Our Very Tiny Body Part

Our Very Tiny Body Part

0
181
(Sumber Gambar: https://wallhere.com/id/wallpaper/806505)

Saya baru saja takjub dengan begitu detailnya Allah mengatur proses di tubuh kita.  Selama ini, Allah mengajarkan bagaimana tubuh manusia bekerja dan berhubungan antar bagiannya dalam tingkat sistem (sistem tulang dan otot, sistem jantung dan pembuluh darah), ternyata ada detail yang sangat kecil di tingkat molekuler (sel, protein, DNA) yang membuat saya tersentak.

Ternyata tidak hanya berhenti di tingkat adanya kode-kode pada untaian DNA yang tergulung rapat di histon menjadi untaian nucleosom, kemudian menjadi kromatin hingga berbentuk kromosom yang jumlahnya sama di seluruh sel tubuh kita dan baru dapat dilihat melalui mikroskop ketika sel membelah.   Histon (suatu protein yang menggulung bagian untaian DNA), ternyata memiliki (dapat menghasilkan melalui proses modifikasi histon) protein lain yang bertugas menentukan kode DNA mana yang aktif mana yang tidak diaktifkan.  Ketika kode DNA tertentu tersebut aktif, maka akan dapat meneruskan tugas untuk berekspresi menghasilkan protein yang berfungsi dalam berbagai hal di tubuh kita, mulai dari menjadi enzim untuk berbagai reaksi metabolisme sampai menjadi struktur suatu jaringan, misalnya otot. Hampir semua sebagian besar bagian tubuh kita terdiri dari protein.  Ketika tidak aktif, maka protein itu tidak di produksi.   Proses modifikasinya pun bermancam-macam[1],  yang kemudian menghasilkan berbagai produk protein lain[2] yang menentukan aktif tidaknya kode DNA tertentu.  Sehingga dari 1 sel perpaduan sel sperma dan ovum dapat berkembang menjadi berbagai sel yang berbeda dengan DNA yang sama, karena ada satu kode yang diaktifkan sehingga bisa jadi sel kulit, ada kode lain yang ditekan sehingga bisa jadi sel rambut. Allahu Akbar. Begitu rumitnya, dan alhamdulillah kita semua masih diberikan kesempatan oleh Allah untuk sehat, sehingga kita bisa berpikir dan beraktifitas tanpa kontrol apapun atas yang terjadi di detail-detail sel-sel tubuh ini.

Dan ternyata juga, terjadinya modifikasi histon membentuk protein lain tersebut dipengaruhi berbagai protein lain yang muncul di sepanjang hidup kita.  Lingkungan di mana kita berada, makanan yang kita konsumsi, aktivitas kita sehari-hari, bahkan cara pemikiran yang tampaknya hanya berupa sinyal listrik dalam saraf-saraf kita akan diteruskan melalui molekul kimia neurotransmiter yang ketika berikatan dengan reseptorya juga mengaktifkan protein lain di dalam sel yang kemudian mempengaruhi protein di histon tersebut kemudian memengaruhi aktif tidaknya gen yang seharusnya tetap aktif atau tetap tidak, agar tubuh tetap berfungsi sesuai dengan normal.  Itulah yang disebut epigenetik. Perubahan ekpresi DNA tanpa ada perubahan urutan DNA.  Itu sebabnya meskipun kembar diasuh dalam lingkungan yang sama, makanan yang sama, sifat dan sakitnya juga tetap bisa berbeda.  Jadi kita semua masing-masing adalah individu yang benar-benar berbeda dengan keunikan molekuler masing-masing.

Ada penelitian anak tikus yang selalu dijilat dan di dekap oleh induknya (contoh stimulus berupa perilaku dari luar/lingkungan) terbukti punya reseptor glucocorticoid[3] (GR) yang lebih banyak, sehingga saat dewasa lebih tenang dalam menghadapi stress dibanding anak tikus yang jarang dijilat dan didekap. Tapi, hati-hati menginterpertasikannya ini masih tikus, mungkin bisa sedikit menjadi analogi bagi manusia karena sama-sama mamalia, namun saya rasa manusia lebih kompleks dan bisa juga berbeda hasilnya.

Sayangnya, juga terdapat bukti penelitian bahwa perubahan protein yang ada di histon tersebut juga kita turunkan ke anak cucu kita. Jadi gen kita bisa sama, sama-sama jadi manusia sehat awalnya namun karena kita banyak makan  daging (atau mungkin banyak makan sayur dan buah), kurang gerak mengandalkan gadget dan remote (atau mungkin olahraga dengan dosis dan jenis yang tepat), suka marah berfikir negatif pesimistik (atau mungkin pendiam berfikir positif optimistik), membuat anak kita kelak menjadi mempunyai perilaku yang tidak pernah kita banyangkan, karena memang saat ini tidak terjadi pada kita bahkan pada nenek moyangnya, atau juga akan mengalami sakit yang tidak pernah ada di riwayat keluarga atau menjadi manusia baru yang lebih kuat dan hebat menghadapi tantangan jaman.

Jadi benar kata guru-guru ngaji saya, ternyata kita tidak hidup untuk diri kita sendiri.  Apapun yang kita lakukan akan berpengaruh pada generasi kita, baik itu keburukan atau kebaikan semua juga akan tetap kembali ke kita atau anak cucu kita.  Astagfirullah, untuk segala kekufuran saya menganggap saya pernah punya kuasa atas yang terjadi di tubuh saya karena makin banyak sekali yang saya tidak ketahui. Terima kasih Allah atas perintah sholat sebagai sarana memohon petunjuk jalan yang lurus dalam segala yang saya makan lakukan pikirkan dan putuskan, agar tidak menimbulkan kemudharatan untuk anak cucu saya kelak.  Anjuran berdoa memohon ampunan-Mu agar saya selalu ingat bahwa saya bukan siapa-siapa, hanya hamba-Mu yang lemah yang selalu beresiko menimbulkan kerusakan di muka bumi ini jika tanpa kasih sayang-Mu.

[1] saat ini yang ditemukan berupa methylation, phosphorylation, acetylation, ubiquitylation, dan sumoylation.

[2] yang disebut post-translational modification (PTM).

[3] reseptor glukocortikoid: reseptor untuk pasangan bekerjanya hormon cortisol (diproduksi kelenjar adrenal) yang di produksi ketika stress.  Ikatan hormon dan reseptor tersebut menyebabkan peningkatan metabolisme, pemecahan lemak dan meningkatkan kadar gula darah sebagai persiapan sumber energi menghadapi kondisi stres dan meningkatkan efek anti radang. Reseptor GR di otak bertugas menerima sinyal umpan balik negatif bahwa sudah cukup cortisol di tubuh sehingga cortex adrenal bisa menurunkan produksinya.  Jika GR jumlahnya kurang di otak, akan terjadi peningkatkatan kortisol tubuh yang kronis hingga mempengaruhi bagian lain di otak yang berperan dalam pengaturan emosi sehingga rentan terhadap depresi, penurunan konsentrasi dan memori.

 

 

Yhusi Karina

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY