Koloni Biji yang berubah

Biji-biji yang terhampar luas di muka bumi, memperlihatkan mereka tidak akan mampu menjadi apa-apa. Keras seperti batu, bahkan tak ada harapan untuk hidup. Mungkin itulah sapaan orang-orang yang melihatnya. Tapi bukan, ini hanya masalah waktu. Karena biji ini merupakan anugerah dengan potensinya membentuk suatu kehidupan baru. Kehidupan yang panjang, yang tidak terbayangkan tumbuh dari sosok yang teramat keras dan kaku.

Kacang ijo, biji yang teramat populer, diantara jutaan bahkan milayaran biji yang lain. Populer karena memang biji ini banyak digunakan orang-orang. Tanya kini mulai menghinggapi, untuk mengisi keingintahuan yang kosong. Apa yang membuat biji ini sangat keras? bagaimana kehidupan bisa muncul dari sini? Tak cukup itu, apakah semua akan menjadi kehidupan baru?

Satu per satu tanda tanya akan terjawab tatkala biji-biji kacang ijo berada di persimpangannya. Mengetahui nasibnya setelah memilih atau dipilihkan jalan yang akan dilalui. Yang bernasib ‘baik’ terserak di sebuah wadah yang terbuat dari anyaman bambu (besek) bersama. ‘Pasti’ rasa nyaman yang muncul meski terserak tetapi tetap berkoloni dan bernasib sama. Sesaat kemudian koloni ini disiram air dingin, segar.Itu cukup lambat laun melunakkan kerasnya kulit-kulit kacang ijo, karena ia memang sedang dikebiri menjadi kecambah. Dikebiri? Bukankah itu ditumbuhkan? Bukan, itu memang dikebiri, mereka ditumbuhkan tetapi dibatasi. Tubuh kecil kini dimiliki, untuk disebut kecambah selanjutnya. Mulia memang, karena mereka akan dinikmati orang-orang bersama sambal kacang. Hhmm.. nikmat.

Koloni lainnya juga agak bernasib ‘baik’ ketika mereka terserak ke dalam gelegakan air yang mendidih di wadah panci bertemu dengan gula dan santan untuk beberapa saat menjadi kolak kacang ijo. Mereka-mereka disebut bernasib baik karena diberi fasilitas memadai & memberi manfaat yang nyata saat itu juga. Setidaknya akan banyak yang menikmati kecambah di dalam pecel bersanding dengan kolak kacang ijo.

Mereka menempuh jalan untuk menjadi bermanfaat, dengan cara beramai-ramai. Dalam ketenaran, diketahui banyak orang, tak jarang pujian menghampiri cacian juga sering disandang ketika “rasa”tak sesuai lidah. Koloni biji yang berubah menjadi produk yang sama, diberi perlakuan, bermanfaat dalam jangka pendek, namun tetap saja mulia.

Dormansi, Jalur Kesenyapan Biji

Sekelompok lainnya yang terlihat nyeleneh terserak ke sudut-sudut tanah yang tak tampak mata. Keanehan tampak saat kebersamaan ditinggalkan, meski saat awal terserak tetap berkelompok, tetapi amatilah akhirnya. Mereka terserak sendiri-sendiri terisolir. Untuk beberapa saat tak jua masing-masing biji itu menemukan habitat yang pas. Sebuah proses yang teramat menyiksa tampaknya. Dormansi, orang-orang sering menyebutnya.

Sampai pada sebuah kondisi, ia sendirian di kegelapan. Ah ini akhir nasib kehidupannya. Ia merasa ia adalah biji yang bernasib paling ‘tidak baik’. Sendiri di kegelapan, tak kasat mata dan tak terperhatikan. Hingga pada titik kritis keluhannya, biji ini tersadar akan muruah diri dan moyangnya. Tidak! Berada sendiri di kegelapan tak terperhatikan bukanlah jalan menuju kemusnahan. Ini adalah jalan menuju kesejatian. Jalan yang diawali dengan proses dormansi yang konon membutuhkan banyak energi untuk mencapainya. Tetapi sungguh jalan ini teramat spesial. Tak biasa karena biji tersadar untuk menghimpun sebanyak mungkin energi, dari proses metabolisme tanpa henti dan berkelanjutan. Semakin banyak energi yang dikumpulkan, maka semakin cepat pula proses dormansi.  Proses meluluhkan kerasnya kulit untuk menumbuhkan kecambah tanpa terkebiri. Berjuang dari dalam diri, mengerahkan tenaga, tanpa terlihat oleh yang lain, bahkan ada yang mengira mati. Sendiri di jalan sunyi, ia bisa tumbuh merdeka, bergerak ke atas menyusun sel menjadi “tanaman” hijau yang menyejukkan hingga kemudian berbunga, berbuah yang mengandung biji-biji. Yang itu berarti memberi manfaat lebih luas daripada kawan-kawannya terdahulu yang konon bernasib ‘baik’ (menjadi pecel dan kolak).

Senyap, ketika jalan ini yang dipilih maka sebagai biji proses dormansi tidak bisa dihindari. Biji yang diibaratkan sebagai pemuda, berusaha memecah kerasnya biji, harus memiliki sikap keras. Bisa juga diartikan sebagai perlindungan diri, keras berarti tidak mudah terpecahkan, walaupun terinjak, atau jatuh menggelinding sekalipun tidak mudah rusak. Begitulah pemuda seharusnya, tangguh, tidak mudah menyerah, dan memiliki sikap pejuang ketika jatuh maka akan tetap stabil. Pun kulit juga memiliki sifatnya sendiri, dimana tidak mudah menyerap segala sesuatu. Yang bersifat semipermeable yaitu menyeleksi atau hanya bisa menyerap hal-hal tertentu seperti air. Air dibutuhkan untuk tumbuh, saat dormansi malah tidak dbutuhkan. Tetapi biji memang harus fokus terhadap proses metabolisme (production of energy), mereka sedang berpuasa sejenak. Sebagai pemuda, sifat seperti kulit biji ini nampaknya baik untuk diilhami, yang tidak mudah mengikuti arus jaman, tetapi memiliki integritas terhadap apa yang sedang dipilih dan ditekuninya. Pun pada saatnya biji itu, harus melunakkan diri setelah mengeraskan diri, dan berpuasa. Mereka menuai hasil dari peragian setelah menabung cukup lama di jalan sunyi. Tumbuh, mulai menampakkan diri untuk kehidupan selanjutnya yang baru. Berbagi dalam skala yang luas, karena yang diberikan adalah hasil yang mentah untuk diolah menjadi matang dan menarik. Pun pemuda, selain tangguh dan berintegritas, maka selayaknya tidak hanya mampu merendam diri dalam kubangan kesunyian. Namun, juga mulai melunakkan diri, membuka jalan untuk mengalirkan kubangan yang telah dibuatnya.

Biji kacang ijo itu, hari ini terserak luas di hamparan bumi Nusantara bernama pemuda. Yang tentunya dapat memilih jalannya sendiri. Menjadi produk yang diolah secara komunal, dan berakhir pada kepuasan yang dirasakan orang-orang (pecel dan kolak). Atau memilih jalan sunyi, yang nantinya akan menghasilkan biji lagi, dan berujung pada life cycle. Semua bergantung kepada pengenalan muru’ah dirinya, serta kemampuan mengenali personalitas diri atau mengetahui apa yang telah dimilikinya. Karena jalan manapun yang dipilih tetap memiliki manfaat dan kemuliaan masing-masing. Yang kurang baik adalah, yang tidak memilih jalan, dan tidak berproses menjadi apa-apa. Let’s fight youth! Hidup ini sepi, tanpa irama perjuanganmu..

Penulis : Firza Dwi Hasanah
Foto : pondokibu.com

SHARE
Previous articleDataran Lantai yang Landai
Next articleMasterpiece

LEAVE A REPLY