Titik. Kecil, tapi penuh arti. Apalah artinya ba’, ta’, tsa’ jika tanpa titik. Apalah artinya tanda seru, jika tanpa titik. Apalah artinya c(i)nta jika tiadalah titik. Ah, lagi-lagi tentang titik. Tanpa titik pun, aksara tak akan begitu menggoda. Aksara hanya tinggal aksara tanpa makna. Atau, mungkin justru tak akan ada aksara. Masih ingat bukan, bagaimana dulu kita mulai belajar menorehkan tinta di atas lembaran-lembaran kertas putih nan bersih? Baiklah, mungkin sudah mulai banyak yang lupa. Kalau begitu, coba sekarang kita gali kembali memori yang sudah lama terkubur rapi. Kira-kira, dulu waktu kita mulai belajar menulis, apa yang pertama kali kita tulis? Pun juga ketika kita mulai menggambar. Kira-kira apa yang pertama kali kita torehkan di atas lembaran kertas saat kita mulai menggambar? Kalau ternyata masih lupa, coba sekarang kita praktekkan saja. Sudah kan? Dan ternyata, semua berawal dari sebuah titik, bukan? Sebuah titik yang kemudian digerakkan menjadi huruf H, menjadi gambar ayam, dan lain sebagainya. Yang jelas, semua berawal dari sebuah titik.

Titik juga dapat ditemukan di mana-mana. Di dalam komunitas tepung, pasir, gula, garam, dan yang lainnya. Pernahkah sejenak kita mengamati titik-titik itu? Titik-titik tepung, misalnya. Entah itu tepung roti atau tepung terigu. Ia bisa saja mengajak teman-temannya untuk mengemas sebuah pisang yang biasa saja, menjadi pisang krenyes yang ayu dan mantap rasanya. Ia juga bisa menyulap dirinya menjadi kue-kue yang sangat menggoda. Tapi, tak selalu baik juga nasibnya. Ia bisa saja memperkecil daya adhesinya (daya lekat zat sejenis). Hingga, ia pun akan tercerai berai, memisahkan diri dengan kerumunan teman-temannya. Terserak di lantai yang sejurus kemudian akan tersapu entah ke selokan, tempat sampah, ataupun tempat yang lainnya, tanpa sempat mencari makna. Bahkan, sangat mungkin ia akan beroleh bonus umpatan dan segala sumpah serapah.

Bergerak Mencari Makna

Seorang pemuda tak ubahnya sebuah titik. Ya, satu titik. Dan titik sendiri tak lain adalah sesuatu yang berdimensi satu. Begitulah matematika pernah bercerita.

Entah ia mau terserak musnah begitu saja, atau menjadi awal mula pembaharuan peradaban, semua tergantung marwahnya, nilai dirinya. Pada titik yang begitu kuat marwahnya, meski ia telah terserak ke segala arah, ke Malang, Blitar, Pasuruan, Probolinggo, atau hingga ke Jerman sekalipun, ia tak akan tergerus arus, apalagi mampus. Titik-titik itu terserak bukan untuk musnah, melainkan menempati koordinat-koordinat-Nya untuk membentuk dimensi baru.

Setidaknya, ketika dua titik yang tertancap kukuh pada koordinatnya, ia akan menciptakan sebuah garis ataupun kurva. Ya, ia akan menciptakan sesuatu yang berdimensi dua. Dan jika garis tersebut terus bergerak pada bidang koordinat yang sama, atau dia mengajak teman-teman yang lainnya untuk bekerja sama dalam mencipta, maka ia pun akan bisa menjadi sebuah bangun yang lebih bermakna. Menjadi persegi, lingkaran, segi tiga, ataupun bangun yang lainnya.

Sesuatu yang berdimensi dua itu pun juga masih sangat berpotensi untuk menciptakan dimensi baru. Katakanlah sesuatu yang berdimensi dua itu menempati koordinat di suatu bidang dengan sumbu x dan y. Maka, di mana pun posisinya, ia bisa saja mengupayakan dirinya untuk naik, bergabung dengan titik yang telah menempati koordinat pada sumbu z. Hingga terciptalah sesuatu yang baru, sesuatu yang berdimensi tiga. Begitu pun seterusnya, sesuatu itu masih bisa terus bergerak menaikkan dimensinya. Menjadi sesuatu yang berdimensi empat, lima, enam, dan seterusnya.

Sekali lagi, jika seorang pemuda tak ubahnya sebuah titik, maka pemuda pun seharusnya juga bisa terus mengupayakan kebermanfaatan. Dan jika semua berawal dari sebuah titik, maka di tangan para pemuda pula lah nasib bangsa kita. Apakah pemuda kita lebih memilih untuk terserak untuk musnah tanpa mencari makna, ataukah lebih memilih terserak untuk menempati koordinat-koordinat-Nya dan memulai untuk membentuk dimensi baru, membentuk peradaban baru. Yang jelas, semua tergantung pada nilai dirinya. Semakin ia meningkatkan nilai dirinya, mengasah potensi diri lalu menyedekahkan dirinya untuk kebermanfaatan bersama, maka bukan tidak mungkin bangunan peradaban elok yang dulu sempat terbangun, kini mulai bisa dibenahi kembali.

Sekali lagi, jika sebuah titik yang berdimensi satu tersebut diibaratkan seorang pemuda. Ya, pemuda nusantara yang berkarakter garuda. Maka ia tak akan gentar dalam kesendiriannya. Ia akan selalu siap di mana pun koordinat yang dipilihkan untuknya. Di manapun ia diperjalankan, ia akan selalu berusaha untuk tetap tebarkan kebermanfaatan bagi yang lainnya. Selalu berusaha untuk memperkuat marwahnya, nilai dirinya. Memperindah sekelilingnya. Toh, sendiri bukan akhir dari segalanya. Justru sendiri mampu menjadi awal, mencari kawan lalu bersama membangun peradaban.

Bersama dalam Keindahan

Bersama, kedengarannya sesuatu yang indah. Bagaimana tak indah jika titik-titik tepung yang dengan kebersamaannya mampu menyulap sebuah pisang jelata menjadi pisang kremes yang jelita. Bagaimana tak indah, jika titik-titik tepung yang bersama mampu menyulap dirinya menjadi kue menawan yang sangat menggoda. Bagaimana tak indah, jika dengan kebersamaannya titik-titik itu mampu menjelma menjadi kurva yang indah dan syarat akan makna.

Jika boleh mengibaratkan, peradaban tak ubahnya sebuah tatanan multidimensi. Berapa pun dimensinya, selalu dimulai dari dimensi satu. Dan dimensi satu tak akan mampu menjelma menjadi dimensi dua, tiga, dan seterusnya jika ia hanya memikirkan dirinya saja. Tetap kekeh dengan kesendiriannya, dan abai dengan sekitarnya. Dimensi satu akan mampu menjelma menjadi tatanan multidimensi jika ia mau sedikit mengalah, menurunkan ego dan berbaur dengan yang lainnya mencipta dimensi baru yang lebih bermakna.

Sebuah tatanan peradaban yang tidak akan bisa terlepas dari yang namanya sopan santun, budi bahasa, dan kebudayaan suatu bangsa akan bisa dibangun jika para pemuda itu mau dan mampu bersatu. Memaklumi perbedaan untuk saling mengisi kekosongan. Bukankah untuk menjadi sepotong kue yang indah rasa dan rupanya pun tak hanya membutuhkan tepung terigu saja? Ya, kue itu tak akan menjadi kue yang sedap dipandang dan dirasa jika ia hanya terdiri dari tepung saja. Ia masih membutuhkan gula, telur, dan bahan-bahan yang lainnya untuk berpadu mengolah rasa.

Melebur dalam Titik Yang Sejati

Maka, yang juga tak kalah penting untuk dilakukan adalah memahami koordinat di mana ia berada kini. Menerimanya dengan lapang dada. Meskipun terkadang tak sesuai dengan harapan dan cita. Karena tugas pemuda memang bukan untuk membanggakan koordinatnya, tapi memunculkan sesuatu yang istimewa, meski dari koordinat yang biasa-biasa saja. Mengharumkan sekitar, meski tak berasal dari koordinat yang kaya akan wewangian. Memperindah sekitar, meski ia berasal dari koordinat yang nampak tak indah.

Terus mendekat pada titik Yang Sejati menjadi jalan pintas agar ‘suara-suara’ itu mampu didengar lebih jelas. Terus mendekat pada-Nya agar indera pun lebih peka untuk ‘mendengar’ dan ‘melihat’. Mendekat dan mengupayakan cinta kasih-Nya, hingga Ia sendiri akan candu untuk bercerita banyak hal pada kita. Hingga Ia pun akan sedih dan sangat menyesal jika tak menolong kita. Walhasil, Ia pun tak akan segan untuk memperlihatkan keagungan dan cinta kasih-Nya melalui diri kita. Setiap apa yang keluar dari kita adalah dari-Nya. Tiadalah ada yang keluar dan terjadi pada diri kita selain atas izin dan kuasa-Nya. Jika sudah demikian, adakah yang mustahil untuk terjadi? Bukankah tak ada yang tak mungkin, jika semua sudah menjadi kun-Nya?

Meski untuk mempermudah bukanlah menjadi tujuan kita mendekat dan melebur dengan-Nya, tapi setidaknya itu hanyalah gambaran akan keindahan-keindahan yang disuguhkan, jika kita selalu diberi kesempatan untuk mendekat pada-Nya. Tiadalah ada anugerah yang indahnya melebihi kedekatan kita dengan Sang Maha. Maka, untuk menciptakan peradaban layaknya tatanan multidimensi, selain mencoba memahami koordinat dan terus bergerak mencari makna, maka mendekat dan melebur pada titik Yang Sejati pun juga tak kalah utama. Ya, menjadi ‘titik’ yang terus mengupayakan kebermanfaatan sebaik-baik dan sebanyak-banyaknya sebagai nunutan dari titik Yang Sejati.

Penulis : Hilwin Nisa’

SHARE
Previous articleDataran Lantai yang Landai
Next articleMasterpiece

LEAVE A REPLY