bertemu denganmu? Apa aku sudah gila? Inilah kegilaanku yang paling mendalam. Segala cara kulakukan, entah itu terjatuh, terhampar sampai terhina pun sudah pernah. Sampai akhirnya langkah mempertemukan, aku menemukan yang mungkin pantas dan dapat kulakukan untuk dekat denganmu. ivermec Yah sebuah letupan dari salah seorang yang menyatakan, “Jika ingin selamat, ya gandolan klambine Kanjeng Nabi.” Dari sini pun aku masih tetap merasa sangat tidak pantas untuk dapat berpegang pada bajumu. Tapi setidaknya, aku bisa meneladani lakumu.

            Ya Nur, aku memang tidak pantas berpegang padamu. Lantas bagaimana aku dapat menemukan kebenaran Tuhan ketika aku tak bersamamu? Ketidak pantasanku ini satu per satu muncul ketika aku melihat diriku semakin dalam. Siapa  aku? Aku hanya pemuda yang lahir di negeri yang telah melupakan sejarah, negeri yang saling memunafikkan orang lain, sementara Engkau selalu berusaha menunjukkan kasih sayang kepada siapapun. Negeri ini miniatur surga, tapi sepertinya, penduduknya belum menjiwai makna surga. Dan aku juga bagian dari penduduk itu.

Lupa dengan sejarah.

            Entah benar ataukah salah apa yang ada pada negeri ku ini. Ada banyak, banyak dari anak ingusan seusiaku telah lupa. Lupa pada dirinya, dari mana dia berasal, siapa yang telah membuatnya hidup seenak ini. Bahkan tak banyak yang memfavoritkan tokoh-tokoh masa lalu, ada banyak tokoh pahlawan yang digambarkan teramat jagoan, tokoh fantasi yang berhasil menggantikan pejuang yang sebenarnya. Pendiri bangsa ini pun tak sulit untuk dilupakan, seolah mereka sama sekali tak berjasa. Sindrom pelupa itupun lambat laun menghilangkan keteladanmu, yang telah membuat seluruh dunia ini menjadi terang. Hal besar dikecilkan, dan yang kecil dilupakan.

            Baru-baru ini negeriku menjadikan HOAX sebagai trending topic utama. Indikasi nyata bahwa ada begitu banyak yang tak benar. Begitu mudahnya kabar bohong tersebar. Kondisi dimana hati dan pikiran tak begitu digunakan untuk menyaring, amarah meluap dengan mudahnya, membakar apa saja. Seperti hampir sama yang terjadi dengan masamu dahulu. Saat negeriku dihadapkan dengan permasalahan tersebut, akupun binggung siapa yang sebenarnya munafik dan siapakah yang sejatinya jujur. Seluruhnya berperan layaknya pembela negeri ini.

Negeri miniatur surga

            Jika berbicara tentang surga, banyak orang membayangkan tentang kenikmatan atau keindahahnnya saja. Tapi dari yang banyak itu, mereka tak ingat bagaimana Adam dan Hawa telah melupakan pemberi segala nikmat. Dengan rayuan iblis, Adam dan Hawa percaya bahwa khuldi dapat memberi nikmat. Yah mungkin saat inilah negeri ku menikmati surga dengan memakan khuldi. Melupakan segala tugas-tugas kehidupan, menghilangkan rasa kemanusiaan dan mempercayai iblis-iblis kecil yang bersemayam di hatinya.

            Inilah negeriku Ya Nur, banyak sekali permasalahan di dalamnya, meskipun disebut cuilan surga. Namun aku tak berusaha membenci, aku besar darinya, dan akupun tumbuh untuknya. Hal ini kuungkapkan karena aku belajar berpegang pada bajumu. Kau tetap mencintai negerimu, bahkan Engkau membuat negerimu menjadi tempat yang jauh dari fitnah Iblis maupun Dajjal. Negeri yang jauh dari peperangan dan pertumparan darah. Pengorbanan yang Engkau lakukan dengan benar-benar berjuang, tak semudah membalikkan tangan. Aku sedikit mengilhami teladanmu, dan itu memunculkan banyak harapan baru.

            Aku yakin, saat ini garudaku belum kehilangan nyawanya. Garudaku hanya tidur sejenak, layaknya beristirahat melepas lelah. ivermectine dose fat Garudaku hanya sekadar mencari kebenaran lewat tidur lelapnya. Aku pun juga yakin bahwa ibu pertiwiku hanya sebentar dalam bersedih, karena hidup tidak akan terasa indah ketika tak ada kepedihan. Dalam keutuhan hidup, ada canda, tawa, bahagia, sedih, kecewa dan kelengkapan-kelengkapan lain. Lantas akan kubangun tingkat-tingkat kesadaran yang perpegang pada suri tauladan yang Engkau contohkan. Negerimu dulu, pernah sama seperti negeriku. Dan jika aku ingin mencintaimu, maka jalan satu-satunya adalah mengilhami langkahmu dalam membangkitkan kesadaran negeriku.

Prisma Susila

LEAVE A REPLY