Kisah tentang Sapudi

Sekitar tahun 2013-an, setahun setelah berdirinya Komunitas Maiyah Rebo Legi (Relegi), rupanya Allah menunjukkan jalan sehingga Relegi mendapatkan tempat baru untuk bermaiyah. Relegi yang awalnya diadakan dengan tempat seadanya, dari sebuah ruang di kediaman Cak Fuad hingga emperan ruko dekat terminal, akhirnya memperoleh lokasi yang sangat baik, yakni di Serambi Masjid An-Nur Politeknik Negeri Malang.Tertakdir di kampus Polinema sendiri merupakan sebuah anomali atau bukanlah desain para punggawanya.

Dalam bahasan singkat ini kami akan mengeksplor kegiatan yang sudah dilakukan oleh para pemuda-pemuda Polinema yang bergiat di Maiyah Relegi yang notabene juga anomali. Di tengah para pemuda lain yang umumnya sedang giatnya merintis karier lewat keilmuan yang ditekuninya, beberapa pemuda Polinema ini memilih jalan sunyi untuk mengabdikan diri. Mereka bahu membahu membantu warga di Pulau Sapudi, sebuah pulau di ujung Sumenep, Madura agar bisa menikmati listrik dan jalan yang layak.

Pulau Sapudi adalah pulau tertimur dari Madura. Dihuni sekitar 50.000 jiwa, tempat ini menurut sejarah adalah tempat lahir budaya karapan sapi. Ia juga disinyalir merupakan salah satu pulau yang kandungan oksigennya terbaik tingkat dunia. Pemandangan pantainya eksotis. Namun demikian sungguh ironis, listrik hanya menyala 3 jam dalam sehari di pulau ini.

Oktober 2014. Cak Ilyas, seorang guru SMP di Sapudi yang bergiat di Relegi, melontarkan usulan kepada teman-teman Relegi agar Relegi bisa membuat sesuatu yang bermanfaat untuk warga Sapudi. Situasi di sana memerlukan diterapkannya teknologi tepat guna agar pulau itu bisa mendapatkan listrik yang cukup dan fasilitas jalan raya yang baik..

Setelah melalui diskusi yang intens akhirnya rekan-rekan muda Polinema itu memutuskan untuk melakukan ekspedisi ke Sapudi. Dengan sepeda motor dan perbekalan seadanya, para pemuda itu menempuh ratusan kilometer sepanjang Malang hingga ujung Sumenep dan meninjau lokasi serta melakukan wawancara dengan penduduk setempat. Sepulang dari Sapudi, tim dibagi menjadi dua dengan fokus beda: yang satu fokus ke listrik dan satunya fokus ke jalan raya.

Singkat cerita, tim listrik mengusulkan penggunaan solar panel. Solar panel itu akan dipasang bukan pada tiap-tiap rumah tangga, akan tetapi di pusat kegiatan/pertemuan warga. Kesimpulan tim, solar panel ini adalah terobosan untuk memenuhi cadangan baterai pada saat PLN setempat beroperasi. Sedangkan tim jalan raya mengusulkan penggunaan Difa Soil Stabilizer guna memperkuat dan membangun jalan raya di Sapudi. Difa adalah bahan aditif yang berfungsi untuk memadatkan (solidifikasi) dan menstabilkan (stabilizer) tanah secara fisik – kimia yang berupa material serbuk halus terdiri dari komposisi mineral anorganik. Teknologi karya Dr. Hery Budianto dari UGM ini memenuhi syarat dan sangat ideal untuk jalanan Sapudi karena ia dapat meningkatkan parameter daya dukung tanah sekaligus menstabilisasi tanah. Jalan menjadi tidak lembek/becek saat musim hujan dan tidak berdebu di musim kering.

Dari sepak terjang rekan muda Polinema di atas bisa disimpulkan bahwa kampus sejatinya merupakan laboratorium internal pusat pembelajaran, pusat penelitian, dan pusatnya diskusi. Dan dengan semakin banyaknya mereka terjun di masyarakat maka dunia kampus akan semakin mampu menjawab masalah dan tantangan yang ada pada umumnya. Cerita tentang kiprah para Presiden BEM Polinema sejak 3 tahun silam bersama Relegi itu bisa dipandang sebagai sinergi agar mahasiswa mampu menjawab panggilan jiwanya sebagai agent of change dan mewujudkan aksi nyata di tengah masyarakat.

Dengan demikian, menjadi mahasiswa tak sekadar upaya bagaimana meraih Indeks Prestasi terbaik, namun yang tak kalah pentingnya adalah bagaimana kontribusi nyata mereka. Dengan banyak bersosialisasi dengan sesama, belajar soft skill di organisasi dan sering berdialektika dengan masyarakat luas, maka hal itu akan membantu mereka menyiapkan diri menjadi pribadi yang baik dan berperan dalam membangun masyarakat yang bermartabat, kholifah fil ardh.

Nafisatul Wakhidah

LEAVE A REPLY