Berangkat dari ulasan profil magnet, sebuah benda yang dapat menarik benda-benda tertentu di sekitarnya. Memang tidak semua benda dapat ditarik oleh magnet. Hanya benda-benda magnetis (yang mengandung unsur besi dan baja) yang bisa ditariknya. Magnet memiliki gaya yang dapat menembus benda (penghalang). Hal ini dipengaruhi oleh ketebalan penghalang, jenis penghalang, kekuatan magnet, dan jarak antara magnet dengan benda yang akan ditarik. Semakin tipis penghalangnya, dalam jarak yang relatif, semakin kuat pula gaya magnetnya. Selain itu, sifat magnet lainnya adalah memiliki dua kutub; utara dan selatan. Jika kutub yang senama didekatkan, maka akan saling tolak-menolak dan jika kutub berlawanan didekatkan, maka akan saling tarik-menarik. Keberadaan magnet dapat menimbulkan medan magnet yang dalam jangkauannya semua benda-benda berunsur magnetis dapat dengan mudah ditarik oleh magnet.

Setelah mengenali apa itu magnet dan bagaimana sifat-sifatnya, kini saatnya memulai topik kita. Pernahkah Anda jatuh cinta? Dengan siapa Anda jatuh cinta? Dan bagaimana cara membuktikan cinta Anda sehingga bisa diterima? Lantas, apa hubungan antara magnet dengan cinta?!

Ngomong-ngomong soal cinta, lebih dari apa yang dapat kita bahasakan, seluruh semesta dan seisinya merupakan bagian dari wujud cinta, cinta buta Sang Rahmaan, Tuhan yang senantiasa mengasihi siapapun tanpa memandang faktor apapun. Tidak peduli mereka meminta untuk dikasihi atau tidak. Tidak peduli mereka mensyukuri kasih itu atau tidak. KasihNya senantiasa membalut bak selimut di musim dingin yang berkabut.

Jika kita manusia bisa jatuh cinta, maka Tuhan pun demikian. Ini bukan berarti menyamakan Tuhan dengan manusia, melainkan karena cinta Tuhan lah manusia bisa demikian. Tuhan itu Mukhaalafatu lil Hawaaditsi, berbeda dari makhlukNya, dari segi apapun. Bahkan dalam urusan cinta.

Dalam cinta manusia masih ada skala naik turunnya. Ibarat suhu, temperaturnya bisa tinggi di awal-awal, tapi beberapa waktu berselang, temperatur bukan hanya berkurang, bisa menurun drastis malahan. Ibarat cahaya, sesekali nyalanya begitu terang, tapi kali lain setelahnya bisa benar-benar padam. Cinta manusia masih sebatas apa yang dilihat, apa yang didengar, dan apa yang dirasa. Unik. Tapi begitulah, kecuali cinta itu dimiliki oleh orang-orang yang konsisten mensyukurinya.

Berbeda dengan cinta Tuhan, skalanya lebih konstan. Yang ada hanya keindahan, kemesraan, dan ketenangan. Ibarat cahaya bintang, cinta Tuhan terus benderang. Tak peduli siang maupun malam. Tak peduli terik maupun hujan.

Mukhaalafatu lil Hawaaditsi, Tuhan pun berbeda dalam urusan cinta. Tuhan itu Super Duper Romantis, Sang Waduud yang senantiasa mencinta dengan penuh kelapangan dan tanpa sedikit pun menghendaki keburukan. Tuhan itu begitu pengertian pada makhlukNya yang bernama manusia, seperti kita. Di sela ragam urusan kita dengan dunia. Untuk cintaNya, setiap hari, Tuhan meluangkan lima waktu khusus untuk hamba-hamba bersua denganNya; subuh, dhuhur, ashar, maghrib, dan isya’. Setiap pekan, berkah jum’ahNya tak pernah terjeda. Dan setiap tahun, Tuhan mengundang dan menjamu hamba-hambaNya dengan kesucian ramadlan.

Konsep Cinta; Sang Rahmaan vs Sang Waduud:

Ar Rahmaan (الرَّحْمٰنُ);

Cinta buta:

Tuhan senantiasa mengasihi siapapun tanpa memandang faktor apapun, baik sebab maupun akibatnya.

Al Waduud (الْوَدُوْدُ);

Cinta tulus:

Tuhan senantiasa mencinta dengan penuh kelapangan dan tanpa sedikit pun menghendaki keburukan.

 

Semua titik-titik temu dengan Tuhan itu ibarat magnet. Manusia magnetis (yang terjaga kesadarannya) tentu akan tertarik menuju kutub-kutub titik temu tersebut dengan sendirinya. Manusia jenis ini akan meninggalkan apapun urusan dunia walau sejenak atau bahkan sepenuhnya, agar dapat memenuhi ruang kosong yang disediakan Sang Waduud untuk bercinta dengan hamba-hambaNya. Di luar titik-titik tersebut, Tuhan pun masih menyediakan ruang kosong bagi siapa saja yang mau dijamuNya. Kita sering menyebutnya dengan ibadah sunnah. Tidak apa-apa bagi yang melewatkan ruang kosong itu, tapi jamuan cinta Tuhan senantiasa terhidang untuk tamu-tamu yang mengisinya.

Dalam kasus di atas, Tuhan sedikit memberikan sindiran halus yang kerap diulang dalam kalamNya, Al-Qur’an; “Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang dhalim, orang-orang yang kafir, dan orang-orang yang fasiq”. Artinya, semua manusia mendapatkan kesempatan memperoleh petunjuk Tuhan yang berupa kesadaran mengisi ruang kosong dan menerima jamuan cinta yang disediakan Tuhan. Sementara itu, ketiga orang yang masuk dalam pengecualian, ibarat manusia non magnetis yang tidak bisa merasakan gaya tarik magnet, meskipun berada di tengah medan magnet. Atau mungkin, ketiganya merupakan manusia magnetis yang berada di medan magnet, tetapi mendapati penghalang yang cukup kuat, sehingga gaya tarik magnet yang mereka rasakan menjadi lemah dan mereka pun terlambat memenuhi undangan jamuan tersebut. Penghalang itu tak lain adalah tidak terjaganya kesadaran yang dianugerahkan Tuhan kepada mereka.

Dari ketiga jenis manusia di atas, yang manakah jenis kemanusiaan kita?! 1) Manusia magnetis yang kesadaran bertuhannya senantiasa terjaga. 2) Manusia magnetis yang terhalang kesadarannya, atau 3) Manusia non magnetis yang meskipun berada di medan magnet tetap tidak bisa merasakan gaya tarik magnet?

Jika kita seperti jenis pertama, maka tugas kita adalah nguri-nguri konsistensi keterjagaan kesadaran kita. Jika kita seperti jenis kedua, maka kita bisa mengadopsi cara membuat magnet dengan jalan menginduksi; mendekatkan diri dan membaurkan diri bersama orang-orang jenis pertama, sehingga perlahan kita akan terinduksi oleh mereka, dan mulai menemukan jalan untuk membiasakan diri berada dalam kesadaran, sampai akhirnya kesadaran kita terjaga seutuhnya. Karena induksi hanya bersifat sementara, jadi harus kita sendiri yang meneruskannya. Atau,,, jika kita seperti jenis ketiga, maka tugas kita adalah menyingkirkan penghalang terlebih dahulu, baik penghalang eksternal seperti kesibukan pekerjaan, dkk, maupun internal seperti keengganan menyingkirkan penghalang dan ketidaksengajaan membelenggu diri dari undangan Tuhan.

Yang harus kita ingat, cinta Tuhan itu sangat magnetis dengan medan yang sangat luas tanpa batas. Tapi kita sebagai makhluk yang terlanjur diciptakan dengan bekal akal, kita memiliki pilihan untuk menjadi manusia jenis apa dalam menyikapi undangan jamuan Tuhan di setiap ruang kosongNya. Jika kita bisa memilih menjadi jenis manusia pertama, why not?! (Him)

Histisha NR

LEAVE A REPLY